REFLEKSI | Kekuatan Cinta Ibrahim di Luar Nalar

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

Di dunia ini kita adalah mahluk sempurna yang dibekali akal pikiran, sebagai tanda kita mahluk berbeda dengan mahluk yang lainnya, dalam hal kesempurnaan. Berbahagialah manusia dengan kelebihannya, berbahagialah manusia dengan keberadaannya, yang disebutkan Allah sebagai pengemban tanggung jawab kekhalifahan, baik untuk skala kecil diri dan keluarganya, maupun untuk manusia lainnya.

Seperti Allah menegaskan, dalam firmanNya :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al Baqarah: 30).

Allah di sana sangat memuji dan membanggakan manusia.
Akan diberi mandat, kepercayaan sebagai mahluk yang ia banggakan.

Sehingga, pernyataan Allah, “Ia lebih tahu, dan tak ada yang mengetahui selain Ia”, menunjukan, bahwa Allah selalu memiliki rencana yang Ia akan titipkan pada segenap manusia, yang akan Allah beri amanah, dengan terus mengaping, mendampingi manusia yang ia beri amanahnya itu, hingga tuntas amanahnya sampai sukses manusia itu jalankan.

Nabi Ibrahim meninggalkan jejak sebagai seorang pencari Tuhan.
Ia juga meninggalkan jejak sebagai tokoh berkarakter yang kecintaannya kepada Tuhannya, melebihi dari manusia biasa manapun yang Allah ciptakan ke dunia.
Capaiannya itu belum ada yang mematahkannya.
Tak ada yang melebihinya.
Tak ada yang bisa melakukan apa yang Ibrahim sudah lakukan.

Sehingga generasi berikutnya akan mencatatkan Cinta Ibrahim sebagai cinta yang monumental, maka pantas perjalanan nabi Ibrahim, selalu saja dinapaktilasi, oleh semua manusia sedunia dalam ritual Ibadah haji yang sebentar lagi akan dilakukan, oleh anak keturunannya dari berbagai bangsa, dan ras, yang sekarang ini sudah datang di tanah Mekkah, yang dahulunya tempat Ibrahim meninggalkan Istrinya Siti Hajar, ditanah gersang, tandus, tak berpenduduk, jauh dari mana-mana, tak ada air, dan jauh dari siapapun, yang pada tanah gersang itu, Siti Hajar melahirkan Nabi Ismail, seorang keturunan Ibrahim, yang sama kwalitas keimanannya kepada Allah, seperti keImanan bapaknya, Nabi Ibrahim.

Baca Juga :  Ricky Yakob Meninggal, Pecandu Bola Kota Solo Kehilangan Bintang Idolanya

Kesempurnaan akal pikiran, ternyata belum seberapa, jika akal tak disertai dengan keimanan.
Dan keimanan Ibrahim sebagai bapaknya para Nabi, melebihi para Nabi manapun, dalam hal cinta dan ke ikhlasan.

Hati yang hanifnya selalu mendapat pencerahan.
Dan pencerahan itu selalu harus di uji dengan kesungguhan dan bukti yang nyata bukan omong kosong seperti kita manusia jaman ini, yang hanya mau enaknya saja, tapi tak mau diuji Allah.

Semoga dengan musim haji yang sebentar lagi akan dilakukan para saudara kita yang pergi berhaji.
Haji mereka benar-benar bisa menapaki jalan cinta, dan jalan ikhlasnya Ibrahim, dalam mencintai Tuhannya.

Semoga mereka yang sudah Allah beri kesempatan berhaji, membawa pulang kehajiannya, dengan membawa teladannya Ibrahim, dan anaknya Ismail, hamba Tuhan yang memiliki rasa cinta dan keikhlasan sesungguhnya yang sangat murni, yang bisa di tunjukan seorang manusia, sebagai hamba Tuhan yang bisa di banggakan, dan dipercaya Tuhan nya.

Mari jalankan amanah kita sebagai Khalifah Allah dengan sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya.
Tunjukan rasa cinta kita pada Allah dengan tak menghianati cintaNya.
Ikhlas kita akan membuat apapun yang kita pegang sebagai amanah, akan meraih kesuksesan luar biasa baik di dunia dan akhiratnya.

Tanpa keikhlasan, dan ada niat jahat seperti niatnya syetan, yang menunggangi tujuan tersembunyi kita, jangan harap kebaikan akhir untuk akhiratnya kita dapatkan.

Manusia baik, adalah manusia yang bisa meniru Nabi Ismail jika belum bisa meniru jejak Ibrahim.
Mau berkurban, dan jadi kurban.,
Artinya, mau memberi yang terbaik dari apa yang bisa kita usahakan.
Dan mengurbankan kepentingannya, untuk menjalankan kepentingan umat yang bisa ia bawa sampai mendapat kemaslahatannya.

Baca Juga :  Bandel, Gugus Tugas Covid-19 Kota Tasikmalaya Segel Minimarket

Mari berhaji, menjalankan pangilan suci.
Mari berqurban, menjalani apa yang bisa kita berikan untuk Allah, dari apa yang bisa kita berikan.
Insyaallah.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Raih BKN Award, Haji Kusnadi : Harus Dijadikan Motivasi Bagi ASN Dilingkungan Pemprov Jabar

Jum Jul 8 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS |BANDUNG – Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Haji Kusnadi mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, terpilih menjadi juara 1 Badan Kepegawaian Negara (BKN) award katagori implementasi penerapan manajemen kinerja pemerintah provinsi tipe besar. “Alahadulilah, Pemprov Jabar mendapat penghargaan BKN award atau juara ke 1, kategori Implementasi penerapan anajemen kinerja […]