Search
Close this search box.

Serangan Terbesar Hantam Iran, Dunia Cemas Perang Meluas

Para pelayat bereaksi saat mereka menghadiri upacara pemakaman untuk korban serangan Israel dan AS, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026./visi.news/source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Gelombang serangan udara terbesar sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali mengguncang kawasan Timur Tengah. Pada Selasa (10/3,2026), militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah Iran, yang oleh pejabat Pentagon dan warga setempat disebut sebagai hari paling intens sepanjang perang yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir.

Serangan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas global, terutama terkait pasokan energi dunia. Di tengah eskalasi konflik, Garda Revolusi Iran menyatakan siap memblokir pengiriman minyak dari Teluk Persia jika serangan dari Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.

“Jika agresi ini tidak dihentikan, kami tidak akan membiarkan satu liter pun minyak dari Timur Tengah mencapai Amerika Serikat dan sekutunya,” ujar juru bicara Garda Revolusi Iran dalam pernyataan resmi.

Pada malam hari yang sama, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Sasaran serangan mencakup pangkalan Al Udeid di Qatar serta pangkalan Al Harir di wilayah Kurdistan Irak. Tidak hanya itu, serangan drone juga dilaporkan menargetkan pangkalan udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab serta pangkalan angkatan laut Juffair di Bahrain.

Serangan balasan Iran juga diarahkan ke Israel. Menjelang fajar pada Rabu dini hari, sirene peringatan serangan udara berbunyi di sejumlah kota di Israel tengah. Sistem pertahanan udara Israel bekerja keras mencegat gelombang rudal yang meluncur dari arah Iran, sementara warga berlarian menuju ruang perlindungan dan bunker.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyebut operasi militer hari itu sebagai salah satu yang terbesar dalam konflik tersebut.

Baca Juga :  Firman Soebagyo Nilai Pernyataan Syaiful Mujani Provokatif dan Berbahaya

“Hari ini akan menjadi hari paling intens dalam serangan kami di dalam wilayah Iran. Kami mengerahkan lebih banyak pesawat tempur, lebih banyak pembom, dan serangan yang didukung intelijen paling akurat sejauh ini,” katanya dalam konferensi pers di Pentagon.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengklaim keberhasilan militer negaranya dalam operasi terbaru tersebut. Melalui platform media sosialnya, ia menyatakan pasukan Amerika telah menghancurkan sejumlah kapal Iran yang diduga mampu menanam ranjau laut.

“Dalam beberapa jam terakhir, kami telah menyerang dan menghancurkan sepenuhnya sepuluh kapal penebar ranjau milik Iran,” tulis Trump.

Bagi warga sipil di Iran, malam serangan itu meninggalkan trauma mendalam. Seorang warga Teheran yang dihubungi melalui telepon menggambarkan situasi kota seperti berada di tengah neraka.

“Rasanya seperti neraka. Bom jatuh di mana-mana, hampir di setiap bagian kota. Anak-anak saya sekarang takut untuk tidur,” ujarnya dengan suara gemetar.

Kerusakan besar juga terjadi di kawasan permukiman. Di bagian timur Teheran, dua bangunan apartemen lima lantai hancur setelah dihantam serangan pada Senin. Tim penyelamat dari Bulan Sabit Merah Iran masih mengevakuasi korban dari reruntuhan ketika ledakan lain kembali terdengar di sekitar lokasi.

Meski pertempuran terus meningkat, pasar global justru menunjukkan sinyal berbeda. Para investor tampak yakin konflik tidak akan berlangsung lama. Harga minyak mentah yang sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel pada awal pekan akhirnya turun kembali di bawah 90 dolar pada Selasa.

Gedung Putih juga berusaha menenangkan kekhawatiran publik mengenai dampak ekonomi perang. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan harga energi diperkirakan akan turun setelah operasi militer mencapai tujuannya.

Baca Juga :  Tidur Siang Terlalu Lama Bisa Ganggu Pola Tidur Malam, Ini Saran Ahli

“Masyarakat Amerika akan melihat harga minyak dan gas turun dengan cepat setelah tujuan operasi ini tercapai sepenuhnya,” ujarnya kepada wartawan.

Namun dari Teheran, nada pernyataan yang muncul justru semakin keras. Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan militer.

“Kami tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul keras agar mereka belajar dari kesalahan mereka,” tulisnya dalam pernyataan di media sosial.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, korban jiwa terus bertambah. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas akibat serangan udara, sementara ribuan rumah dan ratusan fasilitas publik rusak atau hancur.

Dengan kedua pihak saling melancarkan serangan dan retorika keras, masa depan konflik masih belum jelas. Meski sebagian analis percaya perang dapat segera berakhir, intensitas pertempuran di lapangan menunjukkan bahwa eskalasi masih jauh dari kata mereda. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :