Search
Close this search box.

REFLEKSI | Hening di Ambang Fajar Pertama

Bagikan :

  • Menahan Lapar, Melepas Liar

Oleh Didi Subandi

Lokasi: Cimenyan.

Waktu: Kamis, 19 Februari 2026. Pukul 04.10 WIB.

Suasana: Piring-piring kotor sudah menumpuk di wastafel. Gelas air putih terakhir sudah tandas. Di luar, langit masih gelap gulita, tapi udaranya berbeda. Ada aroma “Rindu” yang akhirnya tuntas.

SAHUR pertama itu rasanya seperti Start lari marathon.

Kita baru saja mengisi “bensin” penuh-penuh. Bukan karena lapar, tapi karena takut.

Takut nanti lemas. Takut nanti haus. Takut tidak kuat.

 

Manusiawi sekali. Kita masih berpikir dengan logika perut.

 

​Tapi sekarang, duduklah sejenak di teras atau di sajadah.

 

Dengarkan suara sirine Imsak atau tarhim dari masjid yang sayup-sayup itu.

 

Ngiiiing…

​Itu bukan sekadar tanda berhenti makan.

Itu adalah Peluit Peringatan.

 

Bahwa mulai detik ini, “Binatang” di dalam diri kita harus masuk kandang.

 

​1. Logika yang Dibalik

Sebelas bulan kita hidup dengan logika: “Lapar makan, haus minum, marah lampiaskan.”

Mulai subuh ini, logika itu dibanting: “Lapar tahan, haus sabar, marah telan.”

​Ini bukan penyiksaan. Ini adalah Pelatihan Kedaulatan.

Kita diajari untuk menjadi “Raja” atas tubuh sendiri.

Raja tidak diperintah oleh rasa lapar. Raja tidak disetir oleh emosi sesaat.

 

​2. Kopi Terakhir yang Sakral

Lihat cangkir kosong di meja.

Tetesan terakhir tadi rasanya beda, kan? Lebih nikmat, lebih berharga.

 

Ramadhan mengajarkan kita Seni Menghargai.

Kemarin, segelas air hanyalah rutinitas. Hari ini, seteguk air adalah kenikmatan yang mahal.

Kita butuh “Jarak” (puasa) untuk bisa kembali mencintai nikmat-nikmat kecil yang selama ini kita remehkan.

 

​3. Langit Mulai Membiru

Sebentar lagi Fajar Shadiq akan muncul.

Baca Juga :  Jadwal Sholat Kabupaten Bandung 14 April 2026: Waktu Lengkap & Tips Ibadah

Garis putih di ufuk timur itu adalah batas.

Batas antara keinginan makhluk dan perintah Khalik.

 

​Tarik napas panjang. Rasakan udara subuh yang bersih ini.

 

Niatkan di dalam hati yang paling dalam:

​”Ya Allah, hari ini aku memulai perjalanan 30 hari ini.

Bukan sekadar untuk mengosongkan perut dari nasi, tapi untuk mengosongkan hati dari benci, iri, dan sombong yang selama ini berkarat.”

​Selamat datang, Ramadhan.

Selamat datang, Diri yang Baru.

Renungan Subuh Pertama di Cimenyan

Baca Berita Menarik Lainnya :