Oleh Didi Subandi
PAGI di Cimenyan. Cahaya matahari jatuh lurus di atas meja kayu, sorotnya tajam seperti lampu ruang interogasi—atau mungkin, lampu ruang ujian. Kopi hitam di tangan saya mengepulkan asap, satu-satunya saksi bisu betapa gugupnya jiwa ini menghadapi “soal ujian” hari ini.
Kita semua tahu, hidup ini adalah ruang ujian raksasa.
Dan lucunya, kita semua sebenarnya sudah punya “Bocoran Soal”-nya. Kita sudah pegang “Kunci Jawaban”-nya. Tiap Jumat diteriakkan di mimbar, tiap hari diulang di beranda media sosial. Kita hafal di luar kepala: Waktu itu singkat, Amanah itu berat, Ajal itu dekat.
Kita ini murid-murid jenius secara teori. Tapi di sinilah letak tragisnya: Kita adalah Penghafal Contekan yang Gagal Total saat Praktek
Mari kita lihat kertas ujian kita.
Soal Nomor Satu tentang Waktu. Kunci jawabannya jelas: “Singkat”. Kita tahu itu. Tapi lihatlah kita. Kita memperlakukan waktu bukan sebagai emas, tapi sebagai sampah tisu bekas. Kita remas-remas, kita buang berjam-jam di depan layar untuk menonton kehidupan orang asing. Kita membunuh waktu seolah kita punya persediaan abadi.
Soal Nomor Dua tentang Dunia. Kunci jawabannya: “Menipu”. Kita tahu dunia ini cuma panggung sandiwara. Tapi, astaga, betapa kita mencintai Sang Penipu ini. Kita didandani oleh dunia, dibuai janji manisnya, dan kita mengangguk patuh. Kita tahu dia berbohong, tapi kita tetap ingin dicium olehnya. Kita menukar Amanah yang berat itu demi tepuk tangan penonton di panggung tipuan ini.
Soal Nomor Tiga tentang Ajal. Kunci jawabannya: *”Dekat”. Ini soal paling horor. Tapi kita mengerjakannya dengan santai, sambil tertawa-tawa, seolah-olah Malaikat Maut itu teman nongkrong yang bisa kita suruh tunggu di luar pagar. “Nanti dulu ya, belum tobat nih, lagi asik.” Kita hidup dengan arogansi seolah kita punya kontrak eksklusif untuk hidup 1000 tahun lagi.
Soal Nomor Empat tentang Nafsu. Kunci jawabannya: “Musuh Besar”. Tapi alih-alih memeranginya, kita malah mengadopsinya. Kita beri dia makan, kita beri dia kamar mewah di hati kita. Kita biarkan nafsu menyetir hidup kita, sementara logika dan iman kita disekap di bagasi belakang, mulutnya dilakban.
Kita tahu Sabar dan Ikhlas adalah jawaban untuk segala kesulitan. Tapi kita sengaja menulis jawaban lain: “Mengeluh” dan “Update Status”.
Kita tahu Dosa itu racun. Tapi kita meminumnya sedikit-sedikit setiap hari, menikmatinya seperti wine mahal, lalu pura-pura kaget saat jiwa kita sakit.
Pagi ini, di hadapan kopi yang jujur, saya sadar. Kita bukan tidak tahu jawaban. Kita bukan bodoh.
Kita cuma sombong.
Kita adalah murid yang memegang kunci jawaban di tangan kanan, tapi dengan sengaja menulis jawaban yang salah dengan tangan kiri, hanya karena jawaban yang salah itu terlihat lebih indah, lebih seru, dan lebih instagrammable.***
Renungan pagi di Citapen Cimenyan












