RUMAH ALLAH: Masjid Raya al-Fatih, Kebanggaan Negeri “Dua Lautan” (1)

Editor Interior Masjid Raya al-Fatih Bahrain./republika/erdy nasrul
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Bahrain merupakan sebuah negara pulau di Teluk Persia. Seperti umumnya negara-negara kawasan Arab, wilayahnya didominasi padang pasir, yakni lebih dari 90 persen luas keseluruhannya. Kerajaan yang beribu kota di al-Manama itu terhubung dengan Jazirah Arab melalui Jembatan Raja Fahd.

Selain Arab Saudi, tetangga terdekatnya adalah Qatar yang berjarak hanya sekira 50 kilometer dari arah tenggara. Bank Dunia menggolongkannya sebagai sebuah negara berpendapatan tertinggi. Di samping itu, Bahrain juga memiliki tingkat Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi.

Sejak akhir 1990-an, pemerintah setempat memacu sektor perbankan dan pariwisata, tidak hanya mengandalkan penerimaan dari minyak bumi. Alhasil, kini negara yang sedikit lebih luas daripada Singapura itu menjadi salah satu primadona turisme dunia.

Biasanya, Bahrain menerima kunjungan tak kurang dari empat juta turis per tahun. Para pelancong dapat menikmati berbagai destinasi pariwisata setempat, mulai beragam mal, museum, arena sirkuit Formula-1, hingga pulau-pulau buatan.

Khususnya bagi Muslimin, yang sayang bila terlewatkan ialah masjid-masjid megah di sana. Salah satunya adalah Masjid Raya al-Fatih di Kota al-Manama.

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1988 itu merupakan salah satu masjid terbesar di dunia. Tempat ibadah itu dibangun di atas lahan seluas 6.500 meter persegi. Secara keseluruhan, daya tampungnya memuat hingga tujuh ribu orang jemaah.

Selain berfungsi sebagai sarana peribadahan, Masjid Raya al-Fatih juga dibuka untuk para wisatawan, termasuk yang non-Muslim. Asalkan, mereka mematuhi tata krama dan peraturan untuk memasukinya, seperti berpakaian yang menutup aurat.

Inisiator masjid tersebut adalah sang amir pertama Bahrain, Syekh Isa bin Salman al-Khalifa (1931-1999). Ia bermaksud mendirikan sebuah masjid nasional tidak hanya sebagai sarana publik bagi rakyatnya, tetapi juga menyimbolkan kejayaan dan persatuan negeri.

Baca Juga :  Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta Dipangkas Demi Refocusing Penanganan Covid 19

Sebagai informasi, negara yang namanya secara harfiah berarti ‘dua lautan’ itu mendeklarasikan kemerdekaan dari Britania Raya pada 15 Agustus 1971. Sejak saat itu, negara petrodolar tersebut terus berbenah diri hingga menyongsong zaman modern dan pascamodern.

Masjid yang dinanti-nanti akhirnya tuntas dikerjakan. Syekh Isa kemudian menamakannya sebagai Masjid al-Fatih. Ia terinspirasi dari sosok Ahmad bin Muhammad (1783-1795), sang leluhur Dinasti al-Khalifa yang memerintah Bahrain sejak dahulu hingga kini.

Ahmad memiliki nama julukan, yakni al-Fatih, ‘sang penakluk.’ Sebab, dialah yang pertama kali menaklukkan suku-suku bangsa yang menghuni pulau tersebut dan menyatukannya secara politik.

Masjid Raya al-Fatih didominasi warna krem dan putih. Salah satu aspek yang mencolok dari bangunan tersebut adalah kubahnya. Seluruhnya terbuat dari bahan kaca serat (fiberglass). (bersambung)/@fen/sumber: republika/hasanul rizqa

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH: Ulama Meninggal Beruntun, Umat Islam Harus Waspada

Sen Jan 18 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Berita duka dari kalangan ulama berturut-turut hadir selama beberapa waktu terakhir. Terbaru, Indonesia berduka dengan wafatnya Syekh Ali Jaber dan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Beruntunnya berita duka ini membuat banyak umat Islam berpandangan tentang terbuktinya dua hadis Rasulullah saw. Hadis pertama diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, […]