SKETSA | Kartini

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

KEMAREN semua sesi zoom meeting dipenuhi dengan acara Kartini. Intinya ada diskusi yang ingin menjelaskan bahwa perempuan Indonesia sekarang ini sudah Kartini, atau belum Kartini. Rata-rata yang berbicara adalah para perempuan terpelajar, muda usia, bekerja dan mandiri. Mandiri maksudnya ia tidak lagi memasak dan mencuci piring serta mensetrika baju. Semuanya diserahkan ke Kartini lain yang kurang mampu. Ada Kartini yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan sepanjang hari berada di dapur untuk melayani Kartini di dalam rumah. Ada Kartini yang bekerja di kios binatu menerima order cucian dari rumah-rumah Kartini yang lebih mampu. Ada Kartini yang bekerja sebagai tukang salon, pagi-pagi sudah datang mendandani Kartini yang membayarnya untuk mencuci rambut dan melakukan make up karena Kartini ini sedang bersiap-siap melakukan perayaan hari Kartini dengan Kartini-kartini lain, teman-temannya yang kelas ekonominya menengah ke atas. Sementara urusan mengasuh dan menjaga anak diserahkan ke Kartini lain yang menjadi suster.

Demikianlah Kartini. Ia lambang emansipasi perempuan yang tafsirnya bisa macam-macam. Bisa saja Kartini diartikan sebagai perempuan kantoran untuk menunjukkan bahwa perempuan sekarang sudah maju, tidak seperti Kartini asli yang terkekang. Atau Kartini yang menjadi supir truk atau supir Grab. Kalau menjadi supir itu artinya Kartini yang masih berjuang. Saya suka dengan image Kartini yang dilukis Basoeki Abdullah (1915 – 1993). Bagi Basoeki, Kartini (1879 – 1904) demikian penting menginspirasi dirinya sehingga ia mau meluangkan waktu untuk melukisnya. Sementara pesanan melukis tokoh dan para perempuan cantik sedang deras mengalir. Mengapa Kartini penting, karena saat itu Orde Baru sedang mencari simbol perempuan ideal yang perlu ditonjolkan. Seorang tokoh perempuan Jawa, keturunan ningrat, terpelajar, usia muda, namun pejuang dalam emansipasi perempuan. Sehingga di samping ia kagum, Kartini pun sedang menjadi pembicaraan dalam pencarian tokoh perempuan ideal Indonesia versi Orde Baru yang bercorak Jawa itu.

Baca Juga :  Setelah Kenaikan Per 1 Januaru 2022, Inilah Harga Rokok Terkini

Karya lukis Kartini yang dibuat Basoeki Abdullah ini adalah karya yang serius, dilakukan dengan kesungguhan di mana semua bidang kanvas terisi warna. Bagaimana ia melukis rambut secara detail dengan asesories keemasan terselip pada sanggul. Demikian pula kerah kebaya dengan rajutan yang sangat berhias Jawa memperlihatkan kelas Kartini dalam berbusana. Basoeki juga sangat memperhatikan make up, ia tidak memberikan warna merah atau orange namun cenderung ungu selaras dengan warna kulit. Demikian pula pada pupur, Basoeki tidak mengeksplorasi warna di situ. Justru ia sangat memperhatikan detail pencahayaan dari arah kiri gambar. Hal lain adalah pandangan mata Kartini yang dilukis secara jitu, mata itu tidak menantang ke arah pemirsa tetapi sedikit menunduk namun terlihat tegas. Wajah itu terlihat sempurna karena Basoeki hanya memberikan mimik senyum sekedarnya yang menambah keanggunan Kartini. Secara keseluruhan, Basoeki tidak mengulas warna yang kinclong dalam lukisan ini, tetapi cenderung satu tone dengan suasana sephia. Untuk mengesankan irama lama, zaman kolonial yang para perempuannya tidak dilakukan secara setara.

Gambar 1 – Basoeki Abdullah, “Kartini”, 1976 (sumber: Museum Basoeki Abdullah).

Karya ini dibuat ketika Basoeki sudah berusia lanjut, di atas 60 tahun. Hal itu terlihat dari jenis tanda tangannya yang khas signature era tahun 70-an, dengan huruf Basoeki yang tegas dan bergaya. Bandingkan di awal karir, Basoeki hanya memberikan “B. Abdullah” saja pada tanda tangannya. Kemudian lukisan itu diberi titimangsa yaitu 76. Artinya Basoeki membuatnya di tahun 1976, tahun ketika Basoeki menikmati kesuksesan melukisnya secara komersial, saat ia baru kembali dari perantauannya di Thailand. Zaman di mana Basoeki saat itu sibuk dengan pesanan, namun ia menyempatkan diri untuk melukis Kartini sesuai dengan hobi masa kecilnya yaitu melukis tokoh lagenda yang disukainya.

Baca Juga :  Putra Mahkota Arab Saudi Luncurkan Rencana Induk 'Perjalanan Melalui Waktu' untuk AlUla

Nampakmya pemikiran perempuan yang bisa berperan di depan sudah dimulai sejak abad 17, ketika Susan B. Anthony dan Elizabeth Cady Staton mempelopori kebangkitan peran perempuan melalui surat kabar The Revolution di Inggris. Sebelum abad 19, perempuan selalu dianggap tidak rasional, yang kerap menggunakan perasaan sebagai tolak ukur. Pengaruh dogma gereja ketika itu, telah menyebabkan perempuan dianggap jelmaan iblis atau setan. Keadaan seperti itu telah membuat para filsuf Eropa memulai kritiknya pada kebijaksanaan-kebijaksanaan Gereja yang diskriminatif itu. Isu-isu kesetaraan mulai merebak dan menjadi perdebatan di seantero Eropa. Ketika itu memang terjadi pembodohan terhadap perempuan, perempuan hanyalah second line atau nomor dua dalam kehidupan. Perempuan dianggap hanya sekedar bisa meramu makanan, sementara yang laki-laki berburu, mencari bahan makanan, dan sebagainya. Terlihat bahwa perempuan tidak diberikan kepercayaan untuk ikut andil membantu laki-laki.

Di abad 19, mulai muncul gerakan yang mendesak perempuan untuk dididik agar mampu bersaing untuk merebut kesempatan dalam memasuki prinsip-prinsip maskulinitas. Penindasan pada perempuan yang terjadi selama ini berakar pada jenis kelamin laki-laki dan ideologi patriarkinya. Penguasaan fisik terhadap perempuan merupakan sistem hierakhi seksual di mana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan previlage ekonomi. Sementara Feminisme Marxist menolak gagasan biologi sebagai dasar pembedaan gender. Penindasan perempuan dianggap sebagai penindasan kelas dalam hubungan produksi, sehingga persoalan perempuan selalu diletakkan dalam kerangka kritik atas kapitalisme.

Ciri dasar masyarakat baru yang sudah maju adalah perubahan pada kondisi perempuan. Transformasi itu mengalami kemajuan sejak tahun 1960-an. Ada dua fenomena yang berkorelasi: masuknya perempuan secara besar-besaran kedalam pasar tenaga kerja ekonomi maju, dan gerakan sosial yang didasarkan pada pertahanan identitas yang terus dipelihara dengan berkembangnya pergerakan perempuan dan feminisme secara umum. Perubahan struktur dan mobilisasi sosial adalah hal penting untuk mengerti transformasi peran perempuan dan nilai-nilai dalam masyarakat. Transformasi struktur tenaga kerja dalam kondisi meningkatnya ekonomi informasi berhubungan langsung dengan perubahan posisi perempuan dalam masyarakat.

Baca Juga :  Penjelasan Ketua Komisi Dakwah MUI soal Sepuluh Karakter Islam Wasathiyah

Perempuan yang berprofesi sebagai pekerja dalam jangka panjang, mendapatkan dirinya dalam posisi yang lebih baik di rumah, karena pembagian kerja sosial antara pencari nafkah dengan pengurus rumah tangga kehilangan dasar legitimasi kulturalnya. Melakukan empat tugas pada waktu yang sama (mencari uang, membereskan rumah, mengasuh anak, melayani suami) menekan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat, perempuan yang bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga, nampaknya sudah tidak cocok lagi. Hal itu didukung oleh nilai-nilai feminis yang dibicarakan di media sebagai sebuah gerakan perempuan dan ideologi. Walaupun banyak perempuan tidak menyebut dirinya feminis, perubahan dramatis pada nilai-nilai perempuan dalam masyarakat sudah terjadi hanya dalam satu generasi. Persamaan hak menjadi tujuan perempuan secara keseluruhan.

Mayoritas perempuan di negara maju tahun 1960an tidak menerima lagi nilai-nilai keluarga patriarki. Diskriminasi gender adalah suatu fakta dalam semua masyarakat, sharing pekerjaan rumah tangga masih diabaikan sebagian besar orang. Struktur dan legitimasi patriarkis sudah berubah secara mendasar. Perempuan tidak menerima otoritas pria lagi. Kekuasaan, permainannya harus diatur atas dasar penafsiran – institusi masyarakat tidak dapat lagi hadir untuk mengembalikan patriarkisme. Penyampaian kebutuhan perempuan pada media dan mobilisasi politik perempuan secara cepat dibuat untuk menandingi struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat, suatu kecenderungan sejarah menuju kesetaraan gender. Namun patriarkisme tidak mudah menghilang dengan cepat. Hal yang sudah berakar itu merefleksikan dominasi berdasar gender akan tetap hidup dari generasi ke generasi. Karena itulah hari Kartini perlu dirayakan setiap tahun, untuk mengingatkan perjuangan belum selesai.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

REFLEKSI | Berwawasan Luas Kesempurnaan Diri

Sab Apr 23 , 2022
Silahkan bagikanOleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn. SEMUA kitab suci, mengajarkan banyak kebaikan dan kebenaran, yang menuntun pada jalan lurus untuk mencapai kesempurnaan diri. Banyak ajaran yang baik, bagus, benar, dan lurus, untuk menjadi pegangan kita, dan kebaikan-kebaikan yang kita adobsi, lalu kita tiru, setidaknya akan membuat kita memiliki pandangan dan […]