VISI.NEWS | BANDUNG — Serangan terbaru Rusia di Ukraina kembali menelan korban sipil. Sebanyak 12 penambang tewas setelah sebuah drone menghantam bus yang mereka tumpangi usai menyelesaikan giliran kerja di wilayah Dnipropetrovsk, menurut perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK.
Bus tersebut diserang di dekat kota Ternivka pada Minggu. Selain korban tewas, sedikitnya 15 orang lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan keterangan Dinas Layanan Darurat Ukraina. DTEK awalnya melaporkan 15 korban jiwa sebelum merevisi jumlahnya menjadi 12 orang.
“Ini adalah serangan terhadap pekerja sipil yang baru saja pulang kerja,” tulis DTEK dalam pernyataan resminya.
Serangan lain pada malam hingga Minggu pagi juga menyebabkan korban di sejumlah wilayah. Di Zaporizhzhia, sebuah drone menghantam rumah sakit bersalin, melukai enam orang, termasuk dua perempuan yang sedang melahirkan saat serangan terjadi.
Kepala wilayah Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, mengecam keras insiden tersebut. “Ini adalah bukti lain bahwa perang ini diarahkan melawan kehidupan,” ujarnya.
Rekaman yang beredar menunjukkan jendela pecah, ruangan pasien dipenuhi puing, serta bekas kebakaran di beberapa bagian gedung. Petugas pemadam kebakaran terlihat mengevakuasi pasien dari dalam bangunan yang rusak.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, menilai serangan terhadap fasilitas medis sebagai pelanggaran serius terhadap hukum perang. “Serangan ini menunjukkan bahwa Putin melanjutkan perang terhadap warga sipil, bertentangan dengan upaya perdamaian,” katanya.
Di wilayah lain, korban juga berjatuhan. Seorang pria dan seorang wanita dilaporkan tewas akibat serangan drone di kota Dnipro. Seorang pria berusia 72 tahun terluka di Nikopol. Di Kherson, seorang perempuan berusia 59 tahun mengalami luka serius akibat penembakan artileri, sementara tiga orang lainnya terluka dalam serangan di Kharkiv.
Rangkaian serangan ini terjadi di tengah musim dingin ekstrem. Sejak Januari, Moskow meningkatkan serangan ke infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan jutaan orang kehilangan pemanas dan listrik ketika suhu diperkirakan turun hingga di bawah minus 20 derajat Celsius.
Situasi ini juga berlangsung di tengah manuver diplomatik. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan putaran kedua pembicaraan tiga pihak antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat untuk membahas upaya mengakhiri perang akan dimulai Rabu mendatang di Abu Dhabi.
“Kami terus bekerja menuju perdamaian yang adil,” kata Zelensky.
Di sisi lain, Ukraina juga mengungkapkan telah bekerja sama dengan perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, untuk mencegah Rusia memanfaatkan sistem satelit Starlink dalam operasi drone. Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov menyampaikan apresiasinya atas langkah tersebut.
“Terima kasih telah menjadi teman sejati rakyat Ukraina,” ujarnya.
Perang yang telah berlangsung hampir empat tahun ini masih menyisakan kebuntuan, terutama terkait wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina timur dan selatan. Namun di tengah negosiasi yang berjalan, serangan terhadap warga sipil terus menambah daftar panjang korban dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. @kanaya