SKETSA | Gojek

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

KETIKA di 2010 saya membaca berita ada MBA lulusan Harvard Business School tahun 2009 ingin ngurusin tukang ojek yang suka ngumpul di tikungan jalan, saya kagum. Apalagi orang yang mau bercapek-capek itu seorang anak muda, berusia 26 tahun. Suatu hal yang luar biasa. Dalam berita itu disebutkan maksud Nadiem Makarim semata-mata untuk menolong kehidupan para pengemudi ojek. Dalam acara tersebut diluncurkan Gojek, sambil membagi-bagi seragam jaket dan helm warna hijau. Tahun 2017 adalah tahun terakhir saya bekerja untuk orang lain. Saya punya kantor dan usaha sendiri yang sudah running dan dipersiapkan sejak 2010. Begitu tidak digaji orang lagi, maka jumlah mobil di rumah saya kurangi, dari 5 menjadi 2 saja. Itu pun dipakai anak dan istri. Saya cukup naik ojek. Di tahun 2018 sudah tidak ada tukang ojek yang tanpa seragam dan mereka hanya mau mengantar saya kalau menggunakan aplikasi. Jadi saya terpaksa menginstall aplikasi Gojek di Iphone.

Gambar 1 – Nadiem Makarim naik Gojek (sumber: Twitter).

Memang mengejutkan, naik ojek tanpa aplikasi untuk mengantar ke kantor saya di daerah Pasar Minggu biasanya Rp 30.000,- dengan aplikasi Gojek saya hanya membayar Rp 12.000,- saja. Saya tanya ke tukang ojek kamu terima berapa dari Gojek? Dia jawab Rp 35.000,- Itu gila memang, Gojek mensubsidi saya Rp 23.000,- Berapa trilyun uang yang dibakar demi promosi agar masyarakat beralih ke Gojek? Astra misalnya, membeli 2% saham Gojek seharga Rp 4 Trilyun. Jadi perusahaan Gojek itu valuasinya adalah Rp 200 T atau 1% = Rp 2 T. Saya pernah mendengar BCA membeli 15% dengan Rp 15 T. Mengapa harganya berbeda? Karena Gojek menilai BCA lebih strategis, nantinya dengan mudah Gopay akan terintegrasi ke BCA, dan memperhitungkan langkah strategis lain ke depan seperti pendirian bank Jago, misalnya. Nadiem sendiri sekarang hanya punya 4,81% saja di Gojek. Jadi kemana saja uang para investor tesebut? Selain untuk promosi, Gojek juga rajin membeli saham-saham perusahaan lain yang terkait dengan bisnis antaran dan transaksi elektronik, seperti Matahari Hypermarket, LinkAja, dan Bank Jago.

Baca Juga :  Boehringer Ingelheim Meraih Gelar "Global Top Employer" pada 2022

Saat ini transaksi per tahun Gojek sudah mencapai Rp 200 Trilyun dan tumbuh 10% per tahun. Dengan bergabungnya Tokopedia maka valuasi total menjadi Rp 243 T. Di mana jumlah mitra driver lebih dari 2 juta dan Gojek mempunyai 11 juta mitra pedagang, serta 40 juta pengguna. Di balik merger Gojek dan Tokopedia, ada dukungan 20 investor kakap lokal maupun asing. Investor tersebut antara lain, Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD.com, KKR, dan Northstar. Ada pula investor Pacific Century Group, PayPal, Provident, Sequoia Capital, Softbank Vision Fund 1, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa, dan Warburg Pincus.

Ide Gojek muncul karena Nadiem mengalami kesulitan ketika ojek pangkalan kerap sulit dicari ketika dibutuhkan. Sementara saat tidak dicari, justru ojek banyak terlihat. Tingginya tarif ojek yang kerap diterimanya membuat banyak pertanyaan seputar ojek dan kesejahteraan pengemudinya. Dalam perbincangan dengan ojek langganannya, Nadiem tersadar bahwa permasalahan tentang jasa ojek adalah problem fundamental. Ada supply dan demand yang tidak seimbang. Ia akhirnya mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek. Terlebih lagi, tidak semua orang lokasinya dekat dengan pangkalan ojek. Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal. Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar. Nadiem mengaku, idenya ini juga sejalan dengan salah satu tugas kuliah ketika mengambil master di Harvard Business School. Saat awal merintis bisnis, ia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Bagi Nadiem, awal mendirikan Gojek merupakan masa yang penuh dengan tantangan. Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya merekrut para pengojek untuk bergabung. Maklumlah, saat itu brand Gojek belum dikenal seperti sekarang. Nadiem pun terjun langsung merekrut tukang ojek. Ia kerap turun ke jalan, tempat para tukang ojek mangkal. Ia banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga membelikan mereka kopi dan rokok. Setelah rajin melakukan pendekatan, akhirnya banyak dari mereka bersedia bergabung di Gojek. Semua kerja kerasnya itu tidak sia-sia. Dalam waktu singkat Go-Jek juga sudah melebarkan sayapnya ke kota-kota besar di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Baca Juga :  Menelusuri Jembatan Cirahong (2): Kerap Dikaitkan dengan Cerita Horor dan Mistis

Bagi saya kehebatan Gojek yang utama ada dua. Pertama, kepandaiannya membuat software aplikasi sehingga user friendly dan cerdas, yang dihubungkan dengan e-pocket yaitu Gopay. Hal ini sangat sulit. Blue Bird misalnya, mereka membuat aplikasi MyBlueBird tidak pernah betul-betul beres sampai sekarang, padahal mereka sudah memulai mengembangkan aplikasi di smartphone jauh lebih lama dari Gojek. Sampai saat ini supir Blue Bird lebih suka menggunakan aplikasi Gojek ketimbang aplikasinya sendiri. Kedua, kepandaian Nadiem merayu para investor dalam dan luar negeri sehingga mau menyerahkan uangnya dengan senang hati ke Gojek yang jumlahnya lebih dari seratus trilyun Rupiah. Ada lagi kehebatan lain Nadiem yaitu kemampuannya melihat dan mengolah pengemudi ojek yang terlihat remeh menjadi suatu bisnis ratusan trilyun Rupiah. Ia memang visioner.

Mula-mula ia mendirikan Gojek bersama dua orang, Kevin Alwi dan Machaelangelo Moran. Kemudian, NSI Ventures, anak usaha Northstar Group yang didirikan Patrick Waluyo merupakan investor awal Gojek. Perusahaan ini masuk ke Gojek pada 2014. Selain itu ada juga East Ventures yang didirikan oleh Wilson Cuaca. Pada 2016, Gojek mendapat suntikan dana USD 550 juta yang dipimpin oleh KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, Capital Group Private Markets. Selain itu ada investor Sequoia India, Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures dan Formation Group. Pada 2018, Gojek mendapatkan suntikan dana USD 1,5 miliar yang dipimpin oleh Tencent Holdings. Dalam suntikan dana ini ada investor Via ID, Temasek Holdings, Astra International Tbk, Meituan Dianping, JD.com, Hera Capital, Google dan Blibli. Pada tahun yang sama Gojek kembali mendapatkan suntikan dana USD 920 juta dari Tencent Holdings, JD.com dan Google. Setahun kemudian Mitsubishi Motor, Mitsubishi Corporation dan Mitsubishi UFJ Financial Group jadi investor Gojek.

Langkah besar Gojek berikutnya adalah melakukan merger dengan Tokopedia dan melakukan go public dengan nama gabungan GoTo. Walau valuasi gabungan adalah Rp 243 T, namun total asetnya hanya Rp 158,17 T. Gojek dan Tokopedia (GoTo) bersama-sama rugi Rp16,6 triliun sepanjang tahun 2020. Sampai September 2021, GoTo masih rugi Rp12,25 triliun. Bagaimana nantinya kerugian GoTo pada 2022 ini, tambah besar atau mengecil? Pertanyaan berikut, mengapa merugi, padahal para investor sudah meminta Gojek berhenti bakar duit untuk promosi? Sementara itu, pendapatan GoTo per September 2021 mencapai Rp 3,40 triliun, naik dari tahun 2020 sebesar Rp 2,34 triliun. Dalam IPO itu, GoTo melepas 52 miliar saham seri A, jumlah tersebut setara 4,35% saham. GoTo mematok harga saham perdana Rp 338,- per saham. Melalui penawaran saham perdana ini GoTo berpeluang meraup dana jumbo hingga Rp 17,99 triliun. Artinya 1% saham ditawarkan sebesar Rp 4,14 T, atau 1,7 kali dari nilai valuasinya. Terlepas dari kekaguman kepada Nadiem, saya tidak akan mau membeli saham GoTo. Karena perusahaan itu menjual sahamnya ke publik terlalu mahal dan rugi perusahaan itu mempunyai kecenderungan membesar selama 12 tahun beroperasi. Buat apa membeli perusahaan rugi dengan harga mahal?

Baca Juga :  Pemkab Bandung Raih Swasti Saba Padapa
Gambar 2 – Penurunan Saham GoTo (sumber: RTI).

Tetapi tidak semua berpikiran seperti saya. Telkomsel misalnya, mereka membeli obligasi konversi Gojek USD 150 juta pada November 2020, tanpa bunga, yang jatuh tempo November 2023. Ketika Gojek kemudian merger dengan Tokopedia menjadi GoTo pada 17 Mei 2021. Obligasi Telkom di Gojek dikonversi menjadi saham GoTo, Telkom malah menambah investasi USD 300 juta di GoTo. Satu bulan setelah IPO, harga saham GoTo anjlok menjadi Rp 194 per saham, Telkom rugi besar. Masalahnya, apakah saham GoTo dapat naik lagi? Bukankah pola anjloknya saham GoTo serupa dengan Bukalapak (BUKA) yang bisnisnya sejenis dan sampai hari ini tidak pernah naik lagi. Kasihan bagi yang pernah membeli saham GoTo di posisi puncak yaitu pada harga Rp 442,-

Gambar 3 – Penurunan Saham BUKA (sumber: RTI).

Di luar urusan saham GoTo, sebetulnya ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu keluhan Merchant soal Skema Komisi Layanan GoFood. Merchant harus membayar komisi 20% dari omzet ditambah Rp 1000,- biaya transaksi. Belum lagi ada biaya lain seperti promo untuk menaikan awareness yang ongkosnya Rp 5.000. Kalau tidak ikut promo, bisa jadi merchant akan berkurang omsetnya karena tidak akan dipromosikan di dalam GoFood. Untuk ukuran ekonomi UMKM, nampaknya potongan Gojek ini terlalu besar.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dibungkam Newcastle 2-0, Arsenal Terancam Gagal ke Liga Champions

Sel Mei 17 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS/LONDON– Newcastle sukses membungkam Arsenal 2-0 pada lanjutan Liga Inggris pekan ke-37, yang berlangsung di St. James Park, Selasa (17/5/2022) dini hari WIB. Dari hasil ini, The Gunners julukan Arsenal terancam tersingkir dari persaingan perebutan tiket ke Liga Champions dengan Tottenham Hotspur, yang kini menempati urutan empat dengan mengemas […]