REFLEKSI | Roda Hidup Berputar

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

KITA hanya bagian dari kisah-kisah manusia, yang akan dibaca kisahnya oleh mereka yang mengikuti kisah kita.

Kita ini wayang, dengan Lakon dalam peran drama yang sarat konflik seperti di cerita Barata Yudha, versi kita sendiri, atau di seri Rama Sinta, yang kita buat seperti cerita milik kita.

Yaa..kita sombong, kita jumawa, kita sok kaya, atau kita dalam peran akhlak karakter tercela lainnya, itu hanyalah peran sesaat…!

Ketika peran itu selesai, kita dihadapkan pada peran sesungguhnya, dimana kita tak lebih dari manusia yang tak memiliki daya upaya, tak memiliki kekuatan, dan tak memiliki kehebatan lainnya yang abadi.

Jika sudah berada di posisi ingat, sadar, bisa berintrospeksi diri, namun itu sudah terlambat, dan waktu tak akan pernah bisa mengembalikan kita pada masa kita dulu pernah berjaya.

Tersadarlah kita, betapa kepongahan dan kejumawaan kita, tak lebih dari bahan para setan untuk menertawakan diri kita yang polos, akan nilai-nilai agama yang mengajarkan banyak tuntunan kebenaran, kebaikan, dalam membangun hati, kepribadian, dan kesalehan sosial yang harusnya jadi bekal kita dalam meniti kehidupan yang berarti, dan berkualitas.

Manusia gudangnya khilaf itu sudah pasti.
Manusia tempatnya bersombong ria, ya memang dominannya, demikian.

Tapi ketika Allah balikan itu semua, kondisi kita sudah renta, itulah yang dinamakan Allah dengan sebutan orang-orang lalai, dan terkelabuhi.

Sehingga ini banyak contohnya, refrensi orang yang celaka dalam kisah akhir tutup episode buku hidupnya, itu memiriskan…para penonton yang melihat kisahnya.

Kehidupannya seperti kisah dalam film, dan kita-kita semua menyaksikan itu.

Mereka….
Yang sebelumnya kaya jadi miskin.
Yang sebelumnya bermewah mewah jadi sengsara, menderita, dan hidup tersiksa di akhir usia hidupnya.
Kesombongan hanya mengoreskan luka, kejumawaan hanya meninggalkan lara.

Baca Juga :  Firli Ajukan Praperadilan, Kapolri Pastikan Proses Hukum akan Terus Berjalan

Siapa yang menabur angin…ia akan menuai badai. Siapa yang membuat luka, ia sendiri yang akan tersakiti.
Hukum karma, walau dalam Islam itu tak dikenali, tapi hukum alam membuka dirinya untuk menghukumi.

Jadilah manusia yang bijak…
Manusia yang mau membaca, dengan Iqro ia mampu membaca kitab kehidupan yang nyata, di depan mata dengan sebaik baiknya.
Hingga kita tak menjadi, dan digolongkan sebagai orang yang merugi.

Itulah mengapa di Al Qur’an cerita, kisah tentang umat durhaka di ulang-ulang banyak dikisahkan dan ceritakan.
Itu semua karena, episode kebebalan manusia selalu terulang.

Semoga kita menjadi manusia mulia yang Allah cintai, berguna diri kita bagi semesta, dan bagi anak turunan kita, yang tentunya, mereka anak cucu kita nantinya, mereka akan bangga dengan kiprah leluhur nya yang baik, dan terdepan dalam urusan menjadikan dirinya bermanfaat bagi kehidupan….

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MUI Kembangkan Panduan Dakwah Masa Kini untuk Generasi Z

Sab Nov 12 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, mengatakan bahwa Islam wasathiyah harus dibungkus secara gaul, artinya produk dakwah atau penyampaian narasi baik keagamaan harus sampai dan mudah diterima generasi muda. Masduki melihat, kencederungan metode dakwah saat ini masih didominasi cara-cara […]