VISI.NEWS | BANDUNG – Serangan drone yang dilancarkan Iran ke wilayah Bahrain tak hanya menimbulkan ketegangan baru di kawasan Teluk, tetapi juga menyoroti satu hal yang jarang disadari publik: betapa rapuhnya sistem penyediaan air di negara-negara gurun. Serangan tersebut dilaporkan merusak sebuah pabrik desalinasi, fasilitas yang berperan penting dalam menyediakan air bersih bagi jutaan penduduk di kawasan itu.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyebut serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas sipil serta melukai sejumlah warga. Serangan itu menjadi salah satu insiden terbaru yang memperlihatkan bagaimana infrastruktur vital kini berada di garis depan konflik geopolitik.
“Agresi Iran secara acak membom target sipil dan menyebabkan kerusakan material pada pabrik desalinasi air setelah serangan oleh drone,” kata Kementerian Dalam Negeri Bahrain dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP, Minggu (8/3/2026).
Serangan terhadap fasilitas air seperti ini memicu kekhawatiran serius. Bagi negara-negara di kawasan Teluk, pabrik desalinasi bukan sekadar infrastruktur industri biasa. Ia adalah sumber kehidupan yang menopang kebutuhan dasar masyarakat.
Wilayah Teluk dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di dunia. Curah hujan yang rendah serta terbatasnya sungai membuat negara-negara di kawasan ini tidak memiliki banyak sumber air alami. Dalam kondisi tersebut, dua sumber air utama menjadi andalan: air tanah fosil dan air hasil proses desalinasi.
Air tanah fosil merupakan air purba yang tersimpan jauh di bawah permukaan bumi sejak ribuan hingga jutaan tahun lalu. Namun sumber ini bersifat tidak terbarukan dan jumlahnya terus berkurang. Karena itu, negara-negara Teluk semakin mengandalkan teknologi desalinasi untuk memastikan pasokan air tetap tersedia.
Data dari Middle East Institute menunjukkan bahwa negara-negara Teluk merupakan wilayah yang paling bergantung pada teknologi desalinasi di dunia. Secara kolektif, kawasan ini memproduksi sekitar 40 persen dari total air hasil desalinasi global. Kapasitas produksi tersebut bahkan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030 seiring pertumbuhan populasi dan kebutuhan industri.
Ketergantungan ini membuat fasilitas desalinasi menjadi aset strategis yang sangat sensitif. Kerusakan pada satu fasilitas saja dapat memengaruhi pasokan air bersih bagi kota-kota besar dalam waktu singkat.
Secara sederhana, desalinasi adalah proses mengubah air laut menjadi air tawar yang layak dikonsumsi. Proses ini dilakukan dengan cara menghilangkan garam serta mineral yang terkandung di dalam air laut. Dalam literatur ilmiah, Nair dan Kumar (2013) menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan produksi air minum murni dari sumber air asin seperti laut maupun air payau.
Teknologi desalinasi juga memiliki berbagai kegunaan lain. Selain untuk air minum, air hasil pemurnian dapat digunakan untuk kebutuhan industri tertentu. Dalam penelitian Ahmed dkk. (2021), air ultra-murni dari proses desalinasi bahkan digunakan dalam industri farmasi. Sementara itu, Son dkk. (2021) menyebut teknologi tersebut juga berperan dalam industri pengolahan makanan.
Meski memiliki manfaat besar, proses ini bukan tanpa tantangan. Salah satu dampak lingkungan yang sering dibahas adalah limbah air garam berkonsentrasi tinggi yang dihasilkan dari proses pemurnian. Limbah tersebut memiliki kandungan garam dan bahan kimia yang sangat pekat.
Peneliti Pramanik dkk. (2017) menyebut limbah tersebut sebagai “air garam”, yakni sisa proses desalinasi dengan kadar total padatan terlarut yang sangat tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat memengaruhi ekosistem laut di sekitarnya.
Meski demikian, kebutuhan akan air bersih membuat teknologi ini tetap menjadi pilihan utama. Dalam artikel ilmiah “Desalination in the GCC Countries, A Review” yang diterbitkan di jurnal Cleaner Production (2022), disebutkan bahwa desalinasi kini dianggap sebagai solusi paling realistis untuk memenuhi peningkatan permintaan air di dunia.
Perkembangan teknologi desalinasi di kawasan Teluk sendiri tak bisa dilepaskan dari sejarah industri minyak. Peneliti Eltamaly dkk. (2021) menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia pada tahun 1973 menjadi titik balik penting bagi negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC).
Kenaikan pendapatan dari sektor energi memungkinkan negara-negara tersebut membangun infrastruktur air dan energi berskala besar, termasuk pabrik desalinasi modern. Sejak saat itu, teknologi ini menjadi tulang punggung sistem penyediaan air di kawasan gurun tersebut.
Serangan terhadap fasilitas desalinasi di Bahrain kini memperlihatkan betapa krusialnya infrastruktur ini. Di wilayah yang hampir tidak memiliki sumber air alami, kerusakan pada satu fasilitas saja dapat berdampak pada jutaan orang.
Lebih dari sekadar target militer atau ekonomi, pabrik desalinasi adalah simbol dari perjuangan manusia bertahan hidup di lingkungan yang keras dan sekaligus menjadi pengingat bahwa bahkan sumber kehidupan pun bisa menjadi bagian dari konflik geopolitik. @kanaya