Search
Close this search box.

Rumah Sri Mulyani Dijarah, Aksi Massa Jakarta Memuncak

Potrer Sri Mulyani./visi.news/Facebook

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA -Aksi unjuk rasa warga Jakarta yang dipicu oleh kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah terus berlanjut hingga Minggu (31/8/2025) dini hari. Demonstrasi yang awalnya berlangsung di depan Gedung DPR RI kini meluas ke berbagai titik, termasuk kawasan permukiman pejabat negara. Kericuhan pun tak terhindarkan, dengan sejumlah rumah anggota DPR dan pejabat tinggi menjadi sasaran amukan massa.

Kemarahan masyarakat memuncak setelah tuntutan mereka tak direspons oleh anggota dewan. Massa yang merasa diabaikan mulai bergerak secara sporadis, menyasar rumah-rumah pejabat sebagai bentuk protes. Kediaman Ahmad Sahroni menjadi titik awal penggerudukan, disusul rumah Eko Patrio dan Uya Kuya yang juga tak luput dari penjarahan.

Puncaknya terjadi pada Minggu dini hari, ketika rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jalan Mandar, Bintaro Sektor 3A, digeruduk dan dijarah oleh massa. Dalam video yang diunggah akun TikTok @infojakarta.co.id, terlihat warga mendobrak pintu dan membawa keluar barang-barang mewah seperti lukisan, perhiasan, dan perabotan rumah tangga.

Penjarahan rumah Sri Mulyani terjadi sekitar pukul 01.41 WIB. Warga terlihat keluar masuk rumah sambil menggotong barang rampasan. “Dapat perhiasan, lah…” ujar salah satu pelaku dalam video yang beredar luas di media sosial. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak Kementerian Keuangan mengenai keberadaan Sri Mulyani saat kejadian berlangsung.

Gelombang demonstrasi ini bermula dari kabar kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR RI yang mencapai Rp100 juta per bulan. Isu tersebut memicu kemarahan publik, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Aksi demonstrasi besar-besaran dimulai pada 25 Agustus 2025 dan terus berlanjut hingga akhir bulan.

Situasi semakin memanas pada 28 Agustus, ketika seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan tewas setelah dilindas mobil rantis Brimob di kawasan Pejompongan. Insiden tragis ini menyulut solidaritas nasional dan memperluas gelombang protes ke berbagai kota.

Baca Juga :  Arteta Abaikan Kritik, Arsenal Kian Mematikan Lewat Bola Mati Usai Tundukkan Chelsea

Sebagai bentuk tuntutan keadilan, massa kemudian menggeruduk Markas Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat. Aksi tersebut berlangsung hingga dini hari, dengan massa melempar batu dan petasan ke arah barikade aparat. Pangdam Jaya sempat turun langsung ke lokasi untuk menenangkan massa, namun kericuhan tetap berlangsung.

Hingga Minggu pagi, situasi di Jakarta masih belum kondusif. Demonstrasi yang awalnya menuntut pembatalan kenaikan gaji DPR kini berubah menjadi simbol kemarahan rakyat terhadap elite politik. Rumah pejabat yang dijarah menjadi bukti nyata bahwa jurang kepercayaan antara rakyat dan penguasa semakin melebar.

Aksi ini bukan lagi sekadar demonstrasi, melainkan peringatan keras dari masyarakat yang merasa tak lagi didengar. Pemerintah dan aparat keamanan kini dihadapkan pada tantangan besar untuk meredam eskalasi dan mengembalikan kepercayaan publik yang telah terkoyak.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :