RUMAH ALLAH: Masjid Raya al-Fatih, Kebanggaan Negeri “Dua Lautan” (2/habis)

Editor :
Interior Masjid Raya al-Fatih Bahrain./republika/erdy nasrul

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Itu menjadikannya sebagai kubah fiberglass terbesar di dunia. Kemegahan masjid ini juga tampak dari bagian lantainya yang terbuat dari marmer Italia. Bagian interiornya dipercantik dengan lampu gantung besar yang diimpor langsung dari Austria. Adapun semua pintu pada bangunan ini dibuat dari kayu jati India.

Masjid kebanggaan masyarakat Bahrain itu menampilkan corak arsitektur modern yang dipadukan dengan unsur-unsur budaya India, Arab, dan Turki. Warna kultur India tampak dari bentuk kubah yang menyerupai setengah bola dan dua menaranya yang tinggi menjulang.

Adapun rona budaya Arab terlihat dari penampakan eksterior bangunan utamanya. Pada bagian atapnya, terdapat pola-pola geometris, seumpamanya benteng-benteng klasik di Tanah Arab—sebut saja Benteng Masmak di Riyadh, Arab Saudi.

Pesona Masjid Raya al-Fatih semakin terasa di bagian dalamnya. Bila melihat langit-langit di ruangan utama tempat salat, Anda akan merasa seakan-akan berada di masjid historis Turki. Ya, penampakan sisi interior masjid tersebut tampaknya sengaja diserupakan dengan masjid-masjid klasik dari peradaban Utsmaniyah.

Kubah raksasa ditopang dengan empat pilar yang terhubung satu sama lain oleh lengkungan. Sisi-dalam kubah tersebut menampilkan motif-motif geometris yang minimalis sehingga terkesan mengikuti gaya arsitektur modern.

Tepat di bawahnya, ada sebuah lampu gantung besar, dengan bola-bola lampu kristal yang indah. Berbagai ukiran kaligrafi ayat-ayat Alquran kian mempercantik sisi interior dan eksterior masjid tersebut.

Otoritas setempat sejak tahun 2006 menambahkan fungsi pendidikan pada Masjid Raya al-Fatih di al-Manama. Itu ditandai dengan pendirian gedung Perpustakaan Nasional Bahrain dalam kompleks masjid tersebut.

Perpustakaan itu kemudian dinamakan sebagai Pusat Keilslaman Syekh Ahmad bin Muhammad al-Fatih (Ahmed Al-Fateh Islamic Center). Koleksinya cukup banyak dan beragam.

Baca Juga :  Polsek Pameungpeuk Berhasil Mengamankan Pelaku Penganiayaan Yang Viral Di Media Sosial

Ada lebih dari tujuh ribu judul buku yang tersimpan di sana. Tidak hanya karya-karya yang terbit pada era modern, tetapi juga naskah-naskah klasik dan manuskrip-manuskrip kuno. Pengunjung dapat melihatnya pada pelbagai galeri yang telah disediakan.

Beberapa koleksi Ahmed Al-Fateh Islamic Center ialah kitab hadis dari zaman abad pertengahan. Begitu pula dengan buku-buku biografi Nabi Muhammad saw. yang ditulis para sarjana dari era keemasan Islam. Tak ketinggalan, naskah-naskah jurnal yang diterbitkan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, pada berabad-abad silam. Semuanya masih terjaga dengan baik di perpustakaan tersebut.

Dalam situasi pandemi Covid-19, pemerintah Kota al-Manama memberlakukan protokol kesehatan bagi setiap pengunjung ruang-ruang publik. Pada mulanya, masjid-masjid setempat ditutup untuk umum demi mencegah penyebaran virus korona baru.

Setelah berbulan-bulan lamanya, aturan itu diperlonggar sehingga warga lokal dapat menunaikan ibadah kembali di masjid. Hingga kini, Kerajaan Bahrain terus berjuang untuk mengatasi dampak wabah tersebut di pelbagai sektor, termasuk pariwisata. @fen/sumber: republika/hasanul rizqa

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Plt. Dirjen PHU: Jemaah Umrah Bisa Karantina di Asrama Haji

Sel Jan 19 , 2021
Silahkan bagikanmoreVISI.NEWS – Jemaah umrah yang akan berangkat di tengah masa pandemi wajib mengikuti proses karantina. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 719 tahun 2020, tentang Penyelenggaran Ibadah Umrah di Masa Pandemi Covid-19. “Berdasarkan ketentuan tersebut, karantina dapat dilaksanakan di asrama haji atau hotel yang ditunjuk oleh […]