REFLEKSI | Logo & Jatidiri

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

SEBAGAI penghargaan pemerintah di jaman Presiden Soeharto, Menteri Keuangan saat itu, tahun 1978, menetapkan gunungan sebagai visual yang menghiasi uang koin seratus rupiah kita.
Gambar depannya rumah gadang dan dibelakangnya gambar gunungan wayang.

Tanggapan masyarakat jaman itu, ya biasa saja, dengan adanya penggunaan gunungan pada satu sisi di mata uang koin kita.

Tidak riuh, tidak ada ramai, tidak ada gejolak yang berusaha di kaitan dengan apapun peristiwa saat itu, padahal jika kita tilik sekitaran tahun 1978, ada peristiwa pelarangan dan penerbitan untuk sejumlah media massa, yang jumlahnya tak sedikit, ada 7 media saat itu yang dilarang terbit oleh penguasa.

Peristiwa heboh, tapi yaa, itu tak berusaha dikaitkan-kaitan. Semuanya peristiwa saat itu, berdiri terpisah.

Rezim tak di bully !
Peristiwa hanya jadi sock therapy.
Masyarakat tak tersulut, hanya asal tatherapy. .

Tak ada sosok pengompor, yang memperkeruh suasana seperti yang marak hari ini.

Apalagi kalo yang datangnya dari anggota parlemen!

Suara nyaring, bising, dan kritik tajam seperti halnya dari anggota parlemen sekarang seperti, Fadli Zon, Hidayat Nur Wahid, Endhi Baskoro, dan lain-lain, tak ada terdengar seperti itu waktu jamannya Soeharto berkuasa…!
Semua anggota parlemen adalah mahluk santun, penyabar, dan kompak dalam melanggengkan kata sepakat ,”asal bapak senang! “. Sebuah jargon yang sudah semua hafal sampai saat ini, untuk generasi kita yang telah tua.

Peristiwa sehebat apapun saat rezim Soeharto pastinya berdampak nasional, tapi…
Semua bungkam.
Diam.
Tak ada nyali seluruh rakyat mengomentari!
Kalaupun mereka tahu, pelarangan terbit adalah mengembiri hak asasi bagi keterbukaan informasi.
Komentarnya tak seriuh sekarang.
Sungguh tak ada perlindungan hak asasi, apalagi keterbukaan informasi, semuanya di kontrol, dan semua dalam pantauan penguasa.

Baca Juga :  Ini Pernyataan Kapolresta Bandung Terkait Dugaan Adanya Teror Terhadap Jurnalis

Rakyat saat itu tahu diri.
Ataupun mungkin rakyat takut!
Jikapun ada aksi, sudah pasti di hadapi moncong senjata yang terarah, malah bisa sampai dihilangkan tak tau rimbanya, itu jika penguasa sudah marah.

Itulah hebatnya Soeharto kala itu, bisa disamakan bentuk ketegasannya, akan kejam, itu untuk yang menganggu ketentraman masyarakat umum!
Ya, gaya tegasnya mirip-mirip pemerintah Saudi Arabia sekarang, main libas, tak ada pengadilan untuk penganggu stabilitas.
Seperti dalam berita kemarin, Pemerintah Arab Saudi mengeksekusi 81 warga negaranya yang membuat kacau situasi keamanan negara.

Apakah kita mau ke jaman tegas-tegasan seperti jaman Soeharto?
Yang main dikarungi untuk para preman kelas teri, hehehe.

Jargon, yang seringkali kita lihat di belakang bak mobil truk dengan gambar Soeharto melambaikan tangan, dan memberi senyuman khas miliknya, sambil tertulis narasi, ” Piye Kabare…Penak Jamanku Toh !” Sungguh suatu anekdot, yang tak merasakan kelaliman-kelaliman, dan penderitaan, bapak, dan kakeknya ketika itu.

Sudah pasti satu paket komplit, akan menderita seumur hidup, atau hilang jejak tanpa rimba, jika kita berani mengkritik pemerintah saat itu. Sampai pada akhirnya, situasi Adem terjaga, tenang, dan kondusif.

Balik ke Gunungan jaman Soeharto, yang digunakan pada koin recehan seratus rupiah…
Itu merupakan bukti, walau di anggap receh, atau kasta terendah dari nominal uang yang tertera, masyarakat tetap menyambut gembira, dan terbukti, setelah masa berlakunya habis, nominal seratus rupiah dengan gambar gunungan, jadi uang receh yang banyak di cari, bahkan kolektor uang, berani membeli si recehan tadi, dengan harga miliaran rupiah. Luar biasa.

Berbeda pada saat pemerintahan Jokowi sekarang ini, ketika gunungan di angkat ke kasta tertinggi, sebagai bukti adanya penghormatan pada suatu identitas budaya, juga bukti bahwa identitas budaya tersebut kita hormati.

Baca Juga :  Hendak Latihan Tempur, Tank Seruduk Gerobak dan Empat  Sepeda Motor di Bandung 

Penghormatan pemerintah pada nilai spirit itu dianggap pelecehan, dianggap salah kaprah, dianggap tak bermoral.
Apa lacur, kita sudah masuk dalam situasi perang budaya.

Tetap ada kontra, khususnya dari para pengiat agama, yang memiliki aspek historis, bersebrangan dengan pemerintah, yang kita paham, siapa mereka.

Ya, visualisasi logo halal, dengan pendekatan bentuk gambar gunungan, yang gunungan sendiri dalam sebuah pertunjukan wayang, dipakai sebagai pendekatan prolog dalam awal pertunjukannya pagelaran wayang kulit, sang dalang biasanya melantunkan suluk ini. “Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong. (Bumi berguncang, langit berkilat, terlihat seperti orang yang cinta melihat segala kehormatan dan keindahan dunia, gunung pun berantakan).”

Yaa, logo halal yang baru ini, adalah bukti bahwa masih ada rasa cinta kita pada identitas budaya, pun jika dilihat, banyaknya perguruan tinggi seni rupa dan desain saat ini, tersadar untuk mengusung dalam visi misinya, mendekat pada membangun potensi kearifan lokal. Tandanya, kebangkitan potensi kearifan lokal sudah akan pasti, jadi tujuan semua institusi untuk membentengi pengaruh budaya asing.

jika logo halal baru yang di keluarkan oleh Kementrian Agama, dan pemerintah sudah memiliki spirit kearifan lokal, dan para pembully berkata, itu Jawa Sentris!

Maka kita boleh berkata, bahwa pengaruh budaya asing yang masuk mengontaminasi bahasa, seperti sebutan gaya, gayaan dalam panggilan, untuk menyebutkan ayahanda dan bunda, diganti, abi dan ummi, atau moomy, deddy, sudah menunjukan lunturnya identitas kita, dan semakin maraknya gaya arabisasi, dan baratnisasi.

Dan ketika mereka dengan bangga mencirikan gaya hidup, dalam tampilan, bahasa, dan pola perilakunya yang cenderung eklusif…kita akhirnya tersadar, kita telah dijauhkan dari akar kita, jauh dari jatidiri kita, jatidiri bangsa ini, dan baru menyadari, aspek penting perlu adanya identitas karakter budaya, yang perlu di munculkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa kita.
Dan itu untuk menangkal pengaruh asing, baik dari timur, seperti Arab, maupun barat seperti Eropa dan Amerika.

Baca Juga :  UMRAH: Jemaah Wajib Test Swab & Jalani Karantina Saat Pulang

Semoga jati diri identitas budaya yang diusung dalam logo baru halal, yang dikeluarkan Kementrian Agama, mampu membuka kesadaran kita, bahwa perang budaya sesungguhnya telah terjadi.***

  • Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KLHK Gelar Rakor Penguatan Implementasi Penyelamatan Perairan Darat

Kam Mar 17 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat koordinasi antar lembaga dalam rangka “Penguatan Implementasi Penyelamatan Perairan Darat Menuju Ketahanan Air Indonesia, secara daring dan luring di Jakarta, Selasa (15/3). Perairan darat, yaitu sungai, danau dan mata air adalah sumber-sumber air yang sangat penting bagi […]