SKETSA | Bioskop Dian

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SAYA pernah nonton di Bioskop Dian. Bioskop itu punya ruang balkon yang berisi 3 baris kursi. Kalau menonton di siang hari dan bukan akhir pekan, maka balkon itu sepi, sehingga cocok untuk melakukan operasi senyap dengan pasangan kita. Hebatnya ketika itu, kita boleh merokok di dalam ruang bioskop. Film-film yang diputar biasanya film Indonesia atau film Barat yang umurnya sudah rada tua. Tetapi kalau menonton dengan pacar, isi film tidak penting bukan? Ada isi yang lain yang lebih perlu kita jelajahi. Gedung film itu letaknya di pojokan, Jln. Dalem Kaum No. 58, bersebelahan dengan rumah jabatan Wali Kota Bandung. Di tahun 1995 bioskop itu tutup, kalah bersaing dengan Cineplex 21. Bioskop Dian adalah bioskop bergaya Art Deco yang dibangun oleh Wolff Schoemaker pada tahun 1930. Wolff Schoemaker adalah gurunya Bung Karno di ITB, dan arsitek yang membangun Villa Isola serta Hotel Preanger, yang menjadi landmark Kota Bandung. Jadi, bioskop Dian itu adalah suatu peninggalan berharga yang harus dijaga, karena gedung itu telah menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Berbeda dengan tiga gedung bioskop di sekitar Alun-alun yang sudah dihancurkan: Elita, Varia, dan Oriental – gedung bioskop Dian selamat, masih utuh sampai sekarang. Hal itu bisa terjadi karena ada dispute antara investor yang sudah ngebet menggarap gedung tersebut, pemilik tanah masa lalu (katanya seorang Wali Kota Bandung di zaman dahulu), dan BUMD Pemprov Jabar sebagai pemilik gedung.

Gambar 1 – Bioskop Dian.

Gedung yang dibuat sebelum Perang Dunia II biasanya dibangun dengan bahan berkualitas tinggi seperti kayu keras langka dan kayu dari hutan tua yang sekarang sudah tidak ada lagi, seperti kayu jati dan kayu ebony. Bangunan di zaman itu juga dibangun dengan standar yang berbeda. Bioskop Dian mempunyai dinding yang tebal karena ukuran batanya lebih besar dari bata yang diproduksi saat ini. Karenanya sampai sekarang gedung itu tetap kekar dan kuat walau tidak dirawat. Pemprov Jawa Barat tidak mengalokasi dana untuk merawat gedung tersebut, karena pelestarian bukan termasuk dalam prioritas program. Sebagai arsitek, sudah tentu Bapak Gubernur akan malu bila melakukan pencitraan di depan gedung tersebut, gedung cagar budaya yang di teras depannya menjadi pangkalan bakso dan tempat gelaran barang asongan. Tentu saja RK akan melakukan Vlog di tempat lain yang lebih berada.

Baca Juga :  WHO: Tidak Ada Vaksinasi Corona hingga Pertengahan 2021
Gambar 2 – Bioskop Dian saat ini.

Pada tahun 1961, aktivis urban Jane Jacobs mengejutkan para perencana kota dengan bukunya, “The Death and Life of Great American Cities”, di mana Jacobs membahas kemungkinan melakukan bisnis pada usaha-usaha tertentu, apabila berlokasi di gedung-gedung tua. Usaha yang cocok menurutnya adalah toko buku, restoran, café, toko souvenir, barang antik, pub, dan perkantoran. Hal itu telah dicobakan dan berhasil pada gedung bekas kantor Imigrasi yang dahulu bernama Bataviasche Kunstkring yang berlokasi di jalan Teuku Umar, Jakarta. Di tahun 2013, gedung yang berumur seabad itu dijadikan restoran dan tea house yang mewah serta elegan bernama Tugu Kunstkring Paleis. Di bagian tengah gedung yang cukup luas seringkali dijadikan ajang lelang karya seni dan pembukaan pameran, di mana tembok-tembok gedung itu dijadikan tempat memajang lukisan. Artinya gedung tua dapat difungsikan kembali sesuai fungsi sosial budayanya di masa lalu. Saya sendiri pernah membuka pameran lukisan Odji Lirungan di gedung itu tahun 2014.

Gambar 3 – Interior Tugu Kunstkring Paleis.

Melihat apa yang dilakukan oleh seniman Tisna Sanjaya yang berjuang sendirian untuk menghidupkan bioskop Dian sebagai ruang budaya, hati saya terharu. Tisna dan kawan-kawan membersihkan bioskop yang kumuh itu, untuk kemudian melakukan pameran tunggal, pameran bersama, film screening, diskusi, secara mandiri, tanpa support dari Pemerintah. Walau acara tersebut terkesan sederhana, dengan dukungan kursi belang-bentong ala kadarnya, namun terlihat mereka berbahagia dan lebih menghargai the old heritage dari Kota Bandung tercinta ketimbang gubernurnya.

Gambar 4 – Kegiatan seniman Bandung di Bioskop Dian.

Mengapresiasi seni dapat membantu kita melampaui diri sendiri dan menemukan apa yang menjadi karya orang lain dengan cara yang mendalam. Sementara karya seni dapat beresonansi dengan emosi, karena sesuatu yang kita alami ketika melihat karya seni, dapat membantu memahami pikiran dan emosi si seniman juga. Setidaknya itulah yang dikatakan Adorno, dan dilakukan Bung Karno jauh sebelumnya. Sehingga ia mengumpulkan karya seni dan mendidik orang lain untuk ikut menghargainya. Seandainya bioskop Dian itu dapat dilestarikan dan  digunakan sebagai tempat artistik yang bermanfaat seperti yang disarankan Jane Jacobs, niscaya gedung itu akan dinikmati orang banyak, terhindar dari kerusakan, dan menjadi sarana pendidikan seni generasi muda untuk menghargai warisan bangsanya.***

Baca Juga :  Orangtua Naiyla Ucapkan Terima Kasih

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Terima Dubes AS, Menteri Johnny Bahas Forum ITU dan Kerja Sama Digital

Sel Mar 29 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Sung Y. Kim. Dalam pertemuan selama kurang lebih satu jam itu, Menteri Johnny dan Dubes Sung Y. Kim membahas dukungan untuk kandidat Sekretaris Jenderal International Telecommunication Union (ITU) […]