REFLEKSI | Nabi Pun Perlu Mereka

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

NABI Muhammad adalah seorang yang otomatis terberkahi, dan pasti ia seorang organisatoris yang handal. Lalu apakah Nabi memproklamirkan bahwa ia yang paling pintar, paling bisa, dan paling hebat ?

Ternyata Nabi tak seperti itu!
Semua Allah buat untuk memperkuat dan menghebatkan Islam, datang dari para sahabat-sahabat unggulnya.

Dan semua kehebatan itu Allah mampukan secara bertahap dan terus Allah genapkan.

Dimulai dari memasuki masa kenabian, yang kritis dan sangat menyakitkan, sampai sampai harus bersembunyi di gua Hira berdua bersama Abu Bakar.

Ali yang masih belia, adalah penguat dari kalangan keluarganya, walau saat itu masih sangat belia, Kecerdasan, dan keberanian nya sudah dapat Nabi andalkan.

Berikutnya masuk Usman bin Affan, seorang kaya, agnia, yang mensupport perjuangan Nabi habis-habisan dengan harta yang ia miliki, tampa berhitung untung rugi, tampa berhitung masyarakat yang saat itu dominan jahiliyah akan membuatnya rugi dan bangkrut….keberanian sahabat Usman luar biasa teruji, pun sahabat lainnya.

Kemudian masuk Umar bin Khattab, lelaki kuat berkarakter, yang oleh penduduk Mekkah ditakuti karena ketegasannya, dan kekuatan ucapannya yang menggetarkan…sehingga Nabi sampai harus berdoa pada Allah agar ia dikuatkan oleh salah satu Umar, dari dua Umar yang ada di Mekkah saat itu, yang kedua karakter Umar yang Nabi kenal tersebut, adalah orang-orang hebat, dan kuat pengaruhnya pada masanya.

Masa awal kenabian yang pastinya penuh tantangan, lalu dijawab Allah, dengan memberi empat pilar kekuatan Islam yang Allah saling kuatkan satu sama lainnya…. subhanallah!

Belajar dari Nabi, seorang pemimpin sangat perlu didampingi orang orang berkarakter, dan bermental kuat pada organisasi yang dipimpinnya.

Baca Juga :  Mensos Siapkan Terapis dan Alat Bantu untuk Anak Penderita Lumpuh Layuh di Jambi

Mereka yang berada di lingkaran itu, harus selalu berkontribusi bersama untuk sampai pada satu kemaslahatan yang ingin dicapai.

Allah memberi jalan, dari takdir yang melekat untuk diyakini, apa yang disandang kita pada suatu perjalanan proses ini, dalam hal apapun, baik dalam amanah menerima jabatan/posisi, yang dipercayakan, dan profesi lainnya, sesungguhnya itu adalah awalan kita menjalankan titah Allah.

Dimana itu, untuk menguatkan keutamaan diri dan umat, dalam menunjukan kapasitas kita sebagai mahluk yang dititahkan Tuhan untuk bermanfaat bagi bumi Allah, menjadi rahmat buat semesta.
Alhamdulillah.

Semoga kita menjadi pilar pilar penguat, untuk menjalankan titah Allah yang kita sandang ini.

Apapun kontribusi kita, berpikir cerdas, kreatif, dan tak menyulitkan pemimpin adalah keutamaan setiap pribadi, yang harus berpikir logis, memajukan agamamu, harus tanpa syarat, dan melihat posisi.

Kita jangan terjebak pada hal kontekstual, dan letter lux, pergerakan kemajuan Islam harus sampai pada, bagaimana pemimpin mengambil sikap membakar kapal kapal perangnya sendiri, seperti pada kisah kepemimpinan Thariq bin Ziyad yang akhirnya bisa merebut Spanyol dalam kisah heroiknya yang sangat masyhur, menginspirasi dan terkenal itu.

Lalu apa yang terjadi ?
Semua prajurit Thariq bin Ziyad, terbangun semangatnya, siap tempur sampai titik darah terakhir, maju siap mati, sebagai bentuk menjemput kehormatan, atau mundur juga pasti mati!!

Hingga tak ada pilihan menjadi pengecut, tak ada pikiran menjadi pecundang!!

Mau tidak mau, prajuritnya maju, karena sudah tak ada kesempatan untuk melarikan diri, keluar dari barisan, dan menjadi penghianat.

Untuk itu, bangun semangat berperangmu.
Berperangmu pada masa ini, tak mengharuskan membuatmu mati!!

Perangmu hanya masalah mengatur jadwal, menyisihkan waktu buat berpikir, dan membantu mengatur strategi memajukan pergerakan Islam, dengan peran yang sedang kau sandang di DMI ini.

Baca Juga :  Libas Vietnam 3-1, Tim Putri Indonesia Tantang Thailand di Final

Buat pemimpinmu tak pusing, bekerja kita ikhlas, ikhlas, ikhlas, dan cerdas!!
Kita bahagia dalam ukhuwah, kita menyatu dalam kebersamaan, sekali kita berpikir suuzan dalam pergerakan, itu bagai virus yang mematikan kreativitas, yang sekarang ini perlu dibuktikan!!

Maju saja belum?
Berandai andai khawatir, dan berpikir terlampau berlebihan yang membuat kita goyah, jangan sampai terjadi.

Biarkan organisasi yang lain seperti yang sering kita lihat, di sini, ketulusan kita dan kemampuan kita untuk menjadikan Islam hebat, adalah tugas kita.

Insya Allah, kita tak seperti umat Nabi Musa yang selalu banyak bertanya, hingga Musa pun kesulitan dan stress menghadapi umatnya, yang berlebihan selalu banyak bertanya dan ingin detail mendapatkan gambaran…sehingga Allah sulitkan mereka hanya untuk mendapatkan sapi betina…!!
Semula tugas mereka mencari sapi mudah, setelah banyak bertanya Allah sulitkan mereka dengan memberi ciri ciri yang detail, seperti detailnya mereka bertanya pada Nabi hebat kita Musa.
Nauzubillahi min zalik!!

Insya Allah, umat Nabi kita, belajar dari kisah umat Musa !
Tak banyak bertanya, tapi siap beramal saleh melaksanakan pekerjaannya.

Berpikir dan bersikap untuk siap ambil andil, dalam menjalankan amanah Allah memajukan masjid, Insyaallah akan membuka pintu keberkahan pada setiap diri…

Ada Allah yang mengetahui dan memantau niat kita, ada malaikat yang selalu siap mencatatkan amal baik kita, ada harapan masyarakat yang menggelayut pada kerja-kerja hebat kita….akhirnya, semoga Allah memberkahi kita, dan menyelamatkan kita yang sedang berada dalam bahtera, untuk selamat sampai tujuan….amin.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Peluang Tembus 5 Besar Tertutup, Borneo Fokus Pertahankan Posisi 6

Jum Mar 18 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SAMARINDA – Setelah peluang menembus lima besar BRI Liga 1 2021/2022 tertutup, Borneo FC mengalihkan fokus bertahan di posisi enam. Sultan Samma dkk. diminta sekuat tenaga tak kehilangan fokus menjaga tren positif. Mengoleksi 48 poin dari 31 pertandingan, Borneo FC masih nyaman di peringkat enam. Terpaut cukup […]