VISI.NEWS | MALANG – Aktivitas vulkanik kembali terjadi di Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami empat kali erupsi dalam rentang waktu beberapa jam pada Kamis (12/3/2026) dini hari hingga pagi. Salah satu letusan bahkan memuntahkan kolom abu setinggi 600 meter di atas puncak gunung.
Serangkaian erupsi tersebut terekam oleh petugas pemantau gunung api yang terus melakukan pengawasan terhadap aktivitas Semeru. Letusan pertama terjadi pada pukul 00.27 WIB. Namun, pada saat itu visual letusan tidak dapat diamati secara langsung karena kondisi gelap dan terbatasnya jarak pandang. Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 00.31 WIB, erupsi kembali terjadi, meski visual kolom letusan juga tidak teramati.
Aktivitas vulkanik kembali meningkat pada pagi hari. Pada pukul 05.28 WIB, Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsinya dengan kolom abu yang terlihat jelas membumbung ke udara.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menjelaskan bahwa tinggi kolom letusan pada erupsi tersebut mencapai sekitar 600 meter di atas puncak gunung. Jika dihitung dari permukaan laut, ketinggian kolom abu itu mencapai sekitar 4.276 meter.
“Gunung Semeru kembali erupsi pada pukul 05.28 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 600 meter di atas puncak atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut,” ujar Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurutnya, kolom abu yang keluar dari kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Arah penyebaran abu terpantau bergerak menuju wilayah utara, mengikuti arah angin yang berhembus pada saat kejadian.
Tidak lama berselang, aktivitas vulkanik kembali terjadi. Pada pukul 05.46 WIB, Semeru kembali mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu yang lebih rendah dibandingkan letusan sebelumnya. Kolom abu terpantau mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 3.976 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara,” kata Liswanto.
Meskipun erupsi terjadi beberapa kali dalam waktu singkat, status aktivitas vulkanik Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan bahwa gunung tersebut sedang mengalami peningkatan aktivitas dan berpotensi menimbulkan bahaya jika masyarakat tidak mematuhi zona aman yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.
Berdasarkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak gunung yang menjadi pusat erupsi.
Liswanto menegaskan bahwa larangan tersebut bertujuan untuk menghindari risiko bahaya yang dapat muncul sewaktu-waktu, terutama dari awan panas guguran dan aliran material vulkanik yang bisa meluncur melalui lembah dan aliran sungai.
Di luar radius tersebut, warga juga diminta tidak beraktivitas terlalu dekat dengan aliran sungai yang berhulu dari puncak Semeru. Area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan dinilai masih berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak gunung. Wilayah tersebut dianggap sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang dapat terjadi saat erupsi berlangsung.
Pihak pengamatan gunung api juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana sekunder seperti awan panas, guguran lava, serta aliran lahar yang dapat terjadi terutama saat hujan turun di kawasan puncak.
Potensi bahaya tersebut terutama dapat mengalir melalui sejumlah sungai dan lembah yang berhulu dari puncak Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, beberapa sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar.
Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik tersebut, masyarakat di sekitar lereng Semeru diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi seluruh rekomendasi dari otoritas terkait guna menghindari risiko bencana. @kanaya