Oleh Didi Subandi
PAGI di Cimenyan. Kabut masih menyelimuti bukit, dinginnya menusuk tulang. Di depan saya, ada sepiring nasi uduk hangat dan secangkir kopi. Uap nasi itu mengepul, mengingatkan saya pada dapur Ibu puluhan tahun lalu.
Tiba-tiba, telinga saya terngiang mantra masa kecil itu: “Habisin nasinya, Nak. Kalau sisa, nanti nasinya nangis.”
Dulu, saya tertawa mendengarnya. Saya pikir itu cuma dongeng nakut-nakutin anak kecil biar nggak mubazir.
Mana bisa nasi punya air mata?
Tapi pagi ini, di depan piring ini, saya tidak tertawa. Saya justru terdiam.
Di sinilah koreksi kita pagi ini menampar dengan keras.
Ternyata Ibu tidak sepenuhnya berbohong. Ada yang menangis dalam urusan nasi ini.
Bedanya, bukan nasinya yang nangis. Tapi KITA yang nangis demi mencari nasi.
Lihatlah kita hari ini.
Kita bangun sebelum matahari terbit, menerjang macet, berdesak-desakan di kereta, dimaki atasan, sikut-sikutan dengan rekan kerja, pulang larut malam dengan badan remuk redam.
Kadang kita menahan gengsi, menahan malu, bahkan menahan air mata di toilet kantor.
Semua itu demi apa? Secara harfiah, demi bisa membeli beras. Demi “sesuap nasi” untuk keluarga di rumah.
Tapi, inilah ironi terkejamnya:
Saat kita berjuang mencarinya, kita sampai menangis darah.
Saat nasi itu sudah terhidang di meja, kita memperlakukannya dengan sombong.
Kita sering mengeluh: “Yah, lauknya cuma ini?”
Kita sering menyisakan makanan di piring karena alasan sepele: “Udah kenyang, nggak nafsu, rasanya kurang pas.”
Kita buang sisa makanan di restoran all-you-can-eat_ karena mata kita lebih lapar dari perut kita.
Kita bekerja seperti budak untuk mendapatkan nasi itu, tapi saat memakannya kita bertingkah seperti raja yang tidak tahu terima kasih.
Kalau nasi benar-benar bisa bicara, mungkin dia tidak akan menangis. Dia akan tertawa sinis melihat kita.
“Katanya nyari aku susah sampai nangis-nangis? Giliran aku udah ada di depan muka, kok malah disia-siakan?”
Mulai hari ini, mari habiskan apa yang ada di piring. Bukan karena takut nasinya nangis, tapi untuk menghormati keringat dan air mata kita sendiri yang tumpah untuk menghadirkannya di sana.***
Renungan pagi di Citapen Cimenyan












