REFLEKSI | Tak Sekedar Nahan Lapar

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

PUASA di bulan suci Ramadan merupakan salah satu cara Allah melakukan pengodogan mental, spiritual, untuk membangun karakter terbaik dan berkwalitas dari umatNya, dengan tujuan, agar umat Nabi bisa kembali menemukan kepekaan, insting illahiyah, yang selama 11 bulan sebelumnya, kepekaan, dan insting illahiyah itu, tertutup, bahkan terkubur oleh nafsu yang kadang membutakan.

Dari 12 bulan, ada satu bulan yang penuh keberkahan.
Satu bulan yang penuh maghfirah Allah, satu bulan yang dipenuhi sisi untuk menjungkit kualitas ruhani kita, dengan merestorasi, dan mereformasi sisi spiritual yang ada pada kita, supaya bisa menjadi seperti baru, atau memurnikannya kembali ke kesucian diri… Alhamdulillah.

Dan untuk itu, berbahagialah kita, umat Islam semuanya, bulan Ramadan yang di jelang, menjadikan bulan ini, bulan khusus bagi kita untuk membangun semua potensi diri, yang sebelumnya terabaikan…

Ramadan adalah bulan kegaiban, dan keajaiban.
Manusia khususnya muslim sebagai umatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tiba-tiba secara serentak, membuka dirinya, membuka hati, dan nuraninya, untuk bisa jadi lebih baik, dan mereka menapaki jalan kesucian, jalan keberkahan, dan benar-benar memanfaatkan satu bulan ini, yang didalamnya penuh dengan maghfirah Gusti Allah…

Dan kegaiban yang terasa, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 3,4 dan 5, mereka (muslim) beriman pada yang gaib, beriman pada Al Quran, mau mengerjakan kebaikan-kebaikan, sehingga mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan menjadi orang yang paling beruntung…. Alhamdulillah.

Ajaibnya, setiap muslim secara otomatis di bulan Ramadan ini, mendadak punya rem pakem, untuk mengontrol dirinya, dengan;
1. Menahan perut, menjaganya dengan mengendalikan rasa haus dan lapar, tidak makan minum disiang hari, sampai akhirnya berbuka pada waktunya.
2. Merapihkan ibadah kita, yang tadinya bolong-bolong, dengan kesadaran kita sedang berada di bulan suci, ibadah sholat lima waktu dibenahi, malah di sempurnakan dengan salat sunnah rawatib nya, dan ditambah salat tarawih.
3. Menjaga mata dari melihat hal yang merusak keimanan, dengan mengalihkannya hanya melihat sesuatu yang membangkitkan kesadaran beriman.
4. Menjaga mulut dari berucap yang menimbulkan dosa, menyakiti sesama, dan bicara kita pada bulan suci ini, hanya membangun kualitas ucapan yang baik, bermanfaat, dan berucap lemah lembut, pada sesama.
5. Menjaga pendengaran, dari mendengar sesuatu yang tidak pantas kita dengar, tidak perlu kita dengar, sehingga pendengaran kita otomatis, digunakan hanya untuk mendengar hal-hal positif yang memberi kesadaran diri, dan membangun semangat keimanan.
6. Menjaga hasrat dan keinginan, dari sesuatu yang tidak pada tempatnya, sehingga mengatur dan mengendalikan dirinya itu, akan memberi ketenangan.
7. Menjaga pikiran hanya untuk berpikir positif, berpikir baik dan menghindari bersuudzon atau berprasangka buruk pada mahluk lainnya.
8. Menjaga perilaku, perilaku merupakan serangkaian pola tingkah laku yang kita perbuat dalam keseharian, menjaga perilaku kita adalah bagian dari menjaga adab, kesopan santunan, dan etika kita dalam kehidupan, mampu berperilaku dengan baik, berarti mampu menempatkan diri, sesuai situasi kondisi lingkungan dimana kita berada.
9. Menjaga emosi, emosi merupakan Perasaan yang hadir sesaat, yang bisa mempengaruhi suatu tindakan, mampu mengontrol emosi dan menempatkannya pada wilayah yang proporsional, akan memberi ruang meredam apa yang tidak perlu, yang bisa muncul secara spontan.
10. Menjaga kebeningan hati, adalah usaha yang senantiasa dilakukan dari waktu ke waktu, dan khususnya di bulan suci Ramadan, usaha menjaga hati, adalah usaha maksimal untuk meningkatkan kwalitas hati itu sendiri.

Baca Juga :  Bea Cukai Musnahkan Barang-barang Ilegal Miliaran Rupiah. Ini Alasannya

Begitulah sisi upaya kita memperbaiki diri, dan mengisi Ramadan di bulan suci ini dengan kesadaran segenap hati kita, di mana kita sebagai seorang muslim, harus menghadapinya dengan kesungguhan berusaha sekuat tekad, menjaga semua sisi benteng diri kita, agar benar-benar ada dalam satu komando, ikatan untuk peningkatan kesadaran diri, agar diri bisa lebih baik, dan berkualitas paripurna diri kita ini, baik secara mentalnya, dan spiritualnya.

Semoga kita bisa menjemput keberkahan di bulan suci Ramadan ini, dengan tidak hanya menahan haus dan lapar saja, tapi bisa sampai memunculkan sisi positif, pola perilaku kita, yang Allah rindu, kepada hambanya, yang mau secara bersungguh-sungguh menempa dirinya, agar memiliki frekuensi bisa menangkap sinyal keillahiyahan, yaitu sebagai sumber dasar yang paling kuat, dalam menangkap wujud kehakikian dan kebenaran.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

2 Tahun Terhenti karena Pandemi, Masjid Raya Bandung Kembali Gelar Salat Tarawih

Ming Apr 3 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | KOTA BADUNG – Dua tahun sebelumnya, Masjid Raya Bandung terpaksa tak menggelar salat Tarawih berjemaah akibat pandemi Covid-19. Meski pemerintah telah melonggarkan aturan, tetapi Masjid Raya Bandung tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat bagi para jemaah untuk mencegah potensi penularan Covid-19. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid […]