VISI.NEWS | BANDUNG – Kita hidup di dunia yang penuh warna — ada tawa, ada tangis, ada perjuangan, ada pencapaian. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa semua itu bukan tujuan akhir. Dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 64, Allah berfirman bahwa “kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, dan sesungguhnya kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” Pesannya jelas: semua yang kita lihat dan kejar di dunia ini hanyalah sementara.
Ayat ini bukan mengajak kita meninggalkan kehidupan, tapi mengajarkan perspektif. Dunia memang nyata, tetapi nilainya bukan pada hal lahiriah, melainkan pada amal yang kita kumpulkan. Seolah Allah berkata, “Nikmati hidup, tapi jangan lupa bekalmu.” Seimbangkan perjuangan dunia dan persiapan menuju kehidupan abadi nanti.
Kemudian Surah Al-Hadid ayat 20 menggambarkan dunia dengan bahasa yang sangat indah: permainan, kelengahan, perhiasan, dan ajang saling berbangga dan berlomba dalam harta dan anak. Allah lalu memberikan perumpamaan hujan yang membuat petani kagum, namun tanaman itu kemudian mengering dan hilang. Begitu juga dunia: indah di awal, lalu perlahan memudar.
Ayat ini menegur kecenderungan manusia yang mudah terpesona. Kita sering tak sadar terseret budaya pamer, mengejar pengakuan, ingin menang dalam perlombaan gengsi. Padahal, seperti tanaman yang layu, semua itu akan hilang. Maka, Allah mengingatkan kita untuk memprioritaskan hal yang lebih kekal: amal saleh, akhlak, dan ketakwaan.
Selanjutnya, Surah Al-An’am ayat 32 kembali menegaskan, “dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau; sedangkan negeri akhirat jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” Penegasan yang berulang ini menunjukkan pentingnya pesan tersebut dalam kehidupan orang beriman.
Ayat ini bukan menafikan usaha duniawi, tetapi membangunkan hati agar tidak tertipu. Islam tidak melarang karir, bisnis, atau kesuksesan. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya kuat, produktif, dan bermanfaat. Namun, Allah mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dengan jabatan atau kekayaan, melainkan ketakwaan dan kebaikan yang kita tinggalkan.
Bila dipahami dengan benar, ayat-ayat ini membuat kita lebih tenang menjalani hidup. Kita tetap bekerja keras, tapi tidak serakah. Kita menikmati dunia, tapi tidak terikat pada gemerlapnya. Kita bahagia ketika diberi rezeki, namun tetap ridho jika diuji. Karena kita tahu, dunia adalah tempat lewat, bukan tujuan akhir.
Maka, mari menjadikan ayat-ayat ini sebagai kompas hati. Dunia adalah ladang akhirat — tanamlah kebaikan sebanyak mungkin. Dunia adalah perjalanan — gunakan waktu dengan bijak. Dunia adalah ujian — tetaplah sabar dan bersyukur. Ketika dunia terasa begitu memikat atau begitu berat, ingatlah: yang kekal adalah akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bijak menyikapi dunia: bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup dengan tawadhu, memberi manfaat, dan pulang kepada-Nya dengan hati yang bersih. Amin.
@uli












