REFLEKSI | Manusia Berpengalaman

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

MANUSIA adalah mahluk yang selalu berproses dalam kehidupannya. Baik dalam mendapatkan pengetahuan, mendapatkan pemahaman-pemahamannya, dan itu terus berproses sampai pada ia mendapatkan kedewasaan dalam proses berpikirnya, menjadi bijak dan berpengalaman.

 

Lihatlah pada setiap proses manusia suci yang diberkahi Tuhan sebagai penyeru Umat ini, semua mengalami takdir kodrat untuk terus belajar. Dari Mulai Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Nabi terakhir, Muhammad SAW, semua mengalami proses.

 

Mengapa semua manusia berproses ?

Dalam sebuah hadist, ada disebutkan bahwa Allah menyukai proses.

Dan begitupun Wahyu yang didapatkan Rosululloh, datang dan diturunkan, sedikit-sedikit diberikan kepada Kanjeng Nabi kita, dan itu sebagai sebuah gambaran, bahwa memahamkan apa yang harus di pelajari oleh kita sebagai umat manusia, umat Pembelajar, dalam memahami “iqro,” harus bertahap, baik dengan sabar memasuki jenjang bangku pendidikan, maupun ditempa waktu untuk dijadikan faham, dijadikan cerdas, dan akhirnya jadi manusia berpengalaman.

 

Setidaknya jika waktu mengasah kita dengan ketajamannya memberikan kepahitan-kepahitan, kegetiran-kegetiran, hal yang tidak menyenangkan, janganlah kita berprasangka buruk pada sang maha pencipta, bahwa kita dianak tirikan, disisihkan, dan campakkan, yang semua prasangka tersebut… pada akhirnya tidak membuat kita menyadari pada adanya sebuah proses pengodogan yang Tuhan berikan, untuk menjadikan kita kuat, berkarakter, berkwalitas, yang dengan pengalaman tempaan itu, menjadikan kita jadi manusia bijakbestari yang paripurna.

 

Manusia yang berpengalaman adalah manusia yang sudah mendapatkan pembelajaran hidup, memiliki pandangan hidup yang berarti, dan ia kokoh dalam pendiriannya yang positif.

 

Bagaimana dengan manusia yang tak berpengalaman ?

Tipikal manusia seperti ini, adalah manusia yang labil dalam segi pemahaman hidupnya, ia bisa terseret-seret banyak faham, pemikiran, idiologi yang merusak, masuk kedalam jenis manusia yang mudah dibodohi, dan diperdaya.

Baca Juga :  Dua Warga Secapa AD Dinyatakan Positif Covid-19

 

Untuk jenis manusia seperti itu, jika ia tidak banyak bergaul, tidak banyak mencermati, tak banyak membuka wawasan dan pemahaman, ia akan menjadi manusia dengan pemikiran pendek, dan menjelma menjadi manusia dengan karakter pendirian sekeras batu, menjadi manusia fanatik yang buta, yang tidak bisa melihat sisi kebenaran dari semua arah yang seharusnya mencerahkannya.

 

Bagaimana kita menjadi manusia yang tercerahkan ?

Tuntunan agama memandu kita menjadi manusia yang tercerahkan!

Itu jika kita mau mempelajari agama kita dengan sebaik-baiknya.

Apapun agama dan keyakinannya,  semua mengajarkan manusia menjadi orang yang berbudi, berahlaq mulia dan luhur.

Agama menjadikan kita manusia yang berilmu, manusia yang memiliki tujuan hidup mulia, dan jelas arah hidupnya, yakni, untuk bisa memberi kebermanfaatan dirinya bagi orang lain disekitarnya.

Baca isi  kitab dalam agama yang kita yakini itu, agar kita faham apa isi, maksud, makna, dan tafsirnya.

 

Ikuti jalannya orang-orang yang sudah bisa mendapatkan pencerahan, dan menjadi rujukan ilmu, dan kesempurnaan pengalaman, baik dari pada  para sahabat Nabi, anak cucu dan para cicit mereka, dari kitab yang mereka buat dan diwariskan bagi peradaban manusia, maupun para orang Soleh bijak Bestari lainnya yang kita kenali dijaman ini, yang dari mereka kita mengambil manfaat ilmu, pemahaman, dan pengalaman hidup mereka, baik dari mendengarkan, menyimak, berbincang-bincang dengan mereka, yang membuat kita menjadi  faham dan memiliki ilmu, memiliki tips, untuk jadi cara kita mendapatkan kebaikan selanjutnya, seperti apa yang telah mereka capai.

Menyimak dan mau mendengarkan pengalaman yang berarti dari para penempuh jalan sebelumnya, itu akan membuat kita lebih awas, lebih pintar, dan cerdas dalam menyikapi kehidupan.

Baca Juga :  Dadang Rusdiana: Optimis Putusan PHP Pilkada Kab. Bandung Oleh MK Obyektif dan Adil

 

Langkah lainnya apa untuk membuat kita jadi manusia yang berpengalaman?

Baca banyak buku yang bisa membuka wawasan kita pada hal yang bermanfaat, itu bisa menjadikan pembelajaran dan menyingkat pengalaman.

 

Jadilah manusia yang berpengalaman, agar kita memiliki hidup yang baik, dan berkwalitas…Amin.***

 

 

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Keluarga Harus Jadi Benteng Mewaspadai Gerakan LGBT

Rab Mei 18 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (KPRK MUI), Dr. Siti Marifah mengingatkan peran keluarga dengan fondasi agama sangat vital untuk mewaspadai gerakan LGBT. Menurutnya, LGBT ini merupakan kelainan seksual yang seharusnya diobati, bukan menjadi sebuah gerakan yang ditoleransi untuk menularkan kepada orang […]