REFLEKSI | Naluri illahiyah

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

BAGAIMANA kabar naluri kita ?

Apakah ia bagaikan bunga, yang mekar, dan harum mewangi ?
Apakah ia hidup dalam siraman keruhanian.

Ataukah telah karam, mati tengelam, karena spirit kita condong pada merusak diri kita sendiri!

Naluri kita adalah modal harta Karun yang unik, ia melekat pada diri kita, menempati posisi terhormat, sebagai radarnya diri.

Dimana radar yang mampu membaca pesan, seperti halnya satelit yang ditempatkan di orbit, yang mampu menangkap apapun citra yang ada di bumi sebagai sebuah catatan, yang akan menjadi bahan kajian.

Seperti itu Naluri dalam diri kita, ia bagaikan satelit, yang sangat peka dan mampu menangkap sinyal-sinyal langit, yang datangnya dari perbendaharaan illahi.

Bedanya satelit bumi yang diorbit, hanya untuk menangkap sinyal dibumi, sedangkan satelit naluri kita yang ada dalam diri, mampu menangkap sinyal langit, sekaligus sinyal bumi, subhanallah!!

Nah naluri itu seperti satelit, sama perlu pemeliharaan, jika satelit sebelum diterbangkan ke orbit bumi, perlu ketelitian dalam segi pembuatannya, dan bahkan dicari komponen terbaik yang jadi bahan bakunya, maka untuk naluri, sudah Allah siapkan itu sebelum kita terlahir, yang isinya komponen-komponen terbaik, dari yang Allah siapkan, dan ia menempel pada kita, setelah kita terlahir di dunia.

Contoh, seorang bayi baru terlahir ia dengan nalurinya, tahu harus mencari asi susu ibunya, sehingga mulut nya akan terbuka, ketika puting susu ibunya menempel pada bagian wajahnya, dan dengan cepat ia akan menete asi dari bundanya… subhanallah.

Yaa begitupun Allah yang maha pengasih, Dia beri komponen naluri itu pada mahluk lainnya, namun yang paling berkembang, dan canggih, adalah naluri pada manusia, karena ia terus tumbuh dan mengikuti perkembangan proses tumbuh manusia itu sendiri.

Baca Juga :  Komunitas Pers Minta Kapolri Cabut Pasal 2d dalam Maklumat Terkait FPI

Kita sudah diberi kepekaan Naluri dari mulai saat kita bayi… Dan kepekaan Naluri kita terus berkembang seiring perjalanan usia diri kita….Naluri itu terus tumbuh, seperti berkembangnya diri kita.

Nah apakah ada perkembangan Naluri seperti perkembangan anak stanting. 
Agak bermasalah !!
Sehingga tidak tumbuh berkembang nalurinya dengan baik, dan normal !
Yang seperti itu pastinya ada.
Malah bahkan merasa tak memiliki Naluri.

Jika sampai terjadi seperti itu, pastinya ada yang salah dengan manusianya.
Dimana letak salahnya ?
Mengapa nalurinya mati ?

Naluri yang mati, atau tidak peka !
Merupakan situasi keadaan diri pada manusia, yang biasa bersikap sombong, tinggi hati, gila hormat, dan besar egonya serta nafsunya.
Manusia dengan bawaan seperti ini, sudah komplit kepongahan dirinya.
Sehingga bagaimana mau memiliki nurani ! Melihat penyakit hati, dalam dirinya saja ia tak bisa…maka dengan sendirinya, nalurinya menjadi cacad, lemah, dan akhirnya mati.

Naluri yang sehat, terus hidup, tumbuh sempurna, dan dekat dengan illahi, sehingga Illahi memberikan sentuhanNya, ia adalah type naluri dengan kecenderungan sangat peka, sensitif, dan bisa jadi mampu menangkap sinyal, dari suatu peristiwa yang belum terjadi…

Mengapa kemampuan naluri bisa seperti itu ?

Karena jika untuk naluri yang sudah terlatih, maka otomatis ia mampu menangkap dan membaca skenario Allah itu sendiri !
Bukankah kita hidup didunia ini sedang memainkan peran !

Siapa pemberi perannya ?
Bagaimana akhir peran kita ?
Semua sudah tercatat !

Yakinkan !!
Bahwa apa yang kita akan lakukan, dan akan diperbuat itu sudah ada tercatat dalam catatan skenario Nya ?

Sehingga lahir, hidup, mati, berprosesnya kita, Allah sudah atur !

Maka pahit, jodoh, Pati, Bagja, Cilaka nya diri, sesuatu yang pasti pada diri kita, dan Allah sudah takdirkan kita pada hal-hal tersebut.

Baca Juga :  5 Pelajaran dari Kemenangan 4-0 Barcelona: Griezmann di Mana?

Sahabat…
Antara diri dan naluri, jika sudah menyatu ia akan menguatkan potensi diri.
Potensi jiwa.
Potensi hati.
Dan potensi diri itulah yang akan menguatkan iman dan ketaqwaan kita pada sang pencipta.
Semoga kita mampu menumbuhkan naluri illahiyah kita sebaik mungkin.
Insyaallah kita bisa, dan diberi kemampuan memperjuangkan kepekaan naluri kita, amin.
Alhamdulillah.

***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Apa itu Haji Metaverse dan Bagaimana Sikap Dunia Muslim?

Kam Feb 10 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – Haji metaverse menjadi perbincangan di kalangan netizen di media sosial. Itu terjadi setelah pemerintah Arab Saudi mengumumkan inisiatif virtual reality (VR) yang memungkinkan umat Islam untuk menyentuh Hajar Aswad tanpa meninggalkan rumah mereka. Teknologi tersebut disebut “Virtual Black Stone Initiative” yang merupakan teknologi VR baru […]