REFLEKSI | Pijakan yang Benar

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

Sabda Nabi Muhammad SAW: “Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang lurus dan toleran.” (HR al-Bukhari).

JIKA kita melihat dan menelaah apa yang ada dalam ayat di Al Qur’an, maupun hadist Nabi SAW dalam hal berkeyakinan dan bermuamalah, sudah sangat jelas Allah memberi kepada kita panduan yang sangat kuat, bahwa berimannya orang Muslim, atau bersahadatnya seorang manusia hingga ia bertauhid, adalah untuk membangun kekuatan ahlaqnya, karena inti dari Nabi SAW di turunkan ke bumi, untuk mengajak umat manusia, agar bisa memunculkan ahlaqnya yang mulia, sebab “Ahlaq” yang mulia itu, adalah tangga untuk bisa menggapai kecintaan dari Illahi Rabbi.

Al Qur’an surat Yunus ayat 99 ;
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

Dalam surat Yunus secara tegas, mudah bagi Allah berbuat sekehendaknya, membuat seluruh umat manusia di bumi bisa beriman padanya.
Tapi bagi Allah sendiri, persoalan itu tidaklah penting !
Allah tak menghendaki apa yang ia bisa perbuat.
Keimanan adalah hidayah yang Allah karuniakan, dan itu mutlak ada dalam ranah kasih sayangNya.

Sedangkan, ada sementara manusia, diantaranya, dengan semangat berlebihan, dan tak mengenal toleransi, menyerang keyakinan agama lain, menyerang ritual agama lain, bahkan memojokannya, sampai jamaah merasa puas oleh statementnya…hanya untuk meyakinkan pada jamaahnya, bahwa, agamanya itu yang paling benar.

Lalu apakah hal tersebut kita dukung ?
Itu hanyalah mempermalukan keluhuran agama kita !
Merusak reputasi agama kita !
Dan sangat menyakiti semua, termasuk Allah yang Maha Rahman dan Rohim, menyakiti Rasulullah, dan umat Islam yang masih berpikir proporsional.
Dan apakah Nabi SAW mencontohkan hal tercela tersebut ?

Baca Juga :  Hercules Taubat dan Kedekatannya dengan Gus Miftah

Apakah ini diperbolehkan ?

Qur’an surat Al Kafirun ayat 6 ;
lakum diinukum wa liyadiin, yakni untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Sangat jelas di sini, batasan agama kita untuk kita, dan agama dari penganut kepercayaan keyakinan yang lainnya, untuk dirinya.

Qur’an surat Al An’am ayat 108;
Sudah memberi sinyal tegas kepada umat Rasulullah, agar tidak mengumbar cacian, makian, hinaan, dan meneror keyakinan agama lain, untuk memuaskan nafsu kita yang akan merusak semangat kemuliaan Agama Islam itu sendiri.
Dan Allah menegaskan dalam Firman-nya ;

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Alhamdulillah, kita memiliki suatu pedoman, pijakan yang jadi dasar bagi kita mesti berbuat yang terbaik.
Yang mulia, berharkat, bermartabat, dan keluhuran budi.

Umat yang memiliki keutamaan adalah, umat yang melihat dan mau mendengar, serta bisa menjalani, apa yang diperintahkan oleh Allah, juga Rasulullah, agar kemuliaan, marwah agama kita bisa kuat kita pegang.

Tentunya, dengan tidak merusak tatanan sosial dalam hubungan interaksi kita dengan sesama manusia, yang berbeda keyakinan, berbeda pemahaman, dan berbeda persepsinya.

Semoga pijakan Qur’an, Hadist, dan tuntunan para ulama Soleh, membuka nalar, qolbu, perasaan, dan juga mata kita, bahwa beragama mesti di bangun dengan etika, adab, dan saling menghormati dalam bergaulan antar keyakinan.

Kita tak harus merasa paling benar, paling hebat, dan paling suci !
Andai pikiran itu ada, maka kita akan di ingatkan oleh Allah pada suatu kenyataan seperti yang Allah Firmankan di Surat Al Baqarah, yang mengumpamakan kita seperti seorang yang menerangi, kemudian Allah matikan cahaya yang ada, sehingga kemudian, kita dihadapkan dalam kegelap gulitaan… Astagfirullahaladzim.

Semoga dengan semangat Nuzulul Qur’an, malam dimana Wahyu diterima Rasulullah, dimana ilmu diajarkan Malaikat Jibril, dan kenabian di nisbatkan pada junjungan kita, pencerah dan pemberi teladan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, umat Islam selalu belajar untuk menjadi umat yang utama, yang unggul, dan bukan menjadi umat pembully….amin.***

Baca Juga :  KUA Pasekan Indramayu Gelar Bimbingan Perkawinan Pra Nikah

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MUI Kecam Aksi Pembakaran Al Quran oleh Politisi Swedia

Rab Apr 20 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait aksi pembakaran kitab suci Al Quran yang dilakukan oleh politisi sayap kanan garis keras Swedia, Rasmus Paludan, (19/4/2022). Diketahui, Rasmus Paludan merupakan seorang pengacara dan juga pemimpin partai sayap kanan ekstrem dari Denmark yang berambisi melakukan demonstrasi […]