REFLEKSI | Pernahkah Namamu Disebut dan Dipanggil Allah ?

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Si.

JUDUL di atas seperti sebuah provokasi, yang membuat kita masuk ke dimensi berpikir untuk merenungkannya !

Apa ia Allah bersedia memanggil kita ?
Bahkan menyebut nama kita !
Berkali-kali pula !

Apa keistimewaan yang kita punya, kita lakukan dan miliki ?
Bukankah kita ini mahluk pendosa yang banyak khilaf !
Tapi mengapa Allah mau menyebut nama kita dengan sebegitu istimewanya ?

Sebagian umat Muslim, bahkan ada yang tidak menyukai bersholawat untuk membuktikan rasa cintanya pada Kanjeng Nabi.
Bahkan sholawat yang diciptakan oleh para ulama salihin, mereka anggap mengada-ada, dan bid’ah.

Sebegitu picik mereka melihat antusiasme para pecinta Nabi SAW, dengan beragam sholawatnya, yang mereka anggap sebagai bentuk penyimpangan.
Dan itulah cara Iblis, menyesatkan, dan menjauhkan manusia dari sumber utamanya, Allah SWT, yang menyimpan rahasia besar dalam keberadaan “sholawat,” yang kita cintai ini.
Untuk hal yang sangat gamblang Allah wartakan saja, banyak saudara kita yang masih sangsi !
Tidak percaya, dan di anggap mengada-ada.

Apalagi jika mengacu pada judul, yang bombastis seperti di atas,
“Pernahkah Namamu Disebut dan Dipanggil Allah ?”
Lalu itu di kaitkan dengan sholawat !
Sepertinya sebuah keniscayaan yang tak mungkin !

Karena pikir kita sebagai manusia biasa, hanya orang-orang saleh yang memiliki derajat tertentu saja, seperti mereka yang sudah bermaqom wali lah yang terpikir, sosok khusus yang bisa Allah perhatikan dan Allah sebut namanya.

Dan dalam anggapan kita sebagai manusia biasa, yang tak berderajat wali, jangan berharap nama kita di sebut, dan di panggil Allah.

Itu seperti sebuah kepesimisan !
Keraguan yang kuat mengakar !
Sebuah kotoran bersuudzon yang menutup kejernihan hati kita, karena jarangnya kita mau berpikir kritis, berpikir mendalam, mentafakuri setiap sinyal-sinyal, tanda, perlambangan yang Allah hadirkan.

Baca Juga :  Menag Imbau Penyaluran Zakat Jangan Timbulkan Kerumunan

Padahal, seperti halnya mata yang kita miliki sebagai karunia Allah, karena sudah sangat dekatnya, sering digunakan, akhirnya kita lupa untuk syukur nikmat setiap hari, atas anugrah terbesar pada adanya penglihatan itu.

Ini pun sama halnya dengan ssholawat, kita hanya menggunakannya hanya pada saat salat, karena di sana hukumnya wajib, sholawat harus ada dihadirkan.
Tapi setelah itu, sholawat dalam setiap waktunya tidak kita pakai.

Padahal rahasia besar, sudah begitu sangat dekatnya kepada kita, sebuah informasi yang Allah wartakan, namun, kita gagal paham menangkap dan mengetahui hal ini.

Yaa, seringkali kita abai, dalam menangkap pesan Allah yang sangat gamblang untuk kita cerna dengan mudah.
Pada dasarnya hal ini adalah rahasia, dari rahasia yang tidak banyak diungkap oleh siapapun.

Dan untuk setiap ibadah yang kita lakukan setiap saat, itu adalah bentuk ketaatan kita padaNya, yang kita lakukan baik pada salat, dzikir, puasa, haji, qurban, infak, sedeqah, zakat, dan lain-lainnya.
Semua sisi ritual, ibadah yang kita lakukan itu, adalah sebagai bentuk penghambaan, pengagungan, memenuhi panggilan, memenuhi kewajiban kita, sebagai bentuk ketaatan kita pada Allah SWT, di ritual ibadah ini, kitalah yang banyak menyebut, namaNya.
Dan Allah melihat, serta malaikat mencatat amalan kita.
Hanya sampai titik ini saja.

Dimana untuk semua yang kita lakukan dan kita perbuat tersebut, tentunya ini dibarengi dengan adanya kesadaran, ketulusan, dan terbangunnya ketaatan kita, bahwa Allah memang layak kita sembah, kita sebut namanya dalam dzikir pengagungan kepadaNya.

Ada keistimewaan apa pada sholawat?
Padahal warta Allah itu, sudah sedemikian berdampingan dengan keseharian kehidupan kita dalam keberagamaan yang kita yakini ini.

Lantas di mana informasi, yang memberikan sinyal, tanda, perlambangan, bahwa kita bisa sering disebut, dan dipanggil nama kita secara khusus oleh Allah !

Baca Juga :  Ketua Peradi Palembang Buka Kantor Advokat di Semarang

Yaa, hal ini ada pada keagungan, dan keistimewaan dalam bersholawat !
Dalam sholawat Itulah ada pintu masuk rahasia, agar Allah langsung melihat kita, menyayangi kita, memberi keberkahan pada kita, sekaligus nama kita akan Ia panggil berkali kali, dengan kelipatan yang dijanjikan, saat kita bersalawat pada Nabi besar Muhammad SAW.

Itu sangat dahsyat.
Sangat menggembirakan.
Sebuah ketuk palu, mensahkan kepastianNya.
Kita sangat tersanjung, Allah memanggil nama kita, dengan kita mau bersholawat.

Lalu apa dalilnya ?
Yaa, seperti biasa manusia, khususnya umat Islam Indonesia, pasti mengajukan pertanyaan seperti ini !
Bisa jadi pertanyaan ini muncul, karena merasa takut tertipu, takut dikelabuhi, takut zonk, padahal jika tak diiming-imingi informasi inipun, tetap fadhilah sholawat itu ia akan dapatkan.
Dalil seperti seperti penuntas sebuah kehausan umat atas dahaganya.

Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan, dan keistimewaan membaca salawat Nabi. Anjuran untuk bersalawat itu bisa dapat kita ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits. Anjuran membaca sholawat pertama sekali dapat ditemukan pada Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi. Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Surat Al-Ahzab ayat 56).

Dan di salah satu hadist sahih, kita mendapati keterangan, “Siapa saja yang bersholawat kepadaku sekali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim)

Itulah kunci keistimewaan kita bersholawat kepada Nabi,
Dengan kita bersholawat, Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Yang artinya ;
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.

Baca Juga :  Menyusul Kasus Pungli, Wali Kota Solo Berjanji Tingkatkan Kesejahteraan Linmas

Satu kali kita bersholawat kepada Nabi, di mana kita menyebut dan mendoakan Nabi, beserta seluruh keluarganya, untuk mengharapkan limpahan Rahmat sebagaimana yang di dapat Nabi Ibrahim.

Ternyata membuat nama kita itu langsung naik ke langit ke Arsy Nya !

Untuk dikenali Allah, sehingga satu kalinya kita bersholawat pada Nabi… Maka Allah balas, dengan Allah bersholawat, “menyebut nama kita sepuluh kali.”

Begitupun seterusnya, dilipatkan berlipat lipat, ketika kita semakin banyak bersholawat pada Nabi.

Sehingga, jika sholawat kita itu di rutinkan dalam keseharian kita, tak ayal, Allah sudah barang tentu sangat lebih dekat lagi dengan kedirian kita.
Allah mengenali kita.
Allah menyayangi kita.
Memberkahi kita.
Dan otomatis nama kita sering ‘Ia’ sebut.

Lantas kenikmatan apa lagi yang kita cari ?

Jika Allah sudah menganggap kita sebagai kekasihnya.
Sebagai manusia utama, karena seringnya kita bersholawat pada Nabi sebagai bukti kecintaan kita padanya.
Ketika Allah mencintai Nabi, dan kita mencintainya pula.
Maka Nabi mempertemukan jalan pintas bagi kita, agar kompas sholawat itu memandu kita, untuk kita dikenal Allah, dan Allah banyak menyebut nama kita, Alhamdulillah.

Semoga ini menjadi pembuka pintu kesadaran kita, dan kita tahu bagaimana caranya Allah menyebut nama kita, sehingga kita tak asing dalam pandangannya, dan di kenali sebagai kekasihnya… aamiin.
Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Tak Capai Kesepakatan, Pembahasan RUU Penanggulangan Bencana Dihentikan

Rab Jun 1 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Rapat Paripurna DPR RI ke-24 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2021-2022 memutuskan untuk menghentikan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Bencana. Pemberhentian pembahasan RUU penanggulangan bencana ini dilakukan lantaran tidak tercapainya kesepakatan antara DPR RI dan pemerintah. Kesepakatan ini diambil usai Pimpinan Komisi VIII DPR RI […]