REFLEKSI | Perlunya Ngaji

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

NGAJI merupakan aktivitas belajar, mendengar, mencermati, sambil akhirnya, mengulang kembali dan mencernanya secara mendalam, sehingga benar-benar menjadi ilmu yang sampai ke pemahaman, dan menjadi ingatan yang kuat pada memory.

Perlunya mengaji, atau mencari ilmu, adalah wajib !
Karena dengan ilmu maka akan di bukakan kebaikan untuk bekal kehidupan kita pada masa sekarang, maupun di masa depan.

Ilmu adalah cahaya, ilmu mampu pembangun kehormatan diri.
Dengan ilmu manusia menjadi manusia mulia, berderajat, dan berbudi luhur, yang akan menghantarkan ia pada kedudukan manusia “linuwih,” berpandangan pendalam, profesional secara keilmuan, yang berpandangan luas, yang menjadikan dirinya mampu bersikap adil bijaksana.

Ilmu adalah penguat karakter diri. Jalan menuju mendapatkan apa yang dicita-citakan, maka pantas hadist Nabi SAW menyebutkan, siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya harus dengan bekal ilmu pula.

Perlunya ngaji adalah salah satu cara kita mendapatkan ilmu yang kita perlukan, pemahaman yang ingin kita kuatkan, dan kebermanfaatan ilmu yang nantinya akan mencahayai kita.

Ngajipun atau mencari ilmu,”pangaweruh,” itu perlu kehati-hatian pula. Tidak bisa setiap majlis kita datangi, setiap hari, setiap waktu, sampai lupa diri mencari ikhtiar kehidupan.

Sudah banyak fenomena seperti ini, entah apa yang dicari, yang jelas ini kurang baik khususnya bagi yang seharusnya berikhtiar mencari nafkah, namun beda soal jika kebutuhan wajib sudah tak jadi masalah, menuntut ilmu dengan mendatangi majelis ilmu yang tepat itu sangat dianjurkan.

Mencari ilmu pada hakekatnya membuka pintu wawasan kita, sehingga mampu membentuk diri kita menjadi, manusia berwawasan, manusia berkarakter, berprinsip, manusia yang semakin menjadi baik, menjadi saleh, menjadi manusia yang mampu bermanfaat dan mengontribusikan kebermanfaatan dirinya pada sesama dengan nilai-nilai moral dan etika yang tinggi.

Baca Juga :  Dilaporkan Dugaan Penipuan, Bos Waralaba Rencana Lapor Balik

Dengan ilmu yang benar yang ia pahami, ia akan bisa menghargai sesama, menghormati sesama, dan jauh dari rasa sombong bahwa ia orang berilmu.

Akan sangat berbeda dengan yang sebaliknya.
Yaa, jika ia disesatkan oleh ilmunya, maka yang muncul adalah, ia akan membusungkan dadanya, menunjukan keangkuhan dan ciri watak kesombongannya.

Hingga ia dengan mudah meremehkan manusia lainnya.
Bahkan bicaranya selalu menyindir, memojokan orang, bersikap acuh tak peduli, bersikap dingin, berwajah masam, dan gestur yang tak bersahabat, yang itu sangat terlihat kasat mata oleh siapapun, dan terbaca tentunya bagi yang pandai membaca bahasa tubuh.

Perlunya kita ngaji pada guru yang benar, adalah untuk mendekatkan hati kita pada sang maha pencipta. Guru yang sesuai yang harus kita temukan, akan mampu menunjukan kita pada jalan kerendahan diri, pada jalan kesalehan sosial, pada jalan kebermanfaatan diri, dan pada terbangunnya kebahagian hati, yang kita temukan kembali dari kita ikut mengaji.

Ilmu akan menjadikan kita mawas penuh kehati-hatian pada ucapan, maupun tindakan, dan awas, waspada pada setiap yang yang akan mencelakakan diri kita.

Menjadi orang berilmu, berarti menjadi orang yang sering mentafakuri diri, alam, dan keseluruhan yang menjadi fenomena, tanda-tanda alam yang nampak.

Akhir dari mengaji, mencari ilmu, bukan untuk di koleksi, diingat-ingat kajian bahasannya, yang akhirnya akan terlupa kembali dari ingatan kita

Awal dari hasil mengaji, adalah mengkajinya kembali setelah mendapatkannya, dan terakhir mentafakurinya kembali, hingga menemukan jawaban-jawaban kebenaran, yang Allah hadirkan dalam hati kita, sebagai keberkahan ilmu yang kita pelajari.

Walhasil, menjadikan diri kita menjadi orang terberkati, dan menjadikan diri kita menjadi keberkahan untuk banyak orang, setelah kita paham arti ilmu, yang harus kita syiarkan kembali, sehingga menambah keberkahan dari ilmu itu, dan untuk diri kita sendiri.

Baca Juga :  Dengan Masaro ITB, Dari Sampah Menjadi Rupiah

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

SKETSA | Goenawan Mohamad

Kam Okt 13 , 2022
Silahkan bagikanOleh Syakieb Sungkar TANGGAL 18 Oktober 2022 nanti, Goenawan Mohamad akan menerima hadiah penghargaan dari Japan Foundation di Tokyo. Sebuah penghargaan prestisius yang hanya didapat oleh sedikit orang terpilih, karena karyanya dan prestasinya selama ini, serta sumbangsihnya untuk kemanusiaan, seperti Haruki Murakami, yang pernah mendapat hadiah yang sama. Ia […]