VISI.NEWS | BANDUNG – Minat wisatawan Indonesia terhadap perjalanan internasional terus berevolusi, dari sekadar kunjungan ke destinasi populer menjadi pengalaman yang lebih personal, autentik, dan sarat makna. Wisata kini dipahami sebagai proses menemukan cerita, memahami konteks budaya, serta menjalani perjalanan yang memberi dampak emosional dan reflektif bagi pelakunya.
Merespons pergeseran tren tersebut, Golden Rama Tours & Travel memperkuat posisinya sebagai travel curator dengan menghadirkan rute-rute unik ke kawasan Asia Selatan. Wilayah yang dikembangkan meliputi Pakistan, India bagian utara (Leh Ladakh), Nepal, dan Bhutan—destinasi yang dikenal memiliki kekayaan alam, budaya, dan spiritualitas yang kuat namun masih tergolong non-mainstream bagi wisatawan Indonesia.
Langkah ini sejalan dengan laporan Travel Trends 2025 dari Mastercard Economics Institute yang mencatat meningkatnya minat wisatawan Asia Pasifik terhadap destinasi alternatif di Asia Tengah dan Asia Selatan. Pencarian pengalaman autentik, lanskap alam dramatis, serta perjalanan yang memberi nilai emosional jangka panjang menjadi pendorong utama, menggantikan pola wisata massal yang mulai dianggap jenuh.
General Manager Communications and CRM Golden Rama Tours & Travel, Ricky Hilton, dalam keterangan tertulis kepada VISI.NEWS, Rabu (21/1/2026), menyebut bahwa wisatawan saat ini tidak lagi menginginkan perjalanan yang seragam. Mereka mencari pengalaman yang relevan secara personal, memiliki cerita, dan mampu memberikan perspektif baru. Karena itu, Golden Rama mengkurasi rute yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya makna dan konteks.
Kawasan Asia Selatan dipilih karena karakter empat musim, bentang alam ekstrem, serta warisan budaya dan spiritual yang kuat. Rute-rute ini masih relatif jarang ditawarkan oleh agen perjalanan di Indonesia, sehingga menjadi diferensiasi utama Golden Rama dalam menghadirkan perjalanan berbasis pengalaman (*experience-led travel*) dengan standar kualitas yang tinggi.
Memasuki 2026, Pakistan menjadi salah satu fokus utama. Negara ini menawarkan kombinasi pegunungan megah, sejarah peradaban panjang, dan pengalaman eksplorasi yang masih relatif baru bagi wisatawan Indonesia. Salah satu destinasi unggulannya adalah Sarfaranga Cold Desert di kawasan Skardu, gurun pasir bersuhu sejuk yang berada di kaki pegunungan bersalju, menciptakan lanskap kontras yang langka.
Rute Pakistan dirancang sebagai perjalanan komprehensif yang mencakup Islamabad, Skardu, dan Gilgit. Wisatawan diajak menikmati keindahan Danau Kachura, Hunza Valley, Haramosh Valley, Attabad Lake, hingga Naltar Valley yang dikenal dengan danau-danau berwarna unik. Perjalanan ini juga diperkaya kunjungan ke Swat, Malam Jabba, serta kota bersejarah Lahore dengan ikon budaya seperti Badshahi Mosque dan Lahore Fort.
Selain Pakistan, Golden Rama juga menghadirkan destinasi ikonik Asia Selatan lain yang menekankan kedalaman pengalaman. Di Nepal, wisatawan diajak mengunjungi Swayambhunath Stupa, situs warisan dunia UNESCO yang menjadi simbol spiritual sekaligus titik refleksi di atas Lembah Kathmandu. Sementara di Bhutan, perjalanan menuju Taktsang Monastery atau Tiger’s Nest menawarkan pengalaman hening dan kontemplatif yang sejalan dengan filosofi kebahagiaan dan harmoni dengan alam.
Di India bagian utara, Leh Ladakh menjadi sorotan melalui Pangong Lake, danau air asin tertinggi di dunia yang terkenal dengan perubahan warna airnya. Lanskap *high-altitude* ini menghadirkan pengalaman yang menantang secara fisik, namun menenangkan secara batin, memperkuat citra Ladakh sebagai destinasi reflektif dengan keagungan alam yang kuat.
Seiring meningkatnya minat terhadap rute-rute ini, Golden Rama menargetkan pertumbuhan portofolio Asia Selatan sebagai *emerging market* di atas 10 persen pada 2026. Lebih dari sekadar mengejar angka, perusahaan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perjalanan yang relevan dengan cara wisatawan modern memaknai dunia. “Bagi kami, perjalanan adalah tentang membangun koneksi dan kembali dengan sudut pandang baru. Perjalanan terbaik adalah yang meninggalkan jejak, bukan hanya di peta, tetapi juga di dalam diri,” tutup Ricky Hilton.
@uli