REFLEKSI | Jejak Adam 

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

MANUSIA adalah mahluk sosial, mahluk aktif, mahluk dinamis, yang Allah ciptakan untuk selalu harus bergerak.

Dalam kiprahnya manusia, diminta Allah jangan sampai berdiam diri, banyak di rumah, tidak melakukan sosialisasi.

Allah berkehendak pada manusia agar bisa memasuki tahapan proses-proses, yang setiap proses, demi prosesnya, menjadikan manusia menjadi lebih matang, lebih dewasa, lebih berpengalaman.

Hingga pada akhirnya dia menjadi manusia paripurna, yaitu manusia yang paling banyak berbuat maksimal, selalu memberi kebermanfaat diri, sarat kebaikan, dan penuh hal-hal luar biasa dalam berkiprah yang ia bisa bangun.

Sehingga pengalaman hidup yang ia alami, bisa menjadikannya, seorang yang bijaksana, adil, dan tokoh panutan…
Sosok contoh yang bisa ditiru…

Sebagai manusia tercerahkan, manusia unggulan, yang pada ujungnya ia bisa menjadi rujukan, banyak orang untuk menimba ilmu padanya.

Dari Al Qur’an, surat Al Jumu’ah, ayat 10:
Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.

Bertebaran, untuk mencari karunia Allah disini, maksudnya, gali banyak pengalaman, masuki wilayah-wilayah interaksi kehidupan, buat link-link interaksi pertemanan, buka jalur koneksi-koneksi yang bermanfaat…dan dari sini tentunya kita akan dibukakan banyak kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita.
Insyaallah.

Jika kita kembali melihat kata harus banyak bergerak (bertebaran lah) sampai kita menemukan apa yang dicari dari tujuannya, (karunia) kemudian banyak mengingat Nya, sehingga kita menjadi manusia beruntung.

Untuk hal di atas, itu seperti yang telah dicontohkan oleh moyang kita, manusia pertama, Nabi Adam, saat Allah turunkan ia ke bumi, saat ia dipisahkan dari Siti Hawa istrinya.

Baca Juga :  BRIN dan TNI AL Jajaki Kerja Sama Pembangunan Kapal Patroli

Nabi Adam terus bergerak, tak lelah beliau berusaha mencari dimana Allah turunkan pasangannya, istrinya tercintanya, Siti Hawa.

Pergerakan Adam di muka bumi begitu sangat spektakuler, semua daerah ia datangi.

Hingga beliau banyak melampaui daerah-daerah baru, menjelajahi hutan-hutan tak dikenal, masuk ke gunung-gunung, melewati ngarai, dan lembah, sampai harus menjelajah lautan, itu oleh Adam dilakukan.

Pergerakan Nabi Adam berbuah manis, hasil dari tak lelahnya beliau untuk terus bergerak, berhasil menemukan cinta sejatinya, Siti Hawa, di satu wilayah, yang dinamakan Jabal Rahman.

Jika kita meneladani Nabi Adam, yang mencontohkan kisah perjalanannya kepada kita

Harusnya kita malu, ketika kita hanya berpangku tangan…
Hanya menunggu keajaiban dari langit, yang tak mungkin terjadi ! Tampa kita berusaha dan melakukan ikhtiar seperti adam.

Nabi Adam saja terus berjuang dan melakukan pergerakan…
Bagaimana dengan kita ?
Yaa kita harus, dan wajib meniru seperti itu!

Sampai akhirnya, kita akan sampai pada tujuan kita.

Menjadi manusia paripurna, manusia agung, yang selalu berdarma suci….karena kita telah sampai pada mendapatkan karunia, Jabal Rahmah, “gunung kasih sayang”

Yaa… pergerakan kita harus sampai pada Jabal Rahmah!!
Artinya…
Jabal itu Gunung, Rahmah adalah kasih sayang.
Hingga ujung perjalanan kita, harusnya menjadikan kita manusia yang selalu memiliki sifat mengasihi dan menyayangi, tampa membedakan apapun, baik status, warna kulit, maupun agamanya apa !!

Itu yang Nabi Adam inginkan dari kita terus bergerak, mencari kebaikan, sampai akhirnya kita menjadi manusia yang paling besar mengasihi dan mencintai sesamanya, hanya karena Allah semata semuanya.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ayo Mampir ke 9 Tempat Oleh-oleh di Bandung

Jum Mei 6 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BANDUNG – Sehabis berpergian, rasanya kurang kalau tidak bawa buah tangan atau oleh-oleh untuk orang terdekat. Untuk Anda yang akan kembali dari Bandung, bisa coba melipir ke 9 tempat oleh-oleh berikut ya. 1. Kampoeng Radjoet Binongjati Berdiri sejak 1970-an, hasil rajutan di rajutan di Kampoeng Radjoet […]