REFLEKSI | Ubah Diri Kita

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

UBAH garis takdir kita, jika takdir yang kita hadapi dan jalani adalah sesuatu yang membuat kita ada dalam ketidaknyamanan hidup, terhimpit kesempitan, dan selalu ada dalam kekurangan.
Takdir yang kita hadapi itu merupakan tantangan Allah, yang harus kita sikapi.

Allah memberi cobaan, beban, atau ujian takdir, bukan berarti ia tak sayang pada kita.
Justru kitanya sangat dituntut oleh Allah untuk keras berpikir, keras berupaya, dan keras melakukan perubahan pada diri, dengan upaya kita membangun potensi dan kesadaran diri di luar batas seperti biasanya.

Kita harus yakin, bersikap optimis penuh gairah.
Menapaki takdir-takdir diri kita, tak lepas dari apa yang sudah kita persiapkan.
Jikalau belum ada persiapan, belum tersadar, bahwa hidup kita bisa bahagia, atau sengsara, semua itu sebab dan musababnya tergantung diri kita, maka kita harus berubah. Jangan diam tenang, seakan Tuhan akan menolong diri kita dalam seketika.

Allah tak akan mengubah suatu takdir, jika tak ada sesuatu yang secara signifikan kita lakukan untuk mengubah takdir yang sedang kita jalani.

Takdir kehidupan, sebagaimana keadaan kita sekarang, bahagia dengan kecukupan duniawi, atau kekurangan materi, dan hidup dalam keperihan, adalah dua takdir berbeda, yang harus dipahami, itu kita rasakan, adalah tergantung bagaimana kitanya.

Sudah sangat keras Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Surat Ar-Ra’d ayat 11.

Maka janganlah kita terlalu santai dalam hidup !
santai menyikapi keperihan hidup, jika kita bukan manusia yang qonaah seperti wali, (yang menerima takdir dan merasa cukup apa yang diberi Allah, dan menjauhi dunia) dan kita mengikuti prinsip wali yang menjalankan itu, maka kita adalah manusia konyol.

Baca Juga :  Sekda Pastikan PTMT di Kota Bandung Berjalan Optimal

Sebagai manusia normal, kita punya angan untuk merubah keadaan hidup kita, mereka yang santai padahal kekurangan, dan tidak mau merubah keadaan dirinya, merupakan pemalasan, bukan qonaah.

Keadaan hidup kita yang bagai kapal karam, merupakan dampak dari sikap kita yang condong santai, tidak ulet, dan tak mau bekerja keras dan cerdas.

Bangun semangat sebagai seorang pekerja keras yang juga cerdas menggunakan pikiran kita, agar mampu melihat suatu peluang untuk kita bisa masuki, sesuai kemampuan yang sudah ada pada diri kita.

Bagaimana jika kita abai dengan tidak ada kemampuan dan potensi diri ?

Potensi diri merupakan kelebihan yang ada pada kita, dan itu hasil dari kita melakukan pengalian, belajar memahami, dan berproses mendapatkannya.

Jika kita minim potensi, berarti kita harus belajar.
JIka kita tak punya potensi, berarti berupaya keras untuk mendapatkan dan menguasainya.

Diri kita harus selalu berubah tahapannya untuk menjadi lebih baik.
Dan menjadi baik, terbaik, ada pergulatan yang harus kita perjuangkan.
Dan semua itu kembali pada bagaimana kita memahami ilmu, memanfaatkannya, dan menjadikan ilmu itu keberkahan untuk diri kita.

Ilmu yang berkah, mampu membawa takdir baik bagi kita.
dicukupkan dunianya, di angkat derajat dan kemuliaannya.

Maka untuk mengubah takdir kita, pintunyanya adalah ilmu, yang dimulai dengan Iqro, agar kita mampu membaca semua hal dengan hikmah.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

MUI Ungkap Isu Krusial Pemberitaan Media Timur Tengah Terkini

Ming Okt 23 , 2022
Silahkan bagikanVISI.VISI.NEWS | JAKARTA – Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi mengungkapkan sejumlah isu krusial yang menjadi peta politik pemberitaan bagi media di Timur Tengah. Hal ini Kiai Masduki sampaikan dalam Halaqah Mingguan Infokom MUI bertajuk: Peta Politik Redaksi Media Timur Tengah Terkini. “Ada beberapa negara yang […]