REFLEKSI | Ustad dan ‘Umat’ Medsos

Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

MARAKNYA ustad yang berdakwah di ranah media sosial, tentunya semakin membuat umat kebanjiran banyak pilihan, untuk bisa belajar mendapatkan ilmu agama, pemahaman, dan wawasan yang baik, untuk menambah kwalitas asupan pemahamannya, yang akhirnya bisa menjadikan ia (secara individu) benar-benar mendapat manfaat, tercerahkan, dan tidak menjadi umat, atau individu yang sesat paham, dan salah jalan.

Dakwah yang baik dan disampaikan lewat media apapun sebagai pilihan, selama koridornya membangun konstruksi pemahaman yang positif, memberi kesadaran, bisa bermanfaat, dan bisa menambah ilmu ketauhidan pada kita, yang akhirnya menjadikan dan membuat kita takut pada Allah Azza Wa Jalla, itu merupakan dakwah qolbun salim, yang mendidik hati kita untuk patuh, membawa hati menjadi lurus, bersih, suci, dan ikhlas dalam segala hal, baik di gerak, pikiran, perasaan, perbuatan dan lain sebagainya.

Inti dari setiap dakwah adalah menganjurkan hal baik, membangun ketaqwaan, dan menguatkan keimanan. Menunjukan jalan yang lurus, yang selalu mengingatkan kita pada halusnya tipu daya Iblis yang menyesatkan.

Dakwah yang baik harus menjadi bagian yang di pegang teguh, sebagai pedoman oleh para ustad, ajengan, kiai, para ulama yang menyeru pada jalan Allah.

Bagaimana karakter dakwah yang baik ?
Membuka kebermanfaat ilmu, menjadikan manusia lebih cerdas, terbuka cahaya hatinya untuk menjadi lebih alim, dan sangat cinta pada teladan Nabinya, lalu menjadi takut pada Allah yang telah memberinya banyak kebaikan, sehingga besar kemudian rasa syukurnya atas semua nikmat Allah yang telah ia terima.

Lantas bagaimana karakter dakwah yang buruk ?
1. Memadamkan cahaya hati umat, sehingga sifat riya, ujub, takabur, dan sombong serta gila pujian, dengan dampak pada umat yang di matikan cahaya hatinya, maka ia sulit di ingatkan, diluruskan, merasa paling benar sendiri, merasa paling suci, dan paling dekat dengan Tuhannya, maka umat yang bertanda seperti ini, ia sudah keras hatinya hingga membatu, karena terpapar hasutan ilmu Ustadnya.
2. Menebar fanatik buta, sehingga umat terjebak sulit berpikir jernih untuk menjadi pintar dan cerdas.
3. Membangun kekultusan individu, sehingga kesalahan baiknbesar maupun kecil dari si ulamanya, selalu di anggap benar dan mendapatkan pembelaan yang tak rasional.
4. Sangat banyak menebar fitnah, kebencian, dan mengobarkan permusuhan.
5. Memiliki ciri sangat benci pada pemerintahan, selalu berjuang membangun makar, dengan memanfaatkan kebodohan dari kalangan umat yang mudah diperdaya, dengan mengiming-iminginya sorga, bila sampai syahid dalam melakukan perjuangannya.
6. Terus mendokrin dan meracuni pikiran individu atau sekelompok umat yang tidak memiliki prinsip dan karakter kuat, sehingga bisa ia jadikan alat, sebagai kaki tangan yang mampu digerakan untuk pengkondisian situasi yang ia perlukan.
7. Tidak memberikan celah untuk berpikir bijak pada umatnya, tapi membangun pemikiran picik dan sesat.
8. Setiap statementnya selalu meresahkan dan memecah belah umat.
9. Antara ucapan, dan perbuatan tidak singkron, sah ia menjadi seorang yang munafik buat dirinya sendiri, namun menuntut orang lain untuk selalu konsisten dalam ketaatan pada Allah.
10. Dakwahnya di pakai untuk kepentingan memperkaya diri sendiri.
11. Selalu menyebut mewakili suara umat, padahal itu untuk mengamankan dan mempertahankan hegemoni cengkeramannya membodohi umat.
11. Tidak membuat umat menjadi pintar karena isi dakwahnya, tapi membuat umat jadi bingung, jadi bodoh, dan dengan itu ia selalu mampu mempelintir isue apapun, dan umat selalu memilih membenarkan konsep berpikir ulama yang ia anggap benar itu.
12. Keras terhadap ulama lain yang pandangannya benar, bahkan berani menyalahkan ulama yang benar.
13. Tidak menunjukan pribadi yang saleh, serta memiliki adab mulia, dan cenderung mengedepankan suudzon, berburuk sangka.
14. Berani menuduh orang lain murtad, kafir, bid’ah dengan sangat terang terangan.
15. Selalu menjelek-jelekan pemahaman, dan agama orang lain, sebagai topik dakwah yang ia anggap selalu jadi topik menarik untuk umat yang dibodohinya.
16. Selalu menjadikan keterpurukan umat muslim di negara lain sebagai jalan mencari donasi, namun tidak berkoordinasi dalam pemberian sumbangannya dengan institusi negara, baik di dalam negerinya, maupun di luar negerinya, sehingga celah ini, seringkali di salahgunakan olehnya.

Baca Juga :  Team ProTag Selandia Baru dan Team Threeotech Thailand Maju ke Kejuaraan Dunia Imagine Cup Microsoft

Beberapa poin di atas tadi adalah contoh buruk, dari dakwah yang paling bisa menyesatkan pikiran sehat pada umat, ketika umat tak memiliki dasar yang kuat dalam memfilter dakwah yang disampaikan lewat media sosial.

Awalnya sangat mengharapkan tambahan ilmu agama dari para ustad yang dapat ia lihat, dengan menonton konten YouTube, Instagram, Twitter, group WhatsApp, Telegram, Facebook Fans Page, Aplikasi Suara seperti SoundCloud, podcast, dan lainnya.

Yang terjadi malah kita di buat jadi manusia yang los rem filter dirinya, tak bisa melihat kebenaran, tak bisa menemukan jalan lurus, akibat bekal sebelumnya terhadap pengetahuan agama kita yang minim.

Di zaman sekarang ini, dimana segala macam serba digital maka dakwah yang baik dan efektif, maupun yang mampu menghipnotis, dan menipu, mampu di tampilkan secara efisien.

Dan ini menjadi PR besar bagi umat, agar bisa memilah mana ustad, ulama yang sebenarnya memiliki ilmu ketauhidan yang membangun kesadaran keimanan kita.

Maka dari itu, isi dulu pemahaman kita dengan dasar iman dan ketauhidan yang sedikitnya kita memiliki rambu-rambu pengingat.

Sombong, riya, iri, dengki, suudzon, meremehkan orang, membanggakan diri, merasa paling suci, paling benar, sok berkuasa, memegang jabatan dan gila terhormat, adalah sebagian kecil kata kunci yang harus jadi pegangan umat.
Bahwa jika ada dalam diri si penyampai dakwah itu telah memperlihatkan hal tersebut, sudah selayaknya kita abaikan dan tinggalkan, karena dengan kita terus mengaguminya, tak ada kebaikan ilmu yang akan kita dapat.

Yaa kemajuan media dengan adanya internet, telah memberi dorongan yang besar, bagi banyak orang yang haus akan ilmu agama, dalam menambah wawasannya pada pemahaman agama, sehingga kekurang fahaman pada ilmu agama, bisa di tingkatkan, hingga ilmunya terus bertambah melalui bantuan adanya media ini.

Baca Juga :  UMKM Dilatih Hasilkan Produk Kerajinan untuk Souvenir Pertemuan G20

Ustad Youtobe, adalah istilah yang dimunculkan karena sosok ustad ini mengemas syiar dakwahnya dari YouTube. Sehingga dengan saluran chanel yang ia siapkan, para jamaah yang menontonnya, otomatis bisa menjadi followers atau pengikutnya, dimana ketika mereka me-likes, memberi jempol, untuk menunjukan rasa sukanya, maka setiap like meninggalkan rekam jejak yang mampu terbaca oleh mesin, dan like menjadi barometer, masuknya iklan tertentu sehingga menghiasi channelnya, yang dari situ itu bisa menghasilkan uang.

Pergeseran tehnologi dengan keberadaan YouTube telah memberi ruang bagi syiar Islam untuk tampil lebih luas, dan mampu menjangkau berbagai kalangan, dimanapun berada, selagi sinyal dari provider bisa ditangkap para jamaah di daerahnya.

Banyaknya isi dakwah yang ditampilkan dalam YouTube yang kita bisa saksikan, merupakan fenomena dari sebuah oase yang nyata kebenarannya, maupun hanya sebuah fatamorgana.

Yang nyata kebenarannya adalah, ketika dakwah yang di sampaikan para ustad tersebut, merupakan dakwah bil haq, yakni dakwah yang membuka pintu hati, memberi pemahaman haqiqi tentang ajaran moril yang membuat kita sebagai manusia tumbuh rasa kecintaan kita pada kebenaran sejati, kemanusiaan, ke illahiyahan, yang semakin menyadarkan kita, pada fungsi dan peran kita, sebagai manusia yang harus bermanfaat bagi manusia disekelilingnya, dan menjadi manusia yang memiliki sifat rahmatan lil alamin, yang mampu memberi rahmat bagi sekelilingnya.

Semoga usaha kita dalam mencari ilmu agama, mampu di imbangi oleh kemampuan kita memilih ustad yang memiliki ke alim’an, berilmu tinggi, memiliki sanad keilmuan yang jelas, mampu menundukkan hati yang keras menjadi hati lunak yang memunculkan potensi ketauhidan murni yang semakin menambah ketaqwaan kita.

Mari kita abaikan dari sekarang dakwah ustad di medsos yang membangun intoleransi, membangun perpecahan dan permusuhan, menghasut umat untuk menumbuhkan kebencian baik pada individu, golongan, apalagi terhadap pemerintah sebagai ulil amri bagi kita semua.

Baca Juga :  HAJI: Pelayanan yang Baik Kewajiban Negara pada Umat

Semoga kita dimudahkan mendapat ulama yang bisa menuntun kita pada jalan yang benar dan terang, dan menjauhkan kita dari ulama “SU” yang jelas akan menyesatkan kita dan memanfaatkan kita untuk kepentingannya, yang tentunya tidak membawa kebaikan apapun pada kita yang memanutinya.

Ingat pesan Nabi Agung kita, Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. (HR Ad Darimi).***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Rider Aleix Espargaro Tercepat di FP 2 MotoGP Catalunya

Sab Jun 4 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS/CATALUNYA– Pebalap Aprilia, Aleix Espargaro tampil sebagai rider tercepat pada Free Practice 2 MotoGP Catalunya, yang berlangsung di Cirkuit de Barcelona, Catalunya, Jumat (3/6/2022) malam WIB. Aleix Espargaro sukses menuntaskan FP 2 dengan catatan waktu tercepat 1 menit 39,402 detik. Posisi kedua ditempati mantan pebalap Yamaha yang hijrah ke […]