Search
Close this search box.

Serangan Israel Guncang Pusat Beirut

Pemandangan bangunan yang rusak setelah serangan Israel, di tengah eskalasi antara Hizbullah dan Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, 12 Maret 2026./visi.news/source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam kawasan pusat kota Beirut pada Kamis (12/3/2026). Serangan yang menyasar dua bangunan di dekat kantor pemerintahan Lebanon itu menandai eskalasi baru dalam konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran.

Serangan tersebut terjadi sehari setelah Hezbollah meluncurkan rentetan roket terbesar sejak konflik terbaru pecah. Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon akan diperluas dan diperkirakan berlangsung lama. Situasi ini membuat Lebanon semakin terseret ke dalam pusaran konflik regional yang melibatkan berbagai kekuatan di Timur Tengah.

Ledakan mengguncang kawasan Bachoura di pusat Beirut sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Wilayah tersebut berjarak sekitar satu kilometer dari kompleks pemerintahan Lebanon, termasuk kantor pusat pemerintahan yang dikenal sebagai Grand Serail. Serangan ini menandai perluasan target Israel dari wilayah selatan dan pinggiran selatan Beirut ke jantung kota yang lebih padat penduduk.

Sebelum melancarkan serangan, militer Israel mengeluarkan peringatan kepada warga setempat untuk segera meninggalkan area yang disebut berada dekat fasilitas Hezbollah. Peringatan serupa juga diberikan kepada warga di distrik Zuqaq al-Blat sebelum bangunan lain di kawasan yang lebih dekat ke pusat pemerintahan kembali dihantam.

Serangan udara juga terjadi pada dini hari di wilayah pesisir Beirut. Menurut kementerian kesehatan Lebanon, serangan itu menewaskan sedikitnya 12 orang. Lokasi yang terkena serangan merupakan trotoar tepi laut tempat puluhan keluarga pengungsi mendirikan tenda dan tidur di jalanan setelah mengungsi dari wilayah selatan.

Seorang pengungsi yang memperkenalkan diri sebagai Abu Ali mengungkapkan kemarahannya terhadap serangan tersebut. “Siapa yang ada di tenda-tenda ini? Ada anak-anak, orang tua, dan perempuan di dalamnya. Israel… alasan apa yang bisa mereka berikan untuk serangan tadi malam?” ujarnya.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 9 April 2026

Kesedihan juga dirasakan Mahmoud Kassem, pengungsi lain yang berada di lokasi kejadian. Dengan suara lirih ia mengatakan, “Hati saya sudah mati.”

Sejak operasi militer Israel meningkat pekan lalu, wilayah selatan dan timur Lebanon terus digempur. Kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah juga menjadi sasaran serangan intensif. Pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya 687 orang telah tewas akibat serangan tersebut, termasuk 98 anak-anak, 62 perempuan, dan 18 tenaga medis.

Serangan yang meluas juga memicu gelombang pengungsian besar. Otoritas Lebanon menyebut lebih dari 800.000 orang telah meninggalkan rumah mereka setelah Israel memerintahkan evakuasi di sejumlah wilayah. Pada Kamis, militer Israel kembali mengeluarkan peringatan agar warga meninggalkan area tambahan di selatan Lebanon. Dengan keputusan itu, perintah evakuasi kini mencakup sekitar sepersepuluh wilayah negara tersebut.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pemerintahnya bertekad menjamin keamanan wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.

“Kami berjanji memberikan ketenangan dan keamanan bagi komunitas di wilayah utara, dan itulah yang akan kami wujudkan,” katanya dalam pertemuan dengan pejabat militer senior.

Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menegaskan operasi militer akan berlangsung dalam jangka panjang.

“Operasi ini tidak akan singkat. Kami akan membawa lebih banyak pasukan dan kemampuan militer ke wilayah utara. Kami akan terus bergerak maju,” ujarnya.

Konflik terbaru ini bermula setelah Hezbollah mulai menembakkan roket ke wilayah Israel pada 2 Maret. Kelompok tersebut menyatakan serangan itu dilakukan sebagai bentuk balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran. Sejak saat itu, Hezbollah terus meluncurkan roket dan drone hampir setiap hari.

Militer Israel mengatakan pada Rabu malam Hezbollah menembakkan sekitar 200 roket dan 20 drone ke wilayah Israel dalam serangan yang diklaim dilakukan bersama Iran. Garda Revolusi Iran juga menyatakan operasi tersebut merupakan aksi gabungan dengan Hezbollah. Meski demikian, Israel menyebut hanya dua proyektil yang benar-benar jatuh di wilayahnya.

Baca Juga :  Evaluasi Angkutan Lebaran 2026, Erna Sari Dewi Soroti Ketimpangan Konektivitas di Bengkulu

Di tengah meningkatnya kekerasan, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa korban sipil terus bertambah. Koordinator Residen PBB di Lebanon, Imran Riza, mengatakan dampak konflik terhadap warga sipil sudah sangat berat.

“Biaya yang harus ditanggung warga sipil terlalu tinggi,” kata Riza.

Ia juga memperingatkan bahwa jumlah pengungsi kemungkinan akan terus bertambah jika pertempuran tidak segera mereda.

“Saat ini kami belum melihat tanda-tanda situasi akan menenangkan diri,” tambahnya.

Sementara itu, Israel juga memperingatkan pemerintah Lebanon agar menghentikan serangan Hezbollah. Katz bahkan menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Lebanon Joseph Aoun bahwa jika pemerintah Lebanon tidak mampu menghentikan serangan kelompok tersebut, Israel siap mengambil tindakan sendiri di wilayah Lebanon.

Pemerintah Lebanon sebelumnya menyatakan ingin membangun monopoli negara atas senjata dan melarang aktivitas militer Hezbollah. Namun di tengah eskalasi konflik saat ini, upaya tersebut tampak semakin sulit diwujudkan. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :