SKETSA | Angelina Sondakh

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SAYA pernah bertemu Angelina Sondakh, di tahun 2003, pada suatu pesta sore hari, di rumah seorang teman di Menteng. Rumah dengan kolam renang yang besar dan pohon yang rimbun, beserta lampu taman yang temaram. Seseorang dari perusahaan Marketing Agency ingin menampilkan Angelina sebagai ikon suatu produk, sehingga ia diperkenalkan kepada saya. Kesan saya, ia seorang yang ayu, charming, berpakaian rapi, dewasa, dan penuh ambisi. Ketika itu ia berusia 26 tahun, dan 2 tahun sebelumnya terpilih menjadi juara Putri Indonesia mewakili Provinsi Sulawesi Utara. “Nampaknya Anggie cocok untuk menjadi brand ambassador produk Bapak”, demikian kata Agency tersebut.

Sebelum berpisah, Anggie memberi saya sebuah buku tentang dirinya, judulnya, “Kecantikan Bukan Modal Utama Saya”, dicetak tahun 2002, terdiri atas 185 halaman, penuh berisi foto-foto sejak kecil hingga ia menjadi juara, sebuah buku promosi.

Gambar 1 – Buku promosi Angelina Sondakh, terbit tahun 2002.

Tetapi upaya menjadi brand ambassador itu tidak diteruskan, karena Angie kemudian sibuk dengan kampanye menjadi anggota Parlemen, suatu ambisi yang lain lagi. Ia kemudian terpilih menjadi anggota DPR dua kali, periode 2004-2009, dan 2009-2014. Sejak itu kehidupannya terlihat jetset, gerak-geriknya muncul hampir setiap hari di TV, sibuk berbelanja, dan berpacaran dengan Adjie Massaid. Adjie Massaid adalah mantan pemain bola Ajax Junior di Belanda, bintang film ganteng berwajah indo dan sama-sama anggota DPR dari Partai Demokrat. Di tahun 2009 mereka kemudian menikah. Suatu pansos (panjat sosial) yang fantastis bagi Angie. Di tahun itu pula Angie terpilih menjadi bintang iklan antikorupsi Partai Demokrat. “Tutup telinga dan katakan ….. Tidak !” Begitu katanya dalam iklan tersebut sambil jempolnya diturunkan ke bawah. Cita-cita menjadi brand ambassador akhirnya tercapai 6 tahun setelah ia bertemu dengan saya. Bukan ambassador produk tetapi partai. Agak terlambat, tetapi okelah, karena wajah Angie bisa muncul belasan kali setiap hari di televisi. Iklan itu keren.

Baca Juga :  Gol Tunggal Mason Mount Bawa Chelsea Kembali ke Jalur Kemenangan
Gambar 2 – Angelina Sondakh dalam iklan Partai Demokrat (sumber: YouTube).

Pada 27 April 2012 Angie kemudian ditangkap KPK karena kasus korupsi Wisma Atlet dan Proyek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Angie ditangkap mengikuti jejak Muhammad Nazarudin, bendahara Partai Demokrat yang sudah lebih duluan dipenjara. Sebagai anggota Banggar (Badan Anggaran) DPR, Angie menerima uang yang berkaitan dengan proyek-proyek di beberapa Universitas di Pulau Jawa dan Sumatera pada tahun 2010 dan 2011. KPK menemukan bukti korupsi karena adanya aliran dana di rekening Angie terkait dua proyek tersebut. Nah, inilah yang akan menjadi pelajaran bagi kita semua. Kalau mau terima uang korupsi seyogyanya jangan melalui transfer dana ke rekening bank, apalagi rekening kita sendiri. Itu akan menjadi barang bukti. Sebaiknya gunakanlah uang tunai. Tetapi uang tunai kalau bermiliar-miliar akan banyak sekali, satu dua koper besar saja tidak cukup. Sebaiknya gunakanlah mata uang asing, misalnya dolar, agar lebih ringkas. Tetapi dolar Amerika ya, jangan dolar Tanzania. Kalau dolar Tanzania atau Uganda justru kebutuhan kopernya malah lebih banyak. Dan dolar-dolar dari Afrika itu agak susah untuk dibelanjakan. Letakkan uang itu di kolong tempat tidur, dan pastikan rumah tersebut bebas banjir sehingga uangnya tidak rusak. Kalau korupsi pakai tunai, KPK akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pengusutan.

Gambar 3 – Angelina Sondakh tertangkap KPK (sumber: Republika).

Pada 10 Januari 2013, Angie kemudian divonis 4,5 tahun penjara karena menerima sogokan dari Group Permai sebesar Rp 2,5 Miliar dan 1,2 juta USD (= Rp 17,5 Miliar). Jadi kira-kira ia dapat Rp 20 M, – sebagai jasa menggiring jumlah anggaran yang sesuai dengan keinginan Group Permai. Namun Angie tidak puas dengan keputusan tersebut dan mengajukan kasasi. Sidang Kasasi kemudian digelar oleh Majelis Kasasi yang dipimpan oleh almarhum Artidjo Alkostar, Ketua Kamar Pidana MA, pada tanggal 20 Nonember 2013. Artidjo adalah hakim yang paling bersih di negeri ini, dan hidupnya sangat sederhana, kalau tidak dikatakan sebagai hakim yang memilih hidup miskin karena tidak suka menerima fasilitas berlebih dari Negara. Oleh Artidjo, vonis Angie dinaikkan tiga kali lipat menjadi 12 tahun penjara. Dan Artidjo menyita seluruh harta Angie sebesar Rp 46 Miliar. Yang terdiri atas uang pengganti senilai Rp 12,58 Miliar dan 2,35 juta dollar (= Rp 33,8 M,- dengan kurs sekarang). Luar Biasa ! Menurut Majelis Hakim, pemberatan vonis karena Angie dinilai aktif meminta dan menerima uang terkait proyek-proyek di Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pemuda dan Olah Raga.

Baca Juga :  Catatan Teoretis Mewujudkan Pilkada Demokratis

Namun Angie tidak menyerah, di tahun 2015 ia mengajukan peninjauan kembali (PK). Di tingkat PK ini Angie beruntung, karena vonisnya diturunkan menjadi 10 tahun penjara. Uang yang disita berkurang menjadi hanya Rp 2 Miliar dan USD 1 juta, nilainya turun hingga Rp 16,3 Miliar saja totalnya. Sehingga ada sisa sekitar Rp 30 Miliar yang tidak jadi disita. Alhamdulillah. Apakah Angie sekarang masih kaya raya? Belum tentu ! Karena mengurus perkara itu mahal, untuk bayar pengacara dan lain-lain. Belum lagi biaya selama 10 tahun dipenjara pasti besar juga pengeluarannya.

Dalam wawancara di televisi awal bulan ini dengan Rosiana Silalahi, penampilan Angie terlihat rapi seperti dulu ketika saya bertemu 19 tahun yang lalu. Ia sekarang berjilbab (sudah hijrah?). Wajahnya juga bersih dan kinclong menandakan ia dapat merawat diri dengan baik. Memang banyak air mata tertumpah dalam wawancara yang sekitar 1 jam itu, tetapi aura kecantikannya masih terjaga. She is My Girl, kata lagu yang dinyanyikan Morris Albert. Rosi menanyakan kenapa ia tidak melaporkan yang lain-lain agar masuk penjara juga. Angie takut akan keselamatan anaknya, kalau ia menjadi pembocor siapa lagi aktor yang kebagian selain dirinya. Memang repot sih, bongkar-bongkar masa lalu. Bagaimanapun Angie kan menikmati berkah menjadi anggota DPR selama 8 tahun. Dan kemudian menjadi susah selama 10 tahun. Itu mirip tafsir Nabi Yusuf terhadap mimpi Raja Mesir: akan datang paceklik selama 7 tahun, karena itu simpanlah panen sebelum paceklik datang.

Gambar 4 – Angelina Sondakh sekarang (sumber: YouTube).

Angie mengatakan, Banggar yang dulu itu kotor. Memangnya yang sekarang nggak? Tetapi nampaknya menjadi anggota DPR itu enak, gajinya besar dan pendapatannya gede, kata Krisdayanti. Kok masih korupsi juga? Karena untuk menjadi anggota DPR harus tebar-tebar duit, alias serangan fajar, agar rakyat memilihnya menjadi pemenang. Money Politics. Dan uang itu harus dikembalikan melalui proyek-proyek yang dianggarkan. Ibarat orang bisnis, ada cost sebagai investasi, dan kalau menang akan ada Return on Investment, uang pasti kembali. Bagaimana kalau kalah? Lumayan, menjadi uang hangus, besarnya bisa sampai Rp 50 Miliar, bahkan lebih. Karenanya menjadi anggota DPR itu isinya orang-orang kaya agar bisa masuk. Mirip dengan para Senator di Amerika. Setelah masuk Parlemen dia akan jadi tambah kaya.***

Baca Juga :  Teliti Alat Deteksi Zat Berbahaya Makanan, Siswa MAN 2 Kudus Juara Internasional Exhibition for Young Inventors

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pasukan Kuning Villareal Jegal Tim Raksasa Bayern Munich

Rab Apr 13 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS/MUENCHEN- Diluar dugaan, tim raksasa Jerman, Bayern Munich yang digadang-gadang kandidat kuat untuk menjuarai Liga Champions, justru harus tersingkir setelah di leg kedua perempatfinal bermain imbang 1-1 melawan Villareal, dan kalah agregat (1-2). Bayern Munich yang bertanding di kandang sendiri, Allianz Arena, Rabu (13/4/2022) dini hari WIB, dalam laga […]