Sekilas Jejak Nabi Ibrohim dan Ismail (2): Dialog Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail Jelang Penyembelihan

Editor Ilustrasi Kakbah dan umat Islam tengah beribadah di sekelilingnya./net.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih anak sulungnya, Ismail. Sebuah percakapan yang demokratis dan penuh keikhlasan terjadi antara keduanya dalam peristiwa pengurbanan itu.

 Sebagaimana tercatat dalam Surat Ash-Saffat Ayat 99 – 113, kisah pegurbanan itu bermula ketika Ibrahim bermimpi melihat dirinya sendiri menyembelih Ismail. Ibrahami memahami bahwa mimpi itu adalah perintah dari Allah.

Ibrahim pun mendatangi Ismail. Ia berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

Ismail yang masih belia menjawab dengan penuh kesalehan dan keikhlasan. “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Percakapan antara keduanya itu, menurut Muhammad Kosim, Doktor Bidang Pendidikan Islam IAIN IB Padang, dalam esainya untuk Harian Republika (6/10/2014), adalah bentuk relasi ayah dan anak yang komunikatif dan demokratis. Suatu hal yang patut dicontoh dalam mendidik anak.

Dari percakapan itu keduanya bersepakat untuk sama-sama berqurban. Ibrahim mengurbankan anak tercintanya, dan Ismail mengurbankan hidupnya. Lalu meneletanglah Ismail untuk disembelih. Pedang Ibrahim pun mengayun tepat ke arah leher sang putra tercinta.

“Kemudian ya Rabbi, Engkau ajarkan hal kedewasaan yakni penyembelihan dan qurban, pasrah dan keikhlasan . Tatkala dengan hati pedih, pedang hamba ayunkan. Sukma hamba memasuki Ismail yang menelentang,” demikian petikan syair Emah Ainun Nadjib menggambarkan nuansa peristiwa itu sebagaimana dilansir dalam Kisah-Kisah Kearifan Para Nabi (2011:130).

Ketika pedang itu hampir tiba di leher Ismail, Allah berkehendak lain. Bukanlah Ismail yang akhirnya tersembelih. “Dalam hitungan sekian nano detik, Ismail telah diangkat, dan diletakkanlah kambing sebagai ganti sekaligus sebagai tanda bahwa pengorbanan Ibrahim dan Ismail telah diterima Allah SWT,” tulis Miftah Fauzi Rakhmat dalam Kisah-Kisah Kearifan Para Nabi.

Baca Juga :  Kuatkan Pengendalian Pandemi dan Pulihkan Ekonomi, Pemerintah Perpanjang PPKM, Perluas Capaian Vaksinasi, dan Siap Selenggarakan MotoGP Mandalika

Allah berkata, dalam Surat Ash-Saffat ayat 106, peristiwa itu adalah ujian bagi Ibrahim. Dan Nabi Ibrahim berhasil melewati ujian itu.

Allah pun semakin memuliakan kekasihnya itu. “Dan kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. ‘Selamat sejahtera bagi Ibrahim’,” demikian bunyi Surat Ash-Saffat 108-109.

Peristiwa pengurbanan Ibrahim dan Ismail inilah yang menjadi asal mula ibadah qurban tiap hari raya Iduladha. Bagi mereka yang mampu sangat dianjurkan untuk berqurban. (bersambung)@fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Iduladha di Masa Pandemi Covid-19, Bagaimana Pelaksanaan Kurban?

Kam Jul 30 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Menjelang hari raya Iduladha, masyarakat Muslim kembali diingatkan agar mematuhi protokol kesehatan, tidak hanya dalam salat berjemaah yang dianjurkan dilakukan di rumah, terutama di wilayah zona merah, namun juga saat penyembelihan hewan kurban. Walaupun penyelenggara penyembelihan hewan kurban berjanji akan menaati protokol, namun masih dibutuhkan pengawasan ketat […]