VISI.NEWS – Konsentrasi pemerintah dan berbagai kalangan, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini fokus terhadap penanganan Covid-19. Di sisi lain ketersediaan pangan pun tetap harus menjadi prioritas.
Plt Direktur Utama Pupuk Kujang, Rita Widayati menuturkan, saat ini stok dan distribusi komoditas pertanian menjadi persoalan tersendiri. Ini merupakan salah satu dampak dari pandemi Covid-19.
Rita mengatakan, ada berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahan stok dan distribusi komoditas pertanian. Salah satunya dengan sistem closed loop.
“Selama ini PT Pupuk Kujang sudah menjadikan Garut sebagai lokasi, tidak hanya untuk pemasaran pupuk bersubsidi, juga untuk pupuk non-subsidi atau ritel,” ujar Rita saat meninjau perkebunan jeruk di kawasan agrowisata Eptilu, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa Barat kepada VISI.NEWS, Selasa (14/7).
Pupuk yang dipasarkan secara komersial, tambah Rita, dirancang secara khusus sesuai dengan karakter dari jenis tanaman tertentu.
Dijelaskannya, untuk tanaman hortikultura, kebutuhan pupuk selama ini masih sering didatangkan dengan mengimpor dari luar. Tapi jika diproduksi di dalam negeri, ini akan membantu upaya menjaga keseimbangan neraca perdagangan nasional.
Rita menambahkan, dalam closed-loop ini PT Pupuk Kujang berperan dalam pendampingan aplikasi pupuk sehingga hasilnya lebih optimal.
“Tim agronomis Pupuk Kujang bergerilya bersama petani dari perbaikan lahan petani menggunakan organik excow dan pembenah tanah bion up untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Closed-Loop agribisnis ini, tuturnya, akan mengurai permasalahan supply chain yang muncul seperti produk melimpah dan langkanya produk pertanian.
“Model closed-loop ke depan diharapkan dapat menjadi success story yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan bisnis hortikultura di Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komtap Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Bidang Hortikultura sekaligus Dekom Pupuk Kujang, Karen Tambayong, menyampaikan untuk memecahkan permasalahan penyediaan pangan, diperlukan sinergitas dalam rangka tercapainya menjaga kestabilan ketahanan pangan masyarakat Indonesia.
“Sinergitas harus dimulai dari hulu (mulai tanam) hingga pendampingan hilirnya (produk berhasil terjual),” kata Karen.
Disampaikannya, keberadaan para aktor di sepanjang rantai nilai pertanian, mulai dari hulu sampai ke hilir, from the field to the table, tidak boleh dipandang selalu dari sisi kompetisi yang dalam slogan lama akan dapat menciptakan efisiensi.
Dengan perkembangan, tambahnya, situasi global dan domestik yang semakin vulnerable dan uncertain, maka sinergi antar aktor untuk menciptakan iklim berusaha yang berdaya saing sekaligus berkeadilan.
“Hal ini hendaknya lebih ditonjolkan dalam era pasca pandemi covid, termasuk dalam bidang pertanian,” ungkapnya.
Sinergitas perusahaan yang mendukung closed-loop ini, tambah Karen, diantaranya PT Ewindo sebagai produsen utama benih hortikultura. Perlu didukung oleh teknologi informasi memadai dalam upaya pemberdayaan peran penyuluh di daerah beririgasi, termasuk di Garut.
Disebutknnya, diseminasi teknologi pertanian mulai dari penyediaan benih, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit sampai kepada pemasaran, dapat dilakukan secara digital.
“Sebagai contoh, 8 Villages dengan aplikasi petani, sudah dapat mendiseminasi teknologi pertanian seperti kalender tanam dan informasi harga pangan ke dalam telepon pintar milik penyuluh dan petani,” jelas Karen.
Dalam implementasi kegiatan ini, katanya, tentu petani bukan menjadi obyek. Dalam hal ini peran petani tokoh atau champion sangat penting.@zhr