VISI.NEWS | SUKABUMI – Korban keracunan makanan di wilayah Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Palabuhanratu telah diperbolehkan pulang. Mereka diduga keracunan makanan dari program MBG.
Berdasarkan data Puskesmas Simpenan korban dugaan keracunan yang dirujuk oleh Puskesmas Simpenan ke RSUD Palabuhanratu berjumlah enam orang, mereka terdiri dari siswa, guru dan wali murid. Para pasien tersebut mulai diperbolehkan pulang sejak Kamis (29/1/2026) dan pasien terakhir dipulangkan pada Jumat (30/1/2026).
“Sudah pulang kemarin sebagian dan hari ini sebagian, jadi dari enam [yang di RSUD Palabuhanratu] sudah pulang,” kata Kepala puskesmas Simpenan Ade Setiawan kepada visi.news, Jumat.
Dugaan keracunan makanan tersebut dialami para siswa, guru, serta wali murid pada Rabu (28/1/2026). Mereka berasal dari 10 sekolah terdiri dari sekolah dasar, PAUD, serta Madrasah Aliyah yang berada di Desa Loji dan Desa Sangrawayang. Makanan yang dikonsumsi diketahui berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Loji, Kecamatan Simpenan.
Makanan tersebut didistribusikan pada Rabu pagi. Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan itu, para penerima mulai merasakan gejala keracunan.
Total jumlah siswa, guru, dan wali murid yang diduga mengalami keracunan mencapai 38 orang. “Dari tanggal 28 Januari sampai tanggal 30 Januari ada 38 orang yang diduga keracunan makanan, dari 38, kami merujuk enam pasien ke rumah sakit,” ujarnya.
Terkait kejadian tersebut, Dinkes Kabupaten Sukabumi bersama Puskesmas Simpenan telah mengambil sampel makanan yang disajikan pada hari kejadian yakni nasi putih, nugget, tumis wortel buncis kemudian tahu serta buah jeruk. Sampel itu selanjutnya diperiksa di laboratorium kesehatan daerah.
Sementara itu, pihak dapur Satuan Pelayanan Persiapan Gizi atau SPPG Anugerah Ratu Alam 1, menyatakan berhenti beroperasi untuk sementara waktu terkait kejadian dugaan keracunan tersebut. Hal itu diungkapkan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Anugerah Ratu Alam 1 Anwar Syapei.
Anwar menyatakan saat ini pihak dapur masih menunggu hasil investigasi dari laboratorium kesehatan daerah. Penutupan dilakukan sampai keluar rekomendasi untuk beroperasi kembali.
“Ditutup sampai keluar rekomendasi untuk operasional kembali, hingga keluar hasil investigasi dari laboratorium. Untuk waktunya kami tidak mengetahui kapan dan hari apa atau tanggalnya kami belum mengetahui,” ujarnya.
Tahu Berjamur
Anwar menambahkan pada Rabu kemarin, menu MBG yang disajikan terdiri dari nasi putih, nugget, tumis wortel buncis, tahu sumedang serta buah jeruk.
Anwar juga menanggapi terkait video tahu sumedang berjamur yang viral di media sosial. Pihak dapur menduga tahu itu terkontaminasi bakteri kemudian faktor suhu udara dan lainnya, sehingga muncul jamur ketika dalam ompreng di tengah perjalanan menuju sekolah penerima manfaat MBG.
“Untuk dugaan sementara dan sambil menunggu hasil uji lab dari dinas kesehatan, Kami duga berasal dari tahu yang berjamur. Jadi tahu itu bersumber dari supplier yang menyuplai ke kami, tahu tersebut datang ke kami sudah hasil olahan atau sudah digoreng, karena kemungkinan tahu tersebut sudah lama dikirimkan oleh supplier sehingga ketika kami distribusikan ke penerima manfaat terjadi kontaminasi bakteri menyebabkan tumbuh jamur dengan sangat cepat di perjalanan karena faktor suhu, udara dan lainnya,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa tahu tersebut berasal dari supplier yang dikirimkan kepada dapur pada hari Selasa tanggal 27 Januari. Tahu datang pada waktu subur kemudian kekurangannya datang lagi pada waktu sore.
Selanjutnya terjadi miskomunikasi di dapur, Anwar mengira tahu tersebut akan diolah lagi menjadi olahan lain, namun pada kenyataannya tahu sumedang itu disajikan tanpa diolah dulu.
“Saya kira tahu itu akan diolah kembali menjadi bentuk olahan lain seperti mungkin gorengan gehu, ternyata pas pagi itu saya menerima laporan dari sekolah, tahu itu dikirim tanpa diolah terlebih dahulu, artinya dari tahu yang kemarin dimasukan ke ompreng,” pungkasnya. @andri