REFLEKSI | Idul Fitri dan Budaya Kita

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

HARI ini kita masuk pada bulan Syawal, dimana seluruh umat Islam di segala pelosok dunia, merayakan hari ini sebagai hari raya kemenangan, ‘IdulFitri’ atau kembali ke fitrah, kesucian diri. Dan untuk orang Indonesia, hari raya idulFitri ini, lebih dikenali dengan Istilah, “Lebaran.”

Suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil riuh terdengar menghiasi hari raya IdulFitri ini. Berikut penjelasan arti IdulFitri sehingga kerap juga dijuluki sebagai hari kemenangan.

Arti Idul FItri

Idul Fitri berasal dari kata Id yang berakar pada kata aada-yauudu yang artinya kembali. Sedangkan fitri diartikan sebagai suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, serta keburukan yang diambil dari kata fathoro-yafthiru.

Idul Fitri atau Lebaran, menjadi puncak kegembiraan, puncak
kebahagian, yang pastinya dirayakan di mana-mana, dengan segala ungkapan yang sangat meriah dalam penyambutannya, serta banyak sekali ditaburi berbagai dispensasi, maupun kebijakan, di berbagai sektor, dalam mempersiapkan diri, untuk menuju ke hari yang menjadi puncak kebahagian itu.

Semua seakan wajib untuk merayakan hari raya kemenangan umat Islam ini, sehingga euforianya terasa baik 4 hari sebelum hari raya itu, dan 3 hari setelahnya, bahkan juga ada yang lebih dari itu.

Sebelum hari raya, umat khususnya yang menjadi pekerja di berbagai sektor swasta, mendapat berkah, dengan menerima tunjangan hari raya,”THR”, begitupun untuk PNS.

Perusahaan, maupun pemerintah daerah dan pusat, berpartisipasi menyiapkan bus gratis untuk para pemudik, yang akan pulang ke kampung halamannya.

Potongan-potongan harga, atau diskon khusus, diberikan oleh berbagai platform belanja online, mereka aktif saling berebut pangsa pasarnya, tentunya, dengan memberikan diskon menarik yang sangat mengiurkan konsumen.

Sehingga kadang, barang yang awalnya tak ingin dibeli, malah akhirnya kita beli, sedangkan di berbagai tempat, pasar murah, di gelar dimana-mana, semuanya dibuat, untuk membantu para konsumen memenuhi kebutuhan yang ia perlukan.

Baca Juga :  Dandim 0624: Pilkada Jangan Dibuat Tegang dan Bingung, Enjoy Saja

Keberlimpahan menyambut Idul Fitri itu, sungguh seperti cendawan di musim hujan, semua bersemi, semua mendapat keberkahannya masing-masing.

Lantas harus bagaimana sikap kita, menghadapi hari yang fitri, di saat situasi masih dalam pandemi ini ?

Dalam situasi yang masih ada di masa pandemi ini, setidaknya kita masih harus ingat pada protokol kesehatan…dan sepertinya, anjuran pemerintah ini harus tetap diperhatikan, sebagai langkah kita mengantisipasi kemungkinan yang terburuk, dan dengan antisipasi itu, paling tidak, kita menutup celah tidak terjangkiti pandemi kembali.

Saling memaafkan kebiasaan baik yang terpuji.

Inilah yang menjadi kebiasaan baik dari umat Muslim Indonesia, yang bisa jadi tak sama dengan negara lain di wilayah Asia tenggara ini.
Ada warisan budaya yang mengikat kuat, di samping kita mendapatkan kebahagian dengan datangnya IdulFitri, kebiasaan Muslim di Indonesia, adalah saling mengunjungi sanak famili, tetangga terdekat, untuk silaturahmi saling maaf memaafkan, satu sama lainnya. Ini adalah hal terindah, momen melepas hal yang buruk, sebagai perbaikan ahlaq kita kedepannya.

Ada yang mempertanyakan, kenapa memaafkan harus dikhususkan pada Idul Fitri fitri saja ?
Padahal hari lainnya pun bisa.

Menjawab itu, penanya mestinya melihat, hal yang serempak dilakukan secara kolosal, momennya memang hanya ada pada saat di puncak awal Syawal itu, pada perayaan hari raya Idul Fitri ini.
Di mana, hampir puluhan juta orang, kembali ke kampung halamannya, untuk bersilaturahmi dengan sanak familinya.

Kita harus bisa berpikir bijak, dalam perayaan yang monumental ini, jangan sampai ternodai oleh statement yang seakan memojokan perayaan sakral saling memaafkan itu, seakan sesuatu yang dianggap mengada-ada.
Sesuatu yang sebenarnya salah kaprah !

Sudah mulai ada yang berusaha mengiring opini umat ke arah sesuatu yang sia-sia, dengan hal baik yang kita lakukan untuk saling memaafkan diperayaan Idul Fitri ini.

Baca Juga :  YLKI dan Komnas PA Dukung Pelabelan Kemasan Plastik Mengandung BPA

Seperti apa yang kita bisa baca dari group WA, yang membuat kita miris membacanya, dan tak habis pikir, untuk memahami jalan pikiran mereka yang menebar rasa kritis, yang tidak pada tempatnya itu.

Apa maksudnya ?
Mengapa memunculkan pemikiran kontra produktif !
Yang sudah baik di anggap tidak pantas !
Dan ini tentunya jadi bahan keprihatinan kita.

Atas apa yang umumnya Muslim Indonesia lakukan.
Muslim harus bersatu memegang teguh prinsip yang sudah baik ini, dan tak usah terpengaruh apa yang diopinikan.
Prinsip kita sudah benar, memaafkan mendatangkan keberkahan,dan melunaknya hati.

Lainnya ucapan minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, merupakan suatu ungkapan simbolisme, dari satu individu ke individu lainnya, karena kesalahan kita secara lahir, bisa timbul sebagai sebuah dosa, hanya dari cara kita menatap orang, mengerenyitkan kening, memainkan bibir, alis, mimik dan gesture, yang bisa jadi itu tak disadari, bahwa sebenarnya apa yang kita lakukan bagian dari sebuah ungkapan sombong kita, yang menganggap rendah orang lain dibanding kita.

Dan akan sangat berdosa, jika itu sampai terlontar dalam ucapan, maupun tulisan yang menyakitkan kaum Muslim umat Rasulullah, baik yang kita kenali, maupun yang tidak.

Dan kesalahan bathinnya, yang menjadi sebuah dosa, adalah lintasan hati, yang tiba-tiba datang, lantas kita ujub, merasa superior, lebih hebat, lebih berilmu, lebih kaya, lebih berpengaruh, dan setumpuk perasaan lainnya yang membuat hati kita yang seharusnya lembut, halus, suci jadi ternodai, itulah kesalahan batin yang tak nampak, namun kita menyadari semua yang muncul tersebut, sebagai penyakit hati kita yang harus kita hilangkan,dengan kita memohonkan maaf kepada orang lain, atas kesalahan yang tak mereka lihat.

Itulah makna dari, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin, yang sering kita ucapkan, kala kita bersalam salaman di hari yang fitri ini.

Baca Juga :  Agar Pekerja Mudik Lebih Awal, Wagub Minta Perusahaan Segera Cairkan THR

Menurut cendekiawan muslim Quraish Shihab dalam buku, “Lentera Hati Kisah dan Hikmah Kehidupan,” kalimat minal aidin wal faizin tidak memiliki makna yang pasti. Karena pemaknaannya tidak dapat merujuk pada Al-Qur’an maupun hadits.

Walau demikian, kata aidin dapat didefinisikan sebagai pelaku Idul Fitri. Kemudian, arti minal aidin secara bahasa berarti (semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali.

“Kembali di sini adalah kembali pada fitrah yakni, asal kejadian, kesucian, atau agama yang benar,” kata Quraish Shihab.

Sementara itu, kata al faizin merupakan bentuk jamak dari kata Faiz. Quraish Shihab mengatakan, kata tersebut bermakna orang yang beruntung.

Jadi, wal faizin juga dipahami olehnya sebagai harapan dan doa, agar kita, termasuk dalam orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridho Allah SWT, hingga kita semua mendapat kenikmatan surgaNya.

Secara lengkap, kalimatnya adalah ”ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin” yang artinya “semoga Allah SWT menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung”. Jadi, minal aidin wal faizin sendiri artinya adalah orang-orang yang kembali dan beruntung.

Yaa kalimat “ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin,” bagi kalangan sastrawan adalah bahasa sastra yang mengandung unsur majas, memberi penekanan lebih, sebagai sarana untuk memberi optimisme, dalam meraih kebaikan dunia dan akhirat.

Sebuah simbolisme, yang memberi nilai positif, dalam dinamika budaya kita, umat Muslim Indonesia, yang selalu menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal, sebagai suatu proses kematangan berpikir para leluhur kita, yang harus terus kita lestarikan.

sehingga entah siapa yang mengawali hadirnya kalimat minal aidzin wal faidzin ini, tapi, seyogyanya…kita patut berterima kasih, untuk semangat optimismenya, yang telah memotivasi kita menjadi manusia-manusia pemaaf, yang menemukan momentum kembali hadirnya kesucian diri, sehingga selalu menjadi orang-orang yang beruntung dalam setiap saatnya.
Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kerja Keras, Kerja Ikhlas, Dan Kerja Cerdas, Golkar Sukses Airlangga Presiden

Sel Mei 3 , 2022
Silahkan bagikanVISINEWS |BANDUNG – Ketua AMPG DPD Golkar Jawa Barat (Jabar) Reynaldi menegaskan kesiapan untuk terus melakukan konsolidasi guna menghadapi gelaran Pemilu 2024 dan siap menjalin komunikasi dengan sayap partai ditubuh parpol PPP dan PAN di Jabar. Hal tersebut bakal dilakukan guna melaksanakan salah satu perintah Ketum dan Ketua DPD […]