SKETSA | Benturan Peradaban (I)

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

PERANG Rusia melawan Ukraina hari ini tiba-tiba membuat orang kembali mengingat buku Huntington tentang The Clash of Civilization. Huntington membagi peradaban di dunia ini menjadi 7 bagian, yaitu Cina, Jepang, Hindu, Islam, Ortodoks, Barat, dan Amerika Latin. Ortodoks adalah peradaban yang berpusat di Rusia. Sementara negeri-negeri Eropa Timur, termasuk Ukraina, walau dahulu merupakan bagian dari Uni Soviet, tidaklah masuk dalam peradaban Ortodoks, tetapi ia masukkan ke dalam peradaban Barat, bersama-sama Eropa dan Amerika. Hal ini jelas membuktikan bahwa Huntington tidak membagi peradaban dalam kategori antropologis dan etnis. Tetapi karena ia adalah ahli politik internasional, maka peradaban dipisahkan berdasarkan kekuasaan atau power. Hal itu yang menyebabkan terjadinya keanehan dalam cara membagi peradaban versi Huntington.

Samuel Phillips Huntington (1927 – 2008) adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat. Ia adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional, di Weatherhead Center for International Affairs. Ia membuat buku The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order yang ditulisnya tahun 1996. Isinya memperkirakan terjadinya perbenturan antarbudaya, seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 11 September (pengeboman menara WTC di New York). Berbekal kerangka buku ini banyak orang melihat perang menumpas terorisme sebagai perbenturan kebudayaan Barat dan Timur, sesuai kerangka pikir yang dituliskan Huntington. Buku ini merupakan karya monumentalnya yang menjadi kontroversi dan memicu polemik di berbagai belahan dunia selama lebih dari tiga tahun.

Selain soal keanehan Rusia yang dipisahkannya dari Eropa Timur, peradaban Cina juga mengandung keanehan. Yang dimaksud dengan peradaban Cina menurut Huntington, adalah peradaban yang berporos pada Konfusianisme dan itu tidak terjadi di daratan Cina saja, namun menyebar ke komunitas Cina yang tinggal di Asia Tenggara, serta Vietnam dan Korea. Komentar saya tentang komunitas-komunitas Cina yang tinggal di Asia Tenggara, hal itu seharusnya termasuk juga komunitas Cina yang ada di Malaysia dan Indonesia serta etnis Cina yang menjadi mayoritas di Singapura dan Filipina, namun Huntington tidak menyebutkannya.

Huntington justru menyebutkan secara tegas Vietnam termasuk dalam bagian peradaban Cina. Sementara Korea dimasukkan dalam peradaban Cina, tidak dimasukannya ke dalam peradaban Jepang, padahal pengaruh budaya Jepang dalam hal bentuk-bentuk tulisan, arsitektur, makanan, pakaian kuno, dan musik tradisional, jauh lebih terasa ketimbang Cina. Jepang dan Korea selalu bermusuhan karena Jepang pernah menjajah Korea (1910-1945), penjajahan tersebut menimbulkan kebencian pada rakyat Korea, hal itu membuat Huntington memasukkan Korea dalam kelompok peradaban Cina ketimbang Jepang. Di sini terjadi bias politik ketika Huntington melihat peradaban Korea versus Jepang.

Baca Juga :  Solusi Tangani Overkapasitas Didalam Lapas, Pemerintah Diminta Segera Merampungkan Revisi UU Narkotika

Peradaban Ortodoks yang katanya akar peradaban Rusia itu, dan ia memisahkannya dari peradaban Kristen Barat yang berasal dari peradaban Byzantin. Byzantin atau Bizantium adalah sebuah kekuasaan imperium Roma yang lokasinya di sekitar Serbia – Romania – Bulgaria – Selat Galipoli – dan Turki pra Islam. Huntington sebenarnya ingin mengisolasi Rusia dari geografi Eropa Timur – yang dikatakannya sebagai Kristen Barat – sebagai suatu peradaban, namun maksudnya itu dibalut dengan istilah Ortodoks yang kurang jelas. Pengisolasian Rusia itu bukan tanpa sebab, karena ketika pertama kali ia menulis artikel soal Clash of Civilization di Foreign Affair pada tahun 1993, kekuasaan Uni Soviet sudah runtuh (1991), yang menyebabkan berpisahnya Eropa Timur dari Rusia. Huntington tidak distinktif mengelaborasi apa yang dimaksudkannya dengan Ortodoks, namun ia dapat dengan tegas mengatakan kebudayaan itu berpusat di Rusia, walau tidak juga diidentifikasi pusat peradaban itu pada Rusia yang sebelah mana.

Selanjutnya Huntington menyebut peradaban Barat yang muncul sekitar tahun 700 atau 800 M yang memiliki komponen utama Eropa dan Amerika Utara. Hal ini juga merupakan penggolongan yang aneh menurut saya, karena peradaban ini nyata sekali didasarkan pada warna kulit (putih) dan agama (Kristen). Dan yang perlu diperhatikan adalah mulai munculnya peradaban ini, yaitu sekitar tahun 700 atau 800 M, berbarengan dengan munculnya Islam. Sementara untuk Amerika di belahan Selatan, Huntington menempatkannya tersendiri sebagai kebudayaan Amerika Latin. Menurutnya kebudayaan ini derajatnya lebih tinggi karena sepenuhnya adalah Katholik, berbeda dengan peradaban Barat yang Protestan. Namun peradaban Barat disebutnya lebih layak dan memberi tawaran yang lebih berguna ketimbang Amerika Latin.

Istilah Barat ditegaskan kemudian sebagai Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Terma “Barat” kini secara universal digunakan untuk menunjuk pada apa yang disebut sebagai Kristen Barat. Secara historis, peradaban Barat adalah peradaban Eropa. Mengapa Rusia yang secara agama, budaya dan sejarahnya tidak terlepas dari Eropa kemudian oleh Huntington disebut sebagai Ortodoks, bukan Barat? Barangkali yang dimaksud Huntington sebagai Barat, pada praktisnya adalah negara-negara NATO, suatu definisi Barat yang tidak terlepas dari bias geopolitik, ketimbang kaidah peradaban yang sebenarnya. Peradaban versi Huntington tidak didasarkan pada gejala antropologis, sehingga Afrika tidak dimasukkan ke dalam sebuah peradaban. Karena menurutnya, agama adalah karakteristik utama yang mencirikan sebuah peradaban, sementara Afrika itu menurut Huntington agamanya kurang jelas. Lucu juga ya.

Sedangkan yang dimaksud dengan peradaban Islam adalah peradaban yang bermula dari semenanjung Arabia abad ke VII kemudian menyebar ke Afrika Utara, semenanjung Iberia (Spanyol – Portugal), kemudian memasuki Asia Tengah dan Asia Tenggara. Termasuk di dalamnya kebudayaan-kebudayaan Arab, Turki, Persia dan Melayu. Begitu membahas peradaban Islam terlihat nada kecemasan pada analisanya. Katanya, di republik-republik Islam terjadi kebangkitan. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaum fundamentalis sejatinya merupakan sebuah gambaran dari situasi chaos karena kehilangan makna serta identitas, tiadanya rasa aman di tengah-tengah masyarakat sebagai dampak arus modernisasi yang berjalan begitu cepat dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan serta berkembangnya sekularisme. Berbagai kelompok keagamaan merasa bahwa Pemerintah tidak lagi memperhatikan kepentingan sosial, mereka kurang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat dengan tidak memberikan bantuan sosial di saat masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Agama adalah penggerak kemajuan dan ajaran Islam yang suci akan memainkan peran dalam kehidupan kontemporer. Dalam konteks itu, gerakan-gerakan fundamentalisme Islam memiliki posisi kuat di kalangan masyarakat Islam yang lebih maju dan sekuler seperti di Aljazair, Iran, Mesir, Lebanon dan Tunisia. Gerakan-gerakan ini mampu memanfaatkan sarana-sarana komunikasi dan organisasi modern dalam menyebarkan paham mereka. Akhir-akhir ini, kaum migran yang pindah ke kota-kota umumnya memerlukan dukungan dan bimbingan baik yang bersifat emosional, sosial, maupun material. Kelompok-kelompok keagamaan tampaknya lebih mampu melakukan hal itu daripada kelompok-kelompok lain. Agama bagi mereka, bukanlah candu masyarakat tetapi obat kuat.

Baca Juga :  Pasar Tradisional Perlu Ditata agar Perekonomian Meningkat

Para aktivis kelompok-kelompok fundamentalis Islam bukanlah kaum tani atau kaum konservatif yang tidak terpelajar. Kebangkitan keagamaan merupakan fenomena yang melanda masyarakat urban yang berwawasan modern, sangat berpendidikan, memiliki karir dalam berbagai profesi, baik dalam pemerintahan maupun dunia bisnis. Di kalangan umat Islam, banyak dijumpai anak muda yang religius tetapi orang tua mereka sekuler. Agama memberi makna serta petunjuk bagi kalangan elite dalam masyarakat yang tengah mengalami modernisasi, untuk mengimbangi dominasi bangsa-bangsa lain. Reafirmasi Islam apapun bentuknya, berarti penolakan terhadap pengaruh Eropa dan Amerika. Dalam pengertian ini, kebangkitan agama-agama non-Barat adalah manifestasi paling nyata dari gerakan anti-Westernisasi, tetapi bukan penolakan terhadap modernitas, sebuah penolakan terhadap Barat dan paham-paham sekuler.

Huntington mengatakan, kebangkitan agama merupakan fenomena global. Itulah bukti paling nyata dari penegasan-penegasan dan tantangan-tantangan kultural yang diarahkan pada Barat yang datang dari Asia dan masyarakat-masyarakat Islam. Kemajuan ekonomi semakin memperkuat posisi negara-negara Asia. Masyarakat Asia yakin bahwa keberhasilan ekonomi merupakan hasil kebudayaan Asia, yang lebih unggul dari Barat. Ketika negara-negara Asia, karena kemajuan yang dicapai dalam bidang ekonomi, semakin yakin pada kemampuan sendiri, umat Islam menegaskan bahwa ajaran Islam merupakan satu-satunya sumber identitas, makna, stabilitas, legitimitas, kemajuan, kekuatan, dan harapan – yang dinyatakan dalam slogan “Islam merupakan jalan keluar”. Kebangkitan Islam ini merupakan fase akhir dari hubungan antara Islam dengan Barat, dan bentuk luas dari gerakan intelektual, kultural, sosial, dan politis yang menyebar di seluruh dunia. John L. Eposito memperjelasnya dengan, meningkatnya perhatian terhadap ajaran-ajaran agama – menghadiri mesjid, shalat, puasa, serta pemakaian busana muslim, dan revitalisasi sufisme. Demikian pula penegasan kembali ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan: berkembangnya perbankan dan lembaga-lembaga pendidikan yang Islami. Pemerintah maupun gerakan oposisi menjadikan Islam sebagai pijakan untuk memperkuat posisi mereka dan memperoleh dukungan masyarakat.

Baca Juga :  Reynaldi : Apakah Pemberian Mobil Listrik Kuning Plat Merah Tanda Berkoalisi ? Kemana PDIP Akan Berlabuh ? KIB Kah ?

Pada awal 1990-an, Suharto secara eksplisit mengadopsi sebuah kebijakan yang “lebih Islami”. Untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap Islam, para pemimpin pemerintahan – Ozal (Turki), Suharto, Karimov (Uzbekistan) – segera melakukan ibadah haji. Pemerintah-pemerintah di negara Islam juga melakukan Islamisasi hukum. Di Indonesia, konsep-konsep dan praktik-praktik hukum Islam dipadukan dengan sistem hukum sekuler. Hal itu tidak terlepas dari meningkatnya jumlah penduduk di negeri-negeri Muslim dan demokratisasi yang mengiringinya. Pemuda merupakan elemen terpenting dari organisasi Islam dan gerakan-gerakan politik.

Austria, Finlandia, dan Swedia, secara kultural semuanya merupakan bagian dari Barat, dan pada saat terjadi Perang Dingin, bersikap netral. Tetapi begitu Perang Dingin usai dan Rusia runtuh, mereka kemudian bergabung dengan asal-usul budaya mereka dalam Uni Eropa. Negara-negara Katholik dan Protestan bekas anggota Pakta Warsawa, Polandia Hongaria, Republik Chechnya, dan Slovakia, masuk dalam keanggotaan Uni Eropa dan menjadi anggota NATO, begitu pula dengan negara-negara Baltik. Eropa, bagaimanapun juga, tidak menginginkan berdirinya sebuah negara Islam (mewaspadai Turki). Uni Eropa tidak senang jika berdiri sebuah negara Islam kedua (mencurigai Bosnia), di benua Eropa. Turki yang sudah 17 tahun ingin bergabung dengan masyarakat ekonomi Eropa (MEE) sampai sekarang tidak dikabulkan, sementara Slovenia yang baru merdeka dari Yugoslavia pada tahun 1991 sudah dapat masuk dengan mulus pada tahun 2004. Hal ini tidak terlepas dari kecurigaan atau phobia terhadap Turki yang berlatar belakang Islam. Sementara Slovenia yang berlatar Kristen dengan mudah dapat bergabung dengan ‘saudaranya’ dalam Uni Eropa.

Bagaimana reaksi orang Turki ketika ditolak oleh Barat menjadi bagian dari Eropa? Dan bagaimana nasib Indonesia yang mayoritas muslim itu menurut Huntington? Besok kita akan lanjutkan …..***

(Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id).

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Ryan Ding, Huawei: GUIDE Mewujudkan Ekonomi Digital yang Lebih Baik

Sel Mar 1 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BARCELONA – Di acara Huawei Day0 Forum yang digelar sebelum ajang MWC22 Barcelona, Ryan Ding, Executive Director & President, Carrier BG, Huawei, menyampaikan sebuah paparan berjudul “Lighting up the Future”. Menurut Ding, kalangan operator telekomunikasi dapat melakukan tiga hal: densitas koneksi, keberagaman komputasi, dan intensitas penurunan karbon. […]