REFLEKSI | Puasa untuk Meraih Cinta

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga suprayogi, M.Sn.

CINTA kepadaNya adalah perasaan agung yang gaib, penuh gairah keimanan. Tak sembarangan manusia bisa memiliki perasaan begitu sangat mencintai, pada suatu wujud yang tak terlihat, yakni, Allah Subhanahu wa ta’ala, jika pada si hamba, tak ada jejak iman yang menempel, entah itu karena pewarisan iman dari orang tuanya, atau keluarganya.

Cinta sebagai manifestasi suatu jalinan ikatan suci, selalu memerlukan bukti, dari yang mencintainya. akan ada suatu keyakinan yang kuat, sebagai landasan adanya cinta, karena percaya cintanya akan berbalas.

Allah dalam urusan cinta, selalu membuka dirinya untuk yang mencintainya.

Tidak ada pandangan buruk di mata Allah, dalam melihat kita, hanya dari status kita orang hina, pendosa, maupun terlaknat.
Di mata Allah, semua manusia adalah berharga !
Akan sangat berbeda dengan pandangan manusia, yang kadang tertipu pandangannya, dari hanya melihat manusia dalam status sosial, dan keyakinan.

Merasa diri paling benar, paling suci, dan paling beriman, bisa jadi itu adalah sebuah ujian.
Merasa diri sebagai pendosa, paling hina, dan paling tercela, bisa jadi itu sebuah celah, dari adanya kesadaran yang muncul atas adanya ke imanan.

Kedua posisi yang berbeda seperti diatas, adalah suatu gambaran, bahwa, manusia selalu memiliki persepsinya sendiri-sendiri tentang dirinya, dalam porsi keimanan.

Coba anda pikirkan ….
Mana yang paling anda anggap baik.
Orang yang merasa Percaya dirikah !
Bahwa ia paling beriman ?
Atau orang yang memiliki kesadaran !
Bahwa ia seorang pendosa, yang berani konsukuen atas ke khilafannya !

Ingat Allah tegas dalam hal ini. Dia memperingatkan segolongan manusia yang terlalu pede tersebut, seperti apa yang ada disurat Al-Baqarah ayat 17.
Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Baca Juga :  TAFAKUR: Surat Abasa Justru Sanggahan untuk Para Pencela Alquran

Dan Allah juga menunjukan rasa sayangnya pada mereka yang mau kembali, At Taubah ayat 104,
Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?

Cinta adalah suatu harapan…
Pemberi keyakinan
Pembuka pintu magfirah, ampunan.
Ada setitik rasa cinta, cukup itu untuk bisa menyelamatkan kita…!
Khususnya bagi kebaikan kehidupan kita di akhirat kelak.

Bisa jadi di mata manusia kita dianggap pendosa, tapi di mata Allah kita adalah orang yang terselamatkan.
Mungkin juga kita menganggap kita manusia paling beriman, tapi di mata Allah kita termasuk golongan orang-orang yang celaka.

Bagaimana ini bisa terjadi ?
Balik ke hati nurani kita !

Seperti apa kita !
Seperti apa diri kita !
Hanya di mata kita sendiri, kitalah yang paling paham.
Diri kita itu seperti apa ?
Jika masih berkedok kepalsuan, tentunya kita yang paling tahu posisi kita itu masuk dalam golongan yang mana !

Seorang penipu, dan berkedok kepalsuan, tak akan menembus pintu kesejatian dan masuk kegolongan orang yang terselamatkan.
Perhatikan surat Al-Baqarah Ayat 12.
Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.

Meraih cinta Allah adalah dengan menunjukan ketulusan kita, tak ada yang kita sembunyikan tentang diri kita, baik di mata manusia, dan utamanya dimata Allah.

Menipu Allah adalah pada hakekatnya menipu diri kita sendiri.
Apakah lantas itu membuat kita bahagia ?
Ataukah kita bangga pada tipu daya kita ?
Jika kita masih merasa bisa memperdaya orang, selalu menang bisa mengelabui banyak orang, artinya, kita telah jadi manusia yang sulit mendapat hidayah, walau kita telah beriman.

Perhatikan surat Al-Baqarah ayat ke 18,
Shummum bukmun ‘umyun fa hum lā yarji‘ūn. Artinya, “(Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak akan kembali.”

Baca Juga :  Anggota Dewan Presentasikan Peran dan Kinerja DPRD Kota Bandung kepada Mahasiswa

Lalu kaitan semua hal di atas itu, dengan puasa kita dibulan penuh berkah ini, di bulan Ramadan, adalah, tumbuhnya kesadaran dari rasa cinta kita pada Dia, Dzat yang maha besar, sehingga puasanya kita, pada akhirnya mampu…

1. Dengan berpuasa, kita sesungguhnya siap memasuki kemurnian kedirian kita
2. Siap menanggalkan hal buruk yang selama ini kita genggam.
3. Meninggalkan tipu daya diri, dan mengenakan jubah diri kita yang sebenarnya, yang tak berkedok dusta, hanya untuk mengelabui orang lain.
4. Menjadi pribadi mulia.
5. Menjadi diri sendiri.
6. Menjadi Muslim sejati.
7. Menjadi pribadi unggul.
8. Menjadi manusia paripurna.

Alhamdulillah, itulah hakekat cinta kita yang terbangun atas hadirnya bulan Ramadan ini.
Tak ada kepalsuan, tak ada dusta, tak ada tipu daya, yang ada, adalah semakin besar rasa cinta kita, semakin yakin dan kuatnya ketaqwaan kita, dan semakin murni iman kita pada Dzat yang maha tahu.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Fawwaz, Siswa MAN IC Serpong Diterima di Lima Perguruan Tinggi Asia, Eropa, dan Australia

Sen Apr 4 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Siswa madrasah terus mengukir prestasi. Salah satunya adalah Muhammad Fawwaz Farhan Farabi. Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong ini diterima pada lima perguruan tinggi terbaik dunia (world class university). Kelima perguruan tinggi itu tersebar di tiga benua, yaitu: Asia, Australia, dan Eropa. Di […]