SKETSA | Komik

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SEBUAH berita yang menyenangkan bagi para kolektor komik di tahun 2022, bahwa komik Incredible Hulk edisi perdana laku terjual seharga US$ 490.000,- itu sama dengan Rp 6,85 M,- Luar biasa ! Berita dirilis oleh koran The Guardian tanggal 4 Januari lalu. Lelang itu diselenggarakan oleh Comic Connect, sebuah balai lelang di New York yang spesialisasinya menjual komik-komik langka. Selain komik itu merupakan edisi perdana serial Hulk yang diciptakan Stan Lee, kualitasnya juga luar biasa, bergradasi sangat tinggi, mengingat komik ketika itu dibuat dengan kertas murahan. Hulk muncul pertama kali pada Mei 1962, waktu itu kulit Hulk belum berwarna hijau seperti sekarang, tetapi abu-abu. Namun karena teknik reproduksi tidak sempurna ketika itu, mesin cetak membuat gradasi yang berbeda-beda di setiap halaman. Karenanya penerbit Marvel mengubah Hulk menjadi hijau agar konsistensi warnanya dapat dimanaje.

Baca juga 

SKETSA | The Batman

Gambar 1 – Incredible Hulk edisi perdana, tahun 1962.

Rekor penjualan komik termahal sebenarnya bukan di Hulk, tetapi pada komik Superman edisi perdana. Pada lelang di bulan April 2021, Superman laku terjual di e-bay sebesar US$ 3,25 juta,- atau Rp 46,6 M,- Bagaimana dengan Indonesia? Komik termahal Indonesia adalah “Morina”, karya Taguan Hardjo yang diterbitkan Firma Harris di Medan tahun 1961. Kalau kondisinya mulus, harga Morina bisa mencapai Rp 10 juta,- Taguan Hardjo tumbuh bersama-sama seniman komik Medan lainnya, seperti Djas, Zam Nuldyn, dan Delsy Syamsumar. Mereka menciptakan komik dengan kualitas gambar yang sangat baik mutunya disertai cerita yang menarik dan original. Komik Medan muncul di rimba bacaan Indonesia pada tahun 1958, ketika mereka terinspirasi kesukseksan komik wayang ciptaan Raden Ahmad Kosasih dan Ardisoma di Jawa.

Baca Juga :  Rusia Bersiap Syuting Film di Luar Angkasa
Gambar 2 – Komik Superman edisi perdana, tahun 1938.

Taguan Hardjo lahir di Suriname, 6 November 1935. Ia berminat pada komik sejak kecil. Atas dukungan tantenya, Carmen de Texier yang keturunan Prancis, Taguan mendapatkan suplai komik-komik Eropa yang berbahasa Inggris. Taguan kembali ke Indonesia tahun 1953, mula-mula ayahnya membawanya tinggal di Sumatra Selatan yang sepi, tapi ia tidak betah. Kemudian ia merantau ke Medan dan mendapat pekerjaan sebagai tukang gambar denah di perusahaan kereta api di Deli. Pada tahun 1955 ia bertemu Mohamad Said, pemimpin koran Waspada. Dari koran itu munculah serial “Musang Berjanggut” yang membuatnya terkenal. Sejak Musang Berjanggut itu, Taguan tambah matang bercerita, dan semakin menguasai tarikan garis dalam gambar-gambarnya, hal itu ditunjukkan ketika ia menggarap Morina yang menjadi masterpiecenya.


Gambar 3 – Morina karya Taguan Hardjo, terbit tahun 1961.

Popularitas komik Medan perlahan surut setelah munculnya komik-komik silat di Jakarta dan Bandung. Tiba-tiba di Jawa tahun 1968 muncul komik lagendaris seperti serial “Jaka Sembung” yang dibuat komikus Djair, serial “Si Buta dari Gua Hantu” yang dibuat Ganes TH, serial “Kelelawar” yang dibuat Jan Mintaraga dan serial “Golok Setan” yang diciptakan Man. Komik kemudian bergeser dari karya seni menjadi industri dan gaya hidup, hal itu juga merupakan ciri budaya Orde Baru yang pada awalnya membuka kebebasan seluas-luasnya pada segala bentuk seni bacaan. Selain para pendekarnya menjadi bahan cerita anak-anak bergaul di sekolah dasar, para komikusnya juga menjadi idola para remaja, terutama remaja putri di sekolah menengah. Kita dapat melihat pada bagian pinggir dari panel komik kadang-kadang tertera pesan dari komikus kepada pembacanya, tak lupa disertai ucapan “salam mesra” dan gambar hati yang tertusuk panah.

Baca Juga :  Tangis Wali Kota Perempuan Afghanistan Pergi Hindari Taliban

Namun di tahun 1980an muncul trend baru, yaitu komik impor dari Jepang. Komik Jepang menjadi populer diiringi dengan masuknya film-film kartun Jepang di TVRI. Hal itu dapat terjadi seiring dengan mulai banyaknya orang yang mahir menerjemahkan bahasa Jepang, dan dorongan Pemerintah Jepang itu sendiri yang menjadi investor no. 1 di Indonesia. Demikian pula munculnya generasi baru – lahir pada tahun 1970an – yang ketika masuk usia remaja langsung disambut dengan banyaknya komik-komik Jepang yang tersedia di toko buku seperti serial “Candy-candy” dan “Detektif Conan”. Dengan itu komik Indonesia menjadi tidak laku dan perlahan-lahan lenyap ditelan bumi. Sampai sekarang.

Kalau kita merunut kembali masa itu, rupanya ada yang terlupa dari industri komik Indonesia ketika memasuki tahun 80an, yaitu regenerasi. Baik dari segi gambar maupun cerita. Komikus kita terlalu asik dengan dunia persilatan, sampai-sampai para pembacanya capek. Mungkin juga usia tua yang menyebabkan mereka tidak gerak cepat melakukan inovasi merespon zaman yang berubah. Dan para penerbitnya tidak menciptakan generasi komikus baru yang lebih muda, agar sesuai dengan semangat zaman. Zaman ketika remaja 80an terpesona dengan wajah-wajah idola komik Jepang bermata bulat besar dengan kaki panjang yang tidak proporsional. Suatu era globalisasi di mana kebudayaan luar masuk seperti air bah, tidak bisa di tahan-tahan lagi. Kalau tidak kuat membuat inovasi maka budaya kita akan tergilas. Dan itulah yang terjadi dengan komik kita.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kemitraan Publik-Swasta dengan Penyedia Layanan Cloud Merupakan Kunci untuk Mendorong Kota-Kota yang Lebih Cerdas di Asia

Rab Mar 9 , 2022
Silahkan bagikan Tencent Cloud mendukung kalangan bisnis dan pemerintah dengan pembinaan SDM dan memperkuat ekosistem digital di wilayah lokal. VISI.NEWS | SINGAPURA – Dalam ajang Technology for Change Week Asia tahun ini, Tencent Cloud membahas peran sektor swasta yang semakin penting dalam menggerakkan transformasi digital, khususnya saat di mana wilayah […]