SKETSA | Jouhatsu

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

WAKTU saya SMA ada seorang yang mengaku sebagai ahli komputer namanya Jusuf Randy. Hampir setiap hari ia berbicara di koran mengenai semua hal yang berhubungan dengan komputer. Ia tampil di segala macam seminar menjelaskan ini-itu, sehingga dijuluki Raja Komputer. Apa yang ia katakan sebenarnya berhubungan dengan promosi LPKIA, penyelenggara kursus ilmu komputer yang ia dirikan. LPKIA cukup laku walaupun mahal. Tetapi ilmu komputer yang diajarkannya sangat permukaan, hanya pengoperasian belaka. Bukan mengajari ilmu komputer bahasa pemrograman, misalnya bahasa Pascal dan C++ yang populer ketika itu.

Memang saat itu masyarakat masih buta komputer sehingga langkahnya mempopulerkan penggunaan komputer, walau komputer masih mahal ketika itu, bolehlah. Setelah 10 tahun cuap-cuap, suatu hari ia ditangkap Polisi. Hal itu berhubungan dengan penggelapan uang investor di LPKIA. Dari penangkapan itu ada hal lain yang ditemukan, ternyata Jusuf Randy menggunakan KTP palsu. Dan dari KTP palsu itu, Jusuf Randy dapat membuat Paspor. Penelusuran Polisi lebih lanjut, nama asli Jusuf Randy adalah Nio Tjoe Siang, warga negara Jerman kelahiran Indonesia. Jadi ia mempunyai dua paspor. Pada saat itu konsep Dwikewarganegaraan belum dikenal di Indonesia. Jusuf Randy kemudian buron. Di Jerman pun ia tidak diketemukan. Sampai sekarang. Ia hilang.

Orang menghilang seperti Jusuf Randy dalam bahasa Jepang disebut Jouhatsu, artinya menguap. Karena banyak orang di Jepang sengaja menghilang dari kehidupan mereka tanpa jejak. Hal itu disebabkan oleh suatu kejadian yang membuatnya malu, misalnya ia berhenti atau dipecat dari perusahaan dan menjadi pengangguran, sehingga memunculkan rasa tidak berguna di keluarga atau masyarakat, sehingga sebaiknya ia mati saja. Bunuh diri. Di Jepang bunuh diri sudah menjadi isu nasional. Pada tahun 2014 angka bunuh diri bisa mencapai 70 orang per hari. Karena rasa kesepian, susah ekonomi, isolasi, putus cinta, gagal di sekolah atau kuliah, dan stress. Lagi pula dalam tradisi Jepang, bunuh diri itu bukanlah suatu dosa, malahan menjadi kebanggaan. Pelakunya biasanya laki-laki antara umur 20-44 tahun. Orang Jepang tidak diajarkan cara menunjukkan ketidaksenangan kalau mendapat tekanan, misalnya tekanan dari boss, dan tidak tahu cara mengekpresikan perasaan ketika gagal, serta frustasi. Akhirnya bunuh diri menjadi cara termudah untuk lari dari masalah.

Baca Juga :  Bawaslu, "Lebih Baik BKPSDM Benahi Jajarannya"
Gambar 1 – Artist Impression tentang Jouhatsu (sumber: El Redondelito).

Orang Jepang sudah ditanami sejak kecil mentalitas pentingnya mematuhi peraturan, istilahnya  “atarimae”. Atarimae dalam bahasa Indonesia artinya melakukan perbuatan yang seharusnya, selayaknya dan sepantasnya. Mereka melakukan sesuatu yang benar karena merupakan “atarimae”. Hal yang sudah sepantasnya dilakukan. Misalnya, sudah seharusnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Sudah selayaknya untuk mundur dari pekerjaan jika kita tidak melakukan sesuatu. Dalam banyak hal, pemimpin perusahaan memilih mati ketika gagal melakukan usaha dan kiat-kiat agar situasi korporat tidak bertambah buruk. Atau seorang tua yang menderita karena penyakit dan harus dirawat oleh keluarganya. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain sehingga memilih untuk mati. Orang Jepang juga menghargai kejujuran dan integritas. Lebih memilih mati ketika menghadapi sebuah skandal yang menodai nama dan reputasi, karena merasa hal itu sudah sulit untuk ditangani dan diperbaiki.

Novelis favorit saya, Yukio Mishima, juga mati bunuh diri karena kecewa dengan imperialisme Amerika pada Jepang setelah Perang Dunia II. Ia memimpikan Jepang masa lalu yang bersemangat Samurai. Bunuh diri Mishima mengejutkan banyak orang dan masyarakat dunia menyayangkan potensi besar sastrawan itu yang terbuang sia-sia dengan kematian dini. Karenanya Pemerintah Jepang berusaha keras untuk memberi penjelasan dan anjuran ke masyarakat bahwa bunuh diri itu tidak baik dan dilarang. Upaya penyuluhan itu kemudian mendatangkan hasil. Sejak 7 tahun yang lalu angka bunuh diri di Jepang berkurang drastis. Masyarakat mulai menyadari bahwa bunuh diri itu tidak baik.

Gambar 2 – Yokio Mishima (sumber: sylviabeirute).

Namun akhir-akhir ini orang Jepang mepunyai solusi lain untuk menghilangkan dirinya, yaitu dengan cara berpindah kota dan mengganti identitasnya. Sehingga ia tidak dapat lagi dicari dan dikenali. Karena selain ia pindah jauh terpisah dari kota asalnya, beberapa dari mereka melakukan operasi ganti wajah. Jouhatsu dapat terjadi karena ada perusahaan yang memberi jasa untuk membantu mencarikan identitas baru. Jasa seperti itu disebut sebagai Yonige-ya. Biayanya sekitar US$ 2.600,- Diperkirakan terjadi 100.000 kasus Jouhatsu setiap tahun. Penghilangan diri itu bisa disebabkan karena lari dari hutang, pernikahan yang tidak bahagia namun menghindar dari perceraian,  gagal ujian, atau ingin menyelamatkan nama keluarga.

Baca Juga :  Dukungan Pertamina Kepada Mitra Binaan Hingga Ekspor ke Berbagai Negara

Dengan adanya identitas baru di lingkungan berbeda, maka ia merasa nyaman karena tidak lagi malu dengan kegagalannya di tempat yang lama. Ada yang memiliki cukup uang tabungan (pensiun orang Jepang sangat besar), sehingga ia dapat hidup secara mandiri dan mencari partner baru kalau masih menginginkan hidup bersama. Banyak juga yang menghabiskan hidup dengan bermain Pachinko, tinggal di hotel murah, atau menjadi anggota Yakuza. Setidaknya Jouhatsu menjadi win-win situation untuk pribadi, keluarga dan masyarakat Jepang. Agar kepiluan dapat berkurang.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sistem e-Haj Saudi Tentukan Jumlah Kuota Haji Reguler dan Khusus

Kam Mei 5 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Indonesia tahun ini mendapat kuota haji sebesar 100.051 jemaah. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief menegaskan bahwa besaran kuota haji reguler dan khusus sudah ditentukan sejak awal oleh Pemerintah Arab Saudi. “Pemberian kuota haji tahun 1443 H/2022 M tidak dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya, […]