REFLEKSI | Iblis itu Lemah Kita Itu Kuat

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

IBLIS sebagaimana yang kita ketahui, mahluk ciptaan Tuhan yang dijadikan dari bara api yang membara.

Kita tahu api ?
Yaa, ia mampu membakar apapun.
Yang ada di depan matanya, tak ayal akan habis dilalap, tampa ampun, tampa tedeng aling aling…itulah api yang membakar.

Nafsu itu, meluap-luap, ia mendidih, bergolak, dan seperti halnya api, ia mampu menghanguskan, dan membakar pikiran rasional, siapapun yang sedang dalam pengaruh nafsu.

Nafsu…
Ia akan membuat orang waras menjadi gila, tak rasional, dan emosional !!

Seperti halnya iblis…
karena ia penuh nafsu, cepat marah, dan emosional, ia yang semula paling taqwa pada Allah, lantas berubah 1000% jadi pembangkang, tak mau mendengar …

Tak mau menuruti titahnya Allah, untuk hanya sekedarnya bersujud pada Adam, mahluk yang Allah Ciptakan, dari saripati tanah.
Iblis tak mau tunduk, ia membangkang apa yang diminta Allah.

Itu lah Nafsu…iblis sudah kalah oleh nafsunya sendiri, ia lemah karena tak bisa berpikir jernih, sehingga akhirnya jadi terhina dan terlaknat.

Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asyari bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Musuhmu bukanlah orang yang jika membunuhmu, maka Allah SWT memasukkanmu ke dalam surga; jika kamu membunuhnya, maka kamu memperoleh cahaya-Nya. Namun, musuhmu yang paling berbahaya justru hawa nafsu yang ada di antara lambungmu, lalu anakmu yang keluar dari tulang rusukmu, istrimu yang kamu gauli, dan sesuatu yang kamu miliki.” (HR. Al Baihaqi)

Lantas kita bagaimana ?
Kita itu manusia hebat !
Dibekali oleh nabi kita satu wasiat yang bisa tetap, membuat kita jadi mahluk mulia, dan jadi manusia bertaqwa…

Baca Juga :  Sampah Berserakan di Objek Wisata, Wabup Garut Ajak Masyarakat untuk Jaga Lingkungan

Nabi kita hebat
Kelemahan Iblis,telah beliau jadikan pelajaran.

Dan sekarang…
Kekalahan Iblis atas Nafsunya, itu jadi pegangan kuat buat kita.

Bahwa, perang terbesarnya kita, bukan dengan manusia, bukan dengan iblis, tapi, berperangnya kita, yaitu melawan hawa nafsu diri sendiri, dan perang abadinya kita, yaa melawan itu, “Hawa Nafsu !” di mana perang kita itu, tak akan pernah berakhir, bahkan sampai kita menjelang ajal menjemput.

Sekarang…
Maukah kita angkuh, sombong dan jadi hina,” Laknatulloh, ” seperti iblis ?
Jika mau seperti itu…
Pilihan kita, atas nafsu, cenderung telah mengelabui kita untuk kenikmatan sesaat.

Atau…
Kita mau mulia seperti halnya para Nabi, orang-orang Soleh, para Aulia, dan wali?
Jika mau seperti itu…
Lawan nafsu kita, dan perangi ia !!

Alhamdulillah, kita lebih hebat dan kuat dari Iblis, karena kita terus memerangi hawa nafsu kita.

Dan untuk memerangi nafsu kita, maka hendaklah kita;

1. Melawan dengan terus mengali petunjuk agama, agar kesadaran kita terus ada, dan kita mampu selamat baik di dunia dan akhirat.

2. Mengamalkan ajaran agama
Hawa nafsu dapat dilawan dengan mengamalkan ajaran yang benar.

3. Mengajarkan dan mengamalkan agama, melakukan syiar kepada yang belum mengetahui, agar ilmu baru, Allah terus tambahkan kepada kita.

4. Melawan dengan kesabaran
Sabar merupakan kunci dalam mengendalikan hawa nafsu. Tanpa kesabaran, seseorang dapat terjerumus dalam jurang kemaksiatan dan dosa.

5. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan, sehingga Iman selalu hadir, dan nafsu, selalu terkontrol baik, karena kita selalu ada dalam keadaan bersyukur.

Semoga dengan kita terus bergulat, dan memerangi nafsu, kita semua bisa menjadi hamba yang mampu mendapat kemuliaan, dan ke Istiqomahan melawan hawa nafsu kita tersebut.

Baca Juga :  CEK FAKTA: Hoaks Foto Pele Menangis di Makam Diego Maradona

Insyaallah kitalah pemenangnya.
Kita kuat, kita tak lemah!!

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MUI: Demo, Kritik untuk Memperbaiki Bukan untuk Membenci

Rab Apr 13 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BOGOR – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) , KH Marsudi Syuhud menyebut bahwa aktivitas demo sebagai kritik. Beliau mengibaratkan kritik seperti halnya vaksin Covid-19. Aksi demo atau kritik yang dilakukan oleh siapa pun harus bersifat atau bertujuan untuk membangun atau memperbaiki. “Kritik yang membangun adalah […]