REFLEKSI | Idul Fitri dan Kearifan Diri

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

IDUL FITRI merupakan ujung dari capaian penggodogan diri kita selama satu bulan penuh menjalani puasa di bulan suci Ramadan. Ia datang membawa kegembiraan, kedamaian, dan keberkahan.

Semua umat Muslim pastinya sangat bergembira, dan akan mempersiapkan diri memasuki awal bulan Syawal untuk lebih baik nanti menjalaninya, setelah berlatih menempa dirinya, di bulan Ramadan ini.

Apa yang harus di persiapkan oleh kita dalam mempersiapkan hari raya Idul Fitri itu ?

Untuk umat Muslim, yang akan mengakhiri bulan Ramadan dan akan memasuki hari raya Idul Fitri, ada beberapa adab yang bisa di jadikan rujukan, agar kekhidmatan kita menghormati akhir Ramadan menjadi keberkahan.

Salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali. Seperti yang tercantum dalam risalahnya yang berjudul, al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali.
Berikut penjelasan lengkapnya:

Menghidupkan suasana di malam sebelumnya

Menjelang lebaran, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan suasana di malam hari sebelum Idul Fitri.

Hal ini dapat dimaknai bahwa muslim harus sebisa mungkin menghidupkan malam, dengan menyibukkan diri terlebih dahulu dengan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan pelaksanaan Idul Fitri.

Selain itu, seperti kebiasaan umat Muslim di Indonesia, berkegiatan menabuh bedug dan takbiran di masjid, merupakan salah satu cara menghidupkan suasana menyambut Hari Raya tersebut.

Mandi Sebelum Salat Idul Fitri

Sebelum sholat Idul Fitri, disunnahkan mandi di pagi hari dengan mengguyur seluruh tubuh, dari rambut dari kepala hingga telapak kaki. Ini juga sesuai dengan fatwa dan anjuran MUI tentang amaliah sunnah Idul Fitri.

Membersihkan Badan dan Memakai Wewangian

Muslim diajurkan juga untuk memotong dan membersihkan kuku, memakai pakaian bersih, serta menggunakan parfum, memakai wewangian, atau bedak wangi. Ini juga bisa dilakukan dengan memakai sabun wangi ketika mandi.

Membaca Takbir

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan takbir secara khusyuk.

Baca Juga :  Calon Bupati Bandung Dadang Supriatna Langsung Terjunkan Backhoe Keruk Sungai Cikeruh

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allahu Akbar (Allah Maha Besar)

Membaca Dzikir

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan dzikir seperti berikut ini:

اَ إِلَهَ إِلاَّ الله

Lâ ilâha illallâh (Tiada Tuhan selain Allah)

Membaca Tasbih

Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih.

سُبْحَانَ اللَّهِ

Subhânallâh (Maha Suci Allah).

Membaca Hamdalah

Umat muslim dianjurkan untuk membaca hamdalah di antara takbir yang diulang-ulang.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَر وللهِ الْحَمْدُ

Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, Lâ ilâha illallâh, Allâhu akbar, wa lillâhil hamdu (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan Selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan Segala puji bagi Allah)

Menyantap Makanan Sebelum Sholat Idul Fitri

Saat Idul Fitri, umat Muslim dianjurkan menyantap makanan ringan terlebih sebelum melaksanakan salat Id. Ini menjadi penanda bahwa bulan Ramadan benar-benar telah berakhir dengan tibanya bulan Syawal.

Bertegur Sapa

Umat Islam hendaknya bertegur sapa dengan ramah ketika bertemu dengan orang lain. Hal ini menandakan kegembiraan umat Islam di hari raya, sekaligus untuk menghindari gunjingan.

Adapun 5 hal yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi Idul Fitri;

1. Memperbanyak Amalan Bacaan Takbir

Cara Rasulullah dalam merayakan Idulfitri yang pertama adalah memperbanyak bacaan takbir.
Dalam hal ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah membaca dan mengumandangkan takbir di malam terakhir Ramadan hingga hari pertama di bulan Syawal.

Anjuran ini pun diperintahkan Allah yang tercantum dalam Q.S Al Baqarah ayat 185, yaitu sebagai berikut :
“Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.”

Bagi kita dan siapa saja yang akan memasuki hari raya idulFitri, memperbanyak menyebut nama Allah dengan bertakbir, untuk membesarkan nama Allah, maka kita akan mendapatkan kebaikan untuk menjemput rahmat dari-Nya. Bukan hanya itu, dari ayat tersebut juga dapat dipahami, bahwa orang-orang yang bertakbir mengagungkan nama Allah, adalah termasuk golongan orang yang bersyukur.

Baca Juga :  Poros Islam Terbentuk, Bisa Gandeng Susi atau Gatot

2. Memakai Pakaian Terbaik

Cara Rasulullah merayakan Idul Fitri berikutnya adalah memakai pakaian terbaik. Dalam mempersiapkan hari raya Idul Fitri, Rasulullah selalu mandi terlebih dahulu, lalu memakai pakaian yang bersih dan rapi, juga menggunakan wangi-wangian. Hal ini pun dijelaskan dalam salah satu hadist riwayat yaitu Al Hakim.

Mandi, lalu memakai pakaian terbaik, dan menggunakan wangi-wangian bisa menjadi salah satu amalan sunah yang dapat kita terapkan setiap kali merayakan Idulfitri.

Sehingga kita bisa menyambut hari raya dengan perasaan gembira, namun juga mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk merayakan hari kemenangan setelah melewati bulan Ramadan ini.

3. Makan Sebelum Sholat Idul Fitri

Cara Rasulullah merayakan Idul Fitri selanjutnya dengan makan sebelum melaksanakan saalat Idulfitri. Seperti diketahui, bahwa terdapat anjuran untuk makanan terlebih dahulu sebelum mengerjakan shalat sunah Idul Fitri di pagi hari, hal ini untuk menandai adanya pembeda, sebagai awal masuknya bulan Syawal. Rasulullah biasanya mengonsumsi buah kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat menunaikan ibadah shalat Idul Fitri. Hal ini pun disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Bukhari: “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

4.Melaksanakan Salat Idul Fitri

Melaksanakan salat Idul Fitri juga menjadi salah satu cara Rasulullah merayakan Idul Fitri yang biasa dilakukan. Rasulullah melaksanakan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, baik laki-laki, perempuan, hingga anak-anak.

Saat menuju tempat salat, Rasulullah memilih jalan yang berbeda saat pergi maupun pulang dari tempat salat. Ini menjadi salah satu anjuran sunah yang dapat mendatangkan banyak pahala.

Rasulullah biasanya mengakhiri pelaksanaan salat Idul Fitri saat matahari sudah berada setinggi tombak atau sekitar 2 meter. Ini menjadi waktu yang baik untuk umat Muslim menunaikan zakat fitrah yang menjadi salah satu ibadah wajib.

Baca Juga :  Operasi Ketupat Semeru 2022 Angka Kecelakaan di Jatim Turun 50 Persen

Dengan menunaikan kewajiban zakat, umat Muslim bisa berbagi dengan sesamanya dengan baik.

5. Mengunjungi Rumah Sahabat

Cara Rasulullah merayakan Idul Fitri yang terakhir dengan mengunjungi rumah sahabat, dan familinya.
Dalam hal ini, Rasulullah mengunjungi rumah sahabat dan familinya, dengan tujuan untuk memelihara silaturahmi. Begitu pula dengan para sahabat saling mengunjungi, dan turut berkunjung ke rumah Nabi untuk bersilaturahmi.

Selain bersilaturahmi, Rasulullah dan para sahabatnya juga, sama-sama saling mendoakan, agar ibadah Ramadan yang dilakukan diterima Allah dan hari-hari setelah Ramadan dapat dijalani dengan lebih baik.

Tradisi berkunjung ke rumah saudara dan teman saat Idul Fitri adalah hal yang baik, untuk membangun silaturahmi, dan memperkuat ukuwah Islamiah. Ini telah menjadi hal lazim di lakukan oleh umat Muslim khususnya di Indonesia, sehingga suasana kegembiraan dalam merayakan hari raya, tercermin penuh rasa kegembiraan, dan kedamaian. Bagi umat Muslim Indonesia juga, biasanya berkumpul bersama keluarga adalah hal wajib yang harus di lakukan, dan untuk memperingati momen tersebut, sanak famili, seluruh keluarga yang ada di luar kota, akan datang ke kampung halamannya, untuk menemui ayah ibu, handai taulan, dan keluarga besarnya.

Hari raya idul Fitri yang akan kita jelang, sesungguhnya memiliki makna membangun dan membentuk ke arifan diri, keluhuran budi pekerti, kehalusan rasa, dimana kita diajarkan meluruhkan hal yang tercela, yang sebelumnya ada dalam diri kita, dan menganti serta mengawalinya dengan membangun segala potensi kebaikan baru, untuk bulan-bulan selanjutnya, dan selama-lamanya.

Dan untuk hal itu, semoga kita selalu diberi kearifan, kebaikan Iman dan ketaqwaan, jauh dari hasut, iri dan dengki, dan bisa saling maaf, memaafkan, semoga Allah hadirkan kebarokahan, kekuatan, serta kesehatan kepada kita semuanya… amin, amin ya rabbal alamin.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Mencintai Al Quran Dapat Dimulai dengan Mengenalkannya Sejak Dini

Ming Mei 1 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa qari cilik Indonesia merupakan bagian penting proses pengenalan Al Quran di usia dini kepada seluruh generasi bangsa. Hal ini disampaikan Menag saat menghadiri Grand Final Qari Cilik Indonesia yang digelar Ajwa TV bekerja sama dengan Liputan 6 SCTV […]