REFLEKSI | Kualitas Ibadah

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

IBADAH, suatu bentuk ketaatan atau kepatuhan kita pada Allah, kepada Dia sang maha Pemilik hidup.

Ibadah dalam pengertian yang luas, adalah keseluruhan perbuatan kita yang mengandung unsur kesolehan, sebagai bukti, bakti kita kepada Allah.

Baca juga

REFLEKSI | Merendahkan Diri
REFLEKSI | Hidupkan Nurani
REFLEKSI | “Manual Book” Tuhan
REFLEKSI | Mau Mendengar

Taat sepenuhnya pada Dia sang maha pencipta, merupakan bentuk kesadaran kita atas keseluruhan aktivitas kesolehan sosial yang biasa kita lakukan…Sehingga ketaatan-ketaatan itulah, nilai-nilai ibadah kita yang nyata, dimana melingkupi keseluruhan aktivitas kita, dari bangun tidur hingga kita tidur kembali.

Dalam setiap tarikan nafas ada nilai ibadah.
Dalam setiap apa yang dilihat, ada nilai ibadah.
Dalam kita bicara, kita mendengar, setiap pola perilaku, keseluruhan aktivitas kita, semua ada muatan nilai ibadahnya.

Maka pantas Nabi berujar dalam dawuhnya, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

QS. Al-Hujurat Ayat 13,
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Dari dua kutipan, baik hadist, maupun nukilan ayat diatas, kita tentunya dapat memetik hikmah, yang terbaik dari manusia adalah yang memberi banyak nilai manfaat ke sesama, dan manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Pertanyaannya, apakah orang yang bertaqwa itu juga adalah orang yang memberi nilai manfaat bagi sesamanya ?

Jawabannya, Pastinya ia !
Ketaqwaan tak lepas dari nilai nilai pengaplikasian dilapangan, di lingkungan sosialnya.

Akhirnya kita dapat suatu gambaran, ibadah layaknya kita menyembah Allah, itu merupakan kewajiban mutlak…namun ada ibadah sebagai aplikasi dari sholat kita itu sendiri, yakni eksistensi kesolehan, apakah itu bisa dilakukan?

Baca Juga :  Hasil Liga Champions: MU dan Chelsea Melaju, Barcelona Terancam Tak Lolos

Karena otomatis ibadah kita yang sebenarnya, ada pada cara kita
mengaplikasikan, atau mempertanggung jawabkan hasil ibadah kita pada pola perilaku keseharian…disana pembuktian iman, taqwa, dan ketaatan kita pada sang pencipta diperlihatkan.

Hingga kita bisa melihat kebenaran hakiki keimanan seseorang itu, dari prakteknya, di dikehidupan bermasyarakatnya…Nah, ini menarik!

Akan terlihat disana, mereka yang hanya beriman dipermukaan nya saja, ia sibuk dengan kulit, dengan tampilan luarannya.

Dan seseorang yang benar-benar beriman, ia akan beribadah luar dalam, disemua aspek kebaikan, dalam perilakunya ditingkatan Ubudiyah, cara dia melakukan pendekatan pada Tuhannya, dengan kendaraan dari membangun hubungan sosial yang baik, yang memperlihatkan aspek realisasi dari fungsi ibadahnya yang tak hanya membangun hubungan Habluminalloh, tapi juga membangun hubungan baiknya dengan sesama manusia.

ya, itulah aplikasi dari ibadah yang sebenarnya, tak hanya senang cenderung menjajaki langit, tapi ia lupa menginjak kakinya dibumi.

Ibadah itu harus indah efeknya di mata mahluk, masyarakat merasakan keteduhan dari kesolehan kita.

Orang lain merasa aman dan tentram karena kesolehan ibadah kita.

kita harus jadi magnet yang membuat orang tertarik untuk meniru kita, dengan pendekatan unik, pendekatan yang tak biasa, yang membuat orang tersadar ada kebaikan dari potensi dirinya, untuk bisa me jadi nilai ibadah yang berarti bagi agamanya….yaitu dengan apa?

Ya dengan perilaku kita!
Perilaku kita itulah,ciri adanya kwalitas nilai ibadah yang manusia lain tangkap.

Perilaku kita itulah, ibadah kita sebenarnya!

Yang ibadahnya tak hanya sholat, tapi baik dan jadi problem solving buat kebaikan di masyarakat kita!
Bukan jadi beban, dan malah bahan pergunjingan masyarakat keberadaan kita.

Akhir cerita, mau dibawa ke mana bentuk ibadah kita ?

Baca Juga :  Mahasiswa Unpam Melatih Ibu-ibu Pemilik UMKM Membuat Laporan Laba Rugi

Karena ibadah kita itu seharusnya, membawa kita pada kesadaran menjadi manusia yang tahu diri!

Karena ibadah tanpa pondasi kemanusian, dan nilai-nilai humanisme, kita hanya akan jadi manusia yang tak pernah teruji karakter dan sikap kita…Padahal untuk mendekati Allah, kita harus dekat pada mahluknya.

Dapat mencintai mereka, menjaga mereka, seperti kita menjaga diri kita sendiri.

Dan oleh karenanya, ada adab, sopan santun, etika, pekerti, dan saling toleransi.
Yang selalu harus kita jaga.

Tanpa menjaga itu, sehebat apapun ibadah kita, satu saja adab kita jelek, maka gugur semua kemuliaan nilai ibadah yang kita bangun tadi.

Maka Allah menginggatkan, kita jangan seperti mereka yang lalai dalam salatnya, dan akhirnya menjadi pendusta agama yang kita yakini ini.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Penggabungan Tiga Provinsi

Rab Feb 9 , 2022
Silahkan bagikanOleh Djamu Kertabudi SUASANA kebatinan masyarakat Sunda akhir-akhir ini lagi terusik dan teraduk-raduk oleh statemen salah seorang Anggota DPR-RI Arteria Dahlan. Saat Rapat Komisi III bersama Jaksa Agung dan jajarannya dia mempersoalkan penggunaan bahasa Sunda oleh Kepala Kejati Jabar dalam forum rapat intern, bahkan meminta Jagung untuk memecatnya. Ucapannya […]