SKETSA | Hendrik Lukman

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

KETIKA dulu di Bandung, saya ingin sekali ikut kursus atau sekolah gambar yang diasuh Pak Barli Sasmitawinata. Namun apa daya uang saku saya pas-pasan. Kalau seandainya ada uang lebih pun paling-paling akan dibelikan beberapa batang rokok. Sekarang kondisi keuangan lebih parah lagi, karena saya sudah sama sekali tidak merokok. Pada akhir 80an, ketika banyak mendapat tugas ke Bandung, saya sering menginap di hotel Utari, yang terletak di pinggiran jalan Dago. Karena di beranda hotel tersebut ada sebuah lukisan Barli ukuran besar bergaya kubisme. Tetapi sekarang lukisan itu sudah tidak ada lagi di tempatnya semula.

Di kemudian hari saya akhirnya mengoleksi beberapa karya Barli, baik yang kertas maupun yang kanvas. Sebelum membeli, biasanya saya mengecek dulu apakah karya itu ada di buku atau tidak, sebagai bukti provenance. Karena sekarang karya-karya Barli mulai dipalsukan. Setidaknya ada dua buku pernah diterbitkan, yaitu buku yang ditulis Jim Supangkat, berjudul “Titik Sambung: Barli Dalam Wacana Seni Lukis Indonesia” dan buku Ramadhan KH, “Kehidupanku Bersama Barli”. Sisanya, karya-karya Barli tersebar di banyak katalog pameran. Misalnya, saya ditawarkan sebuah karya Barli tentang wanita sedang menari yang dibuat tahun 1995. Saya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menemukan katalog yang mencantumkan karya tersebut. Setelah katalog itu ditemukan — ternyata karya itu pernah dipamerkan di gedung Depdikbud pada tahun 1996 — saya kemudian baru berani membelinya. Sebab menurut saya karya Barli yang ingin dikoleksi itu bagus sekali. Bisa dibilang terlalu cantik atau too good to be true (Gambar -1).

Karenanya, beruntung Hendrik Lawrence Lukman, yang lahir di Bandung, 25 Februari 1957, pernah belajar dengan Barli di Studio Rangga Gempol dalam kurun waktu 1976-2004. Memang, begitu saya melihat karya-karyanya, membuat takjub. Karya Hendrik kuat dengan permainan bayang-bayang, gelap – terang, dengan anatomi yang sempurna. Ia mengingatkan saya pada murid Barli yang lain, Chusin Setiadikara, yang beberapa karyanya saya koleksi. Murid-murid Barli biasanya kuat di drawing dan teknik arsir. Hal itu terlihat juga jejaknya pada karya-karya Hendrik ini.

Baca Juga :  Bangun Musala, Warga Brondong Harapkan Bantuan
Gambar 1 – Barli Sasmitawinata, “Penari Bali”, 1995.

Pameran Hendrik kali ini dilangsungkan di Taman Budaya Jawa Barat, jl. Bukit Dago Selatan 53A, pada tanggal 23-30 September 2022. Dikurasi oleh Diyanto dan diberi judul “Body in Art”. Hal yang terpenting dari pameran ini, selain kualitas karyanya, adalah dihidupkannya kembali tradisi melukis nude yang memudar setelah Reformasi 1998. Saya menduga setelah Reformasi, bermunculan ormas yang mendesakkan keinginannya agar dunia seni tunduk pada kaidah-kaidah moral dan agama. Sebagai contoh, ketika pada pameran CP Biennale 2005 yang berlangsung di Museum Bank Indonesia, karya Agus Suwage diturunkan karena dianggap mengandung konten pornografi. Panitia mempertimbangkan protes yang dilayangkan ormas demi menjaga keamanan fasilitas museum tersebut.

Gambar 2 – Affandi, “Erotika”, 1971.

Tradisi melukis nude sudah berlangsung lama dalam sejarah senirupa Indonesia. Pelukis-pelukis seperti Affandi, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, Lee Manfong, S. Soedjojono dan Barli sendiri, familiar dengan melukis model telanjang. Bahkan Affandi di tahun 70an pernah membuat serial Erotika, di mana subyek dalam lukisan sedang melakukan persetubuhan (Gambar – 2). Tradisi ini sempat berhenti sebentar ketika Basoeki Abdullah meninggal, tetapi kemudian dilanjutkan kembali oleh pelukis Mochtar Apin. Hal itu dapat kita lihat jejaknya dalam buku Jim Supangkat tentang lukisan-lukisan nude Apin yang berjudul “Tubuh-tubuh Provokatif: Membaca Karya-karya Mochtar Apin 1990-1993”.

Gambar 3 – Karya nude Hendrik Lukman (2007).

Namun setelah Apin, tradisi itu tidak ada yang melanjutkan. Apalagi setelah peristiwa CP Biennale di tahun 2005 itu. Penggerudukan ormas ketika itu telah sukses membuat pelukis Indonesia ketakutan membuat karya nude. Ketakutan dengan 2 alasan: pertama — takut tidak bisa dipamerkan, dan kedua –- takut tidak laku di market. Karenanya, keberanian Hendrik perlu kita acungi jempol, ia menghidupkan kembali apa yang sudah padam, sehingga kelak para pelukis Indonesia bergairah lagi menggambar anatomi.

Baca Juga :  Bursa Pencalonan Ketua DPD Jelang Musda Golkar, Kang DN: Masih Pikir-Pikir
Gambar 4 – Poster Pameran Hendrik Lukman.

Melukis nude merupakan bagian dari cara memahami anatomi manusia. Karena di sana kita dapat mempelajari mekanisme gerakan dan koordinasi tubuh sehingga tidak ada kesalahan dalam pelukisan. Hal itu sudah dilakukan Leonardo da Vinci dan para pelukis Renaisans lainnya di abad 15. Hal itu juga yang dipelajari di sekolah seni Indonesia sejak dulu. Memang melukis nude sempat dilarang di ITB karena Ahmad Sadali yang religius itu menganggap hal itu tidak patut secara agama. Hal itu yang juga menjadi sumber konflik antara Sadali dengan Apin dan Barli. Konflik itu berlanjut, dengan prinsip Sadali yang menganggap realisme dan naturalisme sudah berlalu dalam periode senirupa dunia. Karenanya belajar melukis anatomi tidak diperlukan lagi. Memang ketika itu abstrak ekspresionisme sedang hit di ITB, hal yang membuat Barli tidak bisa menerima sehingga ia keluar dari ITB dan mengembangkan Studio Rangga Gempol. Kiranya uraian saya tentang pameran Hendrik ini sudah terlalu jauh mundur ke belakang. Maka sebaiknya mari kita semua menikmati karya-karya Hendrik secara langsung tanpa banyak berbincang soal sejarah seni.***

  • Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018), dan buku “Seni Sebagai Pembebasan” (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id)

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

REFLEKSI | Cobaan

Sab Sep 24 , 2022
Silahkan bagikanOleh Bambang Melga Suprayogi SELAMA manusia hidup, semuanya selalu dalam cobaan, tidak ada yang luput dari cobaan itu. Allah sengaja membuat ujian, cobaan, atau tempaan agar manusia memiliki pengalaman hidup dan mental tahan banting. Karena andai kita kuat sedari awal, karakter, sikap hidup, dan pandangan-pandangan kita, di berkahi pemahaman-pemahaman […]