REFLEKSI | Marah Berlebihan

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

MARAH berlebihan merupakan akumulasi dari banyak faktor yang mempengaruhi kejiwaan kita. Bisa jadi karena terbawa emosi, dari pengaruh luar diri kita, akibat adanya penyebab eksternal, yang kita respon. Sehingga kita pun terbawa larut, dan membakar bola panas itu makin membesar…!

Eh dilalahnya, internal kejiwaan kitapun sama, sebelas dua belas, kita suka sekali pada pancingan-pancingan tersebut, bukannya redam, yang ada, malah kita makan !
Maka wajar semakin membakar, dan inginnya menghanguskan…!

Marah berlebihan itu bisa diredam, dengan kita turunkan tensi emosi kita sesaat !
Cukup sebentar kita tarik nafas !
Pejamkan mata !
Totok, atau memijat syaraf ketegangan kita sekitar kening.
Tahan diri, coba sabar beberapa waktu.
Jika bisa, beranjaklah segera dari tempat yang membuat kita ada di sana, itu akan jauh lebih membantu.
Dan kita bisa terbebas dari suasana kemarahan kita, yang akibatnya, bisa menularkan kemarahan itu pada orang lain.

Marah adalah virus !
Virus akut yang dapat menganggu kesehatan !
Jika marah adalah gejala kita sakit !
Maka jiwa kitalah yang perlu di obati itu.

Dalam beberapa ajaran agama, menyikapi marah ini bisa dengan menguatkan hati, misalkan di agama Islam, dengan beristighfar, mengambil wudhu, dan berdzikir.
Di agama Nasrani dengan harus panjang sabar, dan tidak lekas tersulut marah, marah sendiri bagi orang Nasrani, hanya dilakukan orang bebal yang melampiaskan seluruh amarahnya, sebagai orang bodoh.

Di setiap agama cara mengatasi marah pastinya ada.
Dan semua itu sebagai rujukan bagi pemeluknya.
Namun intinya sama, marah adalah hal buruk yang harus dihindari.
Apalagi marah berlebihan, harus sangat dihindari, dan akan merusak semua pondasi nilai dari ke imanan kita.

Baca Juga :  PJT II Fasilitasi Bantuan Sosial, Pemkab Purwakarta Distribusikan Paket Sembako Bagi Penyandang Disabilitas

Marah Menurut Mawardi Labay El-Sulthani, “marah adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dari dalam diri yang dilampiaskan menjadi suatu perbuatan untuk membalas kepada orang yang menyebabkan marah.”

Marah sendiri pada umumnya terjadi, itu karena ada pemicunya dari luar, sehingga respon yang di ungkapkan adalah, ekspresi perilaku yang di perlihatkan oleh mimik, raut muka yang tegang, garang, dan hadirnya intonasi suara yang meninggi, detak jantung cepat, tak menentu, nafas menderu tak karuan, kondisi ini jika tak terkendali, akan berujung tindakan fisik dan berujung pada terjadinya konflik.

Marah harus di siasati dengan tenang.
Marah harus harus dikendalikan dengan sabar.
Marah harus dijinakan dengan kelemah lembutan.
Bila marah datang, alihkan emosi kita, dengan sesaat memejamkan mata.
Bila marah sudah di ujung tanduk, diam dan lemaskan otot otot ketegangan, agar emosi tak meluap secara berlebihan.

Marah dalam gambaran banyak kisah dalam dongeng, selalu berakhir dengan ketragisan dan kegagalan…begitupun dalam banyak mitos, cerita rakyat yang beredar, pun sama dalam kisah para Nabi, gambaran kemarahan adalah peristiwa yang di nukilkan dalam bentuk penyesalan, dan datangnya kesulitan pada proses perjalanan berikutnya.

Perhatikan contoh dari cerita Timun Mas, raksasa yang mengejar Timun Mas, dengan kemarahan yang meluap akhirnya terperosok ke tanah berlumpur yang menyedot dirinya hingga tenggelam.
Dalam Cerita mitos Sangkuriang, kemarahannya yang tak bisa mewujudkan membuat danau, mengharuskan dia menendang perahu, sehingga gambaran perahu yang ia tendang, dan berubah menjadi gunung, adalah gambaran kemarahannya yang besar, dan keputusasaan nya.
Begitupun dalam kisah para Nabi, Nabi Nuh sampai harus memohonkan doa, karena umatnya telah membangkang, menghinakan, menistakan, dan mendustakan dirinya, dan menantang meminta di azab, dengan diturunkannya hujan yang akhirnya menyebabkan banjir besar yang tercatat dalam banyak kitab suci.

Baca Juga :  Pilkada Bisa Ditunda, tapi Hanya Pencoblosannya Saja

Semoga kita semua bisa memenej dengan baik, emosi yang dimiliki, dalam marah yang berlebihan. Marah selalu meninggalkan penyesalan, jika kita tak mampu melakukan kontrol diri.

Mengapa kita harus marah !
Jika kita tahu marah tak dapat menyelesaikan masalah.

Marah akan selalu merugikan diri kita !
Pertanyaannya, “mau kah kita rugi berkepanjangan saat kita tak mampu menahan kemarahan kita ?”

Semua kembali pada diri masing-masing Individu manusianya.
Hanya dengan kesabaran, diam, dan tak terjebak emosi, diri kita akan selamat.

Semoga sabar mampu meredam marah kita, Amin.***

  • Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008).

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Huawei Meluncurkan Full-Stack Data Center Solution yang Memperbarui Infrastruktur Digital

Sab Mar 5 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BARCELONA – Di MWC 2022 Barcelona, Huawei meluncurkan Full-Stack Data Center Solution lewat sesi Huawei Full-Stack Data Center Forum. Dirancang untuk membantu perusahaan menggunakan pusat data modern, solusi terbaru ini mengandalkan keunggulan fitur full-stack Huawei, dari konsumsi energi hingga peralatan TI. Solusi ini mendukung perusahaan memodernisasi infrastruktur […]