REFLEKSI | Pelintir Informasi

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

PEMELINTIRAN Informasi, adalah suatu proses perbuatan atau cara memelintir, melakukan distorsi informasi, sehingga yang disampaikan jauh dari apa yang dimaksudkan…waduh, ko bisa?

Pemelintiran Informasi biasanya dilakukan oleh mereka yang kontra, bisa lawan politik, badan atau organisasi tertentu, juga segelintiran orang, atau individu-individu yang ingin mengangkat isu, membuat heboh, membikin riuh situasi, sehingga diharap oleh mereka terjadi chaos, kekacauan sosial secara nasional.

Yah…yang kita bicarakan ini, adalah sebuah cerita di negeri dongeng, yang sedang akan di rusak keharmonisan, ketentraman, dan kenyamanan tatanan kemasyarakatan nya…sehingga, dicarilah cara untuk menjatuhkan penguasanya, lewat pion para menterinya, yang bisa dihajar lebih dahulu.

Maka dibuatlah cerita, harus ada skenario pembusukan pada penguasa, dimunculkan lah kambing hitam, siapa yang bisa terlebih dahulu dijadikan sasaran kebencian…

“Yahh, ada jalan…!”

“Rupanya di negeri impian itu, seorang menteri dari sang raja bicara masalah toa, padahal toa di kerajaan itu sudah bagai zimat yang dianggap sakral, dan ampuh tak bisa diganggu gugat keberadaannya. “

“Hingga mereka yang berani menganggu gugat toa, di ibaratkan, seperti akan membangunkan macan yang tertidur.”

“Jika macan sudah terbangun, terganggu berita toa yang ia dengar harus dibuat aturan penggunaan nya, maka si macan itu, akan mengajak seluruh binatang buas lainnya yang sejenis, untuk ikut mengaum…sebagai tanda marah dan ketidaksukaannya. “

“Macam mengaum, binatang buas melolong, kera-kera riuh menjerit saling bersahutan, maka,…”

“Akan geger senegeri dongeng itu, rakyatnya ikutan histeris, seperti tercerabut mustika saktinya, toa yang sudah dianggap jimat, bisa hilang pamornya jika penggunaannya sampai di atur-atur oleh negara, rakyat berkuasa, tak bisa dikalahkan, pikir si Udin ompong, dalam batinnya penuh kecaman.”

Baca Juga :  Pegiat Kefir Prihatin Pandemi Corona Terus Merebak

Para bohir, para cukong, politikus busuk negeri itu tersenyum manis. Permainan mereka membuat kisruh, telah membuahkan hasil, maka semakin seriuslah mereka menonton dari kursi goyang, bertopang dagu, sambil menikmati kopi hitam, Pangalengan, sambil berkata, “Asik, manis kopinya, telah menghitam kejernihannya, hahaha.” Tertawa puas di bohir, cukong, dan politikus busuk menyaksikan rakyat yang semakin bergolak.

Adanya gejolak sosial, merupakan situasi yang terus dipupuk, dari peristiwa chaos ini.
Strategi membangun ketidakpercayaan, pada pemerintah, tokoh nasional, khususnya para pembantu penguasa…adalah hal biasa yang sudah tak asing lagi dimainkan di negeri dongeng itu.

Politik pecah belah, “divide et impera,” masif dilakukan, sehingga pergolakan terjadi dalam skala besar, dan masyarakat yang awalnya tak faham, terbangun rasa kesalnya, hingga akhirnya, ikut-ikutan mengecam dan dan bangkit rasa emosionalnya.

Hingga pada titik klimaksnya, berulangkali kelompok yang disiapkan si bohir ini, selalu memobilisasi massa untuk diarahkan menjatuhkan marwah pemerintahan penguasanya sendiri, atau tokoh tertentu yang mereka bidik, agar terpuruk dan bisa menjungkalkannya.

Ciri pergerakan kelompok si bohir yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan pemerintahan di negeri dongeng itu, adalah dengan cara ;

1. Mencari isu yang bisa diangkat.

2. Mendistorsi setiap informasi yang baik, menjadi berita buruk, yang dianggap cacad program, sehingga menjadi berita negatif yang harus di kecam.

3. Munculnya para tokoh pengecam, baik tokoh politik, tokoh partai, tokoh nasional, yang hadir bersamaan untuk ikut meramaikan, dan menguatkan informasi yang sudah terdistorsi itu, sehingga terjadi rentetan letupan bara api yang terus dihembuskan, seakan terjadi kesalahan, dan kelengahan cacad program…lalu stigma negatif, diketuk palu, untuk dihujat bersama-sama.

4. Memainkan disinformasi lewat media sosial, yang dilakukan para relawan, simpatisan, dan mereka yang ikut-ikutan menabuh genderang kegaduhan, sehingga kegaduhan masuk ke ruang privat setiap individu, dan pengorengan isu semakin masif, semakin besar, dan menjadi bom waktu yang siap diledakan.

Baca Juga :  Pesan Wali Kota Tasikmalaya Setelah Ditahan KPK

5. Media massa ternyata tak jadi peredam ! narasumber didatangkan, talk show, wawancara dilakukan secara live, namun tetap, distorsi malah semakin menemukan jalannya, kerancuan, ketidak proporsian telah menjadi sebuah kebenaran.

6. Isu terus digoreng, satu sampai seminggu lebih, berita bohong penuh narasi kebencian disebar dengan banyak bumbu distorsi, ditambah ilustrasi baik dengan meme, atau hujatan-hujatan, sindiran yang arahnya mulai melebar, kepenyelengara negara, penguasa yang sedang berkuasa

7. Kebencian terus dipupuk di negeri dongeng itu, lewat ceramah langsung para agamawannya, di mimbar mimbar tempat ibadah, dan di tempat-tempat pengajian, semua dibuat emosi, provokasi massa masif tak hanya di dunia Maya, didunia nyatapun, jelas sangat kuat dimainkan.

8. WA group pun sama, dalam kumpulan ikatan orang-orang yang kita kenali, sudah disusupi dengan terang-terangan, para sahabat telah terpancing ikut-ikutan jadi pembenci, berani menebar isu kebencian, agar yang lain sama bisa di provokasi untuk tumbuh kebencian yang serupa.

Lalu bagaimana negeri dongeng itu bersikap ?
Rakyat negerinya telah kalap, pikiran jernih telah tertutupi kabut pekat yang mengaburkan arah pijakan.

Balik lagi ke fungsi toa yang di jimatkan !
Penguasa negeri dongeng itu seakan masuk dalam perangkap skak ster dalam permainan bidak catur, yang memojokan.

Anak buahnya diharap jangan lari kesana kemari mencari selamat.
Hadapi saja dengan kewarasan dan kepintaran ala pemain catur profesional, Gerry Kasparov, Grandmaster catur yang memiliki ELO rating tertinggi 2851.

Masa Grandmaster, kalah sama bohir dan cukong, yang hanya bisa memainkan boneka caturnya di balik layar, hehehe.

Satu kesempatan aparat untuk membekuk si pembuat onar, tutup permainan caturnya ! jangan terpancing oleh zigzagnya pion kuda, yang selalu loncat kesana kemari mencari korban.

Baca Juga :  Dalam Peristiwa Isra' Mi'raj ada Enam Fakta Menarik

Aturan toa nyatanya cukup ampuh memberi jalan, semakin terlihat jelas siapa pemain antagonis, yang bermain peran !

Ketika panggung sudah dihamparkan, tak terasa mereka bermain dengan pendalaman lakon yang aktraktif, cerita yang mereka bawakan adalah lakon, “Pemelintiran Informasi,” sehingga semakin memberi terang, ada sosok-sosok di negeri dongeng tersebut, yang kerap kali menjadi,”trouble maker,” di negeri dongeng itu.
Apakah mereka telah menjelma sebagai resi ?
Tokoh berpengaruh yang dihormati didunia pewayangan !

Atau mungkin mereka itu, “Dorna,” sebenarnya di zaman ini !

Waladalah, toktoktoktok…”
Dan peti wayangpun diketuk, kelir gunungan di mainkan, maka cerita dongeng ini pun penulis akhiri.***

  • Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008).

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Diduga Malpraktek, Rumah Sakit Swasta di Kecamatan Gedangan Dipolisikan

Jum Mar 4 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SIDOARJO – Kepala Desa Semampir, Kabupaten Sidoarjo, Luqman Mualim melaporkan rumah sakit swasta di Kecamatan Gedangan atas dugaan malpraktik. Laporan dilakukan di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim. Luqman melaporkan EY salah seorang dokter spesialis kandungan di rumah sakit tersebut pada Kamis (3/3/2022) menyusul meninggalnya sang […]