Sejarah Panjang Islam di Cina, dari Ghengis Khan hingga Uighur

Editor :
Muslim Uighur kerap mengalami diskriminasi oleh Pemerintah Cina./reuters.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Tercatat lebih dari satu juta muslim Uighur ditempatkan di pusat penahanan di provinsi Xinjiang yang terletak di paling Barat wilayah Cina. Para pemimpin dan pakar Uighur dari luar Cina telah memperingatkan betapa gentingnya situasi yang diperkirakan akan terus memburuk.

Dengan banyaknya orang Uighur yang ditahan, dapat disimpulkan bahwa inilah krisis kemanusiaan terburuk dan yang paling terabaikan selama 10 tahun terakhir. Lalu, mengapa hal ini terus terjadi, dan apa yang membuat pemerintah Cina seakan melihat muslim sebagai ancaman?

Cina saat ini adalah rumah bagi populasi muslim yang mencapai 1,6% dari keseluruhan populasi, atau sekitar 22 juta orang. Umat muslim bukanlah pendatang baru di Cina. Islam mulai masuk ke Cina oleh utusan dari Timur Tengah yang melakukan perjalanan untuk menemui Kaisar Geozong dari Dinasti Tang pada abad ketujuh.

Tak lama setelah kunjungan itu, masjid pertama dibangun di pelabuhan perdagangan selatan Guangzhou, yakni pelabuhan yang kerap digunakan oleh orang Arab dan Persia untuk melakukan perjalanan di sekitar Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. Selama masa ini, pedagang muslim membangun permukiman bagi mereka di pelabuhan Cina dan di pos-pos perdagangan sepanjang Jalur Sutra. Namun, mereka hidup terpisah dari mayoritas Han Cina selama lima abad.

Melansir Okezone.com dari laman The Conversation, Jumat (3/7), perubahan mulai terjadi pada abad ke-13 di bawah Dinasti Mongol Yuan, yakni ketika umat Islam datang ke Cina dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melayani sebagai administrator bagi penguasa baru yang merupakan keturunan Ghengis Khan, pendiri kekaisaran Mongol.

Bangsa Mongol yang memiliki sedikit pengalaman dalam menjalankan birokrasi kekaisaran Cina ini kemudian meminta bantuan umat Islam dari kota-kota penting di Jalur Sutra seperti Bukhara dan Samarkand di Asia Tengah.

Mereka merekrut dan memindahkan ratusan ribu orang Asia Tengah dan Persia secara paksa untuk membantu mereka dalam memerintah kerajaan yang diperluas hingga ke pengadilan Yuan. Di masa ini, para pejabat tinggi yang kaya terus membawa istri-istri mereka, sementara para pejabat tingkat rendah mengambil istri-istri dari wanita setempat.

Setelah Ghengis Khan menaklukkan sebagian besar Eurasia pada abad ke-12, ahli warisnya memerintah berbagai bagian benua yang mengarah ke fase damai nan makmur untuk pertama kalinya. Hal ini memungkinkan budaya untuk berkembang, serta barang maupun ide untuk tersebar semakin luas. Hal ini secara tak langsung menjadikan tradisi budaya Cina dan muslim berdampingan dengan cara-cara yang baru.

Selama 300 tahun kemudian, sepanjang Dinasti Ming memimpin, muslim masih terus berpengaruh dalam pemerintahan. Selama sekitar 300 tahun ke depan – selama Dinasti Ming – muslim terus berpengaruh dalam pemerintahan.

Zhang He, seorang laksamana yang memimpin armada Cina dalam perjalanan menjelajah dan diplomatik melalui Asia Tenggara dan Samudera Hindia adalah seorang muslim. Keakrabannya dengan bahasa Arab dan pengetahuannya tentang tradisi sosial yang berkaitan erat dengan Islam menjadikannya sebagai pilihan ideal untuk memimpin perjalanan.

Memasuki abad ke-18, hubungan antara muslim dan negara Cina mulai mengalami perubahan. Pada periode ini mulai diperlihatkan awal mula banyaknya bentrokan keras khususnya saat Cina berupaya untuk melakukan kontrol lebih atas wilayah di mana merupakan tempat mayoritas muslim tinggal.

Dinasti Qing yang berlangsung dari tahun 1644 hingga 1911 menandai periode awal pertumbuhan populasi dan pemberlakukan ekspansi wilayah yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh Cina. Di era kepemimpinan Dinasti Qing, tak sedikit populasi muslim yang melakukan pemberontakan terhadap penguasa dinasti di berbagai kesempatan.

Banyak pemberontakan dilakukan sebagai oposisi terhadap masuknya para migran, yang datang dari daerah-daerah padat penduduk Cina ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak berada di bawah kendali langsung Cina. Berbagai pemberontakan ini ditentang keras oleh negara, yang mengakhiri periode akomodasi yang panjang bagi umat Islam di Cina.

Berdirinya Republik Rakyat Cina (RRC) pada tahun 1949, ahli etnografi dan antropolog menyatakan orang-orang yang tinggal di perbatasan negara baru terbagi menjadi 56 kelompok etnis berdasarkan kriteria perbedaan dari bahasa, wilayah, sejarah hingga tradisi.

Dari kelompok-kelompok tersebut, 10 di antaranya diakui sebagai muslim minoritas. Diurutkan dari total populasi minoritas terbanyak, mereka adalah Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar yang jika dijumlahkan totalnya hanya sekitar 5.000 orang.

Di awal tahun setelah berdirinya Republik Rakyat Cina, umat muslim masih merasakan kebebasan beragama yang penuh toleransi.

Namun seiring masuknya tahun awal Revolusi Kebudayaan di tahun 1966 dan 1969, mulailah terjadi ancaman di mana masjid-masjid dihancurkan, salinan Alquran dimusnahkan, umat muslim dilarang melakukan ibadah haji serta adanya pelarangan keras untuk mengekspresikan kepercayaan agama oleh Penjaga Komunis Merah (Communist Red Guards).

Barulah setelah kematian Mao Zedong di tahun 1976, komunis mengadopsi kebijakan yang lebih longgar dalam mengatur komunitas muslim di negeri berjuluk Tirai Bambu itu. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menghilang Saat Mau Diisolasi, Pasien Corona Dicari-cari Polisi

Sab Jul 4 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Seorang pasien positif Covid-19 di Batam bernama Bayu Senja tidak dapat dihubungi sejak Kamis (2/7) malam. Pasien tersebut rencananya akan dievakuasi ke Rumah Sakit Khusus Infeksi Galang (RSKI) Galang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, pihaknya sudah mencoba menghubungi yang bersangkutan, namun tidak ada […]