Salat Id Berjemaah Hanya untuk Daerah Zona Hijau-Kuning

Editor :
Ibadah salat Idul fitri berjemaah hanya boleh digelar di daerah bebas dan daerah dengan risiko penularan Covid-19 rendah. Foto Jemaah melaksanakan ibadah salat./via republika.co.id/ist.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Ibadah salat Idulfitri berjemaah hanya boleh digelar di daerah dengan risiko penularan Covid-19 rendah atau zona kuning dan daerah bebas Covid-19 atau zona hijau.
Sementara warga yang tinggal di daerah dengan risiko lebih tinggi, zona merah dan zona oranye, harus menjalankan ibadah di rumah sama seperti imbauan tahun 2020 lalu. 

Hal ini diatur oleh Kementerian Agama melalui Surat Edaran Menteri Agama nomor 3 dan 4 Tahun 2021. Untuk pelaksanaan salat Id di daerah zona kuning dan hijau pun, ada sejumlah syarat yang perlu dipatuhi penyelenggara. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, syarat yang dimaksud antara lain jemaah harus bisa mengurangi potensi kerumunan.

Caranya, dengan mengambil air wudu dari rumah, jumlah jemaah maksimal 50 persen dari kapasitas normal, dan mengimbau seluruh jemaah membawa alat salat sendiri. 

Masyarakat juga diminta membentuk satgas di level masjid atau musala untuk memastikan tegaknya protokol kesehatan saat ibadah di sisa Ramadan tahun ini dan ibadah salat id nanti. 

Satgas masjid/musala ini juga diminta menyediakan ketersediaan fasilitas cuci tangan dengan sabun dan penyemprotan disinfektan rutin.

“Jika memungkinkan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung ibadah misalnya mendengarkan khutbah via virtual meeting,” kata Wiku, mengutip Republika.co.id dari siaran pers, Selasa (4/5/2021) malam. 

Sedangkan untuk tradisi keagamaan seperti kegiatan sahur, buka bersama, peringatan Nuzulul Quran, takbiran, dan halal bihalal yang melibatkan kehadiran massa, masyarakat diminta mengkoordinasikannya dengan Satgas Daerah setempat. Itu pun durasi acara harus diperpendek dari biasanya dan dilakukan di tempat terbuka. Kapasitas jemaah pun maksimal hanya 50 persen dari angka normal. 

Wiku menambahkan, jemaah kegiatan keagamaan di sisa Ramadan hingga Idulfitri nanti sebisa mungkin hanya dihadiri orang terdekat. Misal, dalam satu keluarga atau kerabat dekat di satu wilayah yang sama. 

Baca Juga :  Debat Publik, Tiga Paslon Bupati Bandung Kenalkan Diri dan Motivasi Pencalonannya

Para ulama pun, Wiku menambahkan, telah menyatakan bahwa kegiatan ibadah yang diniatkan dengan benar, dan dilakukan selama pandemi dengan keterbatasan jumlah, ruang, maupun waktu tidak akan mengurangi nilai ibadah.

“Mari kita menjalankan yang wajib yaitu untuk saling melindungi baik diri sendiri maupun orang lain dan menunda terlebih dahulu praktik ibadah yang menimbulkan kerumunan dan dilakukan di dalam ruangan tertutup,” kata Wiku. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Amphuri Minta Pemerintah Aktif Lobi Saudi

Rab Mei 5 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Sampai saat ini Pemerintah Indonesia masih menunggu kabar Kerajaan Arab Saudi terkait bisa atau tidaknya Indonesia mengirim jemaah haji pada tahun ini. Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Firman M Nur, meminta, pemerintah tidak hanya menunggu, tetapi melakukan lobi yang lebih intens […]