SKETSA | Lynching

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

SEORANG kakek tua berusia 82 tahun yang kurus dan ubanan mengendarai mobil Toyota Rush. Ia cukup kuat menyopiri sendiri mobil walau sehari-hari menggunakan tongkat untuk berjalan. Di Minggu siang yang naas, tepatnya pukul 13.30, seseorang menabrakkan motornya ke mobil kakek tua itu. Merasa tidak bersalah ia melanjutkan perjalanan ke arah Pulo Gadung. Namun si pengendara motor yang sejak awal menginginkan Toyota Rush itu berhenti, meneriakkan “Maling ….. !” yang mengundang pengendara motor lainnya untuk mengejar. Merasa diburu, kakek tua mempercepat kendaraannya, namun di hari itu, 23 Januari 2022, para pemotor berhasil memecahkan kaca mobil kakek tua. Dari kepalanya mengucur darah, mobil terhenti. Kemudian belasan pemotor dan para pemuda yang berada di pinggir jalan yang jumlahnya sekitar 50 orang, memukuli kakek tua itu sampai mati. Aksi dilerai setelah seorang Polisi menembakkan air soft gun ke udara. Dan para pengeroyok itu kemudian kabur. Tidak ada  yang mengenal siapa para pengeroyok itu dan tidak ada pula yang mengaku.

Tentu saja ada seorang penjahat di situ, yaitu pembegal yang menabrakkan dirinya ke mobil untuk tujuan memeras. Namun sisanya adalah orang yang merasa ‘terpanggil’ untuk menghakimi apabila mendengar teriakan maling. Hal yang sama terjadi ketika orang beramai-ramai memukuli seseorang yang katanya maling sendal di Mesjid. Tanpa ada kejelasan apakah orang itu benar-benar maling, namun para jemaah dengan serta merta mengepung dan mengeroyok, untuk kemudian ikut memukuli sampai berdarah. Orang yang lainnya ikut mengerubung, untuk menonton. Tidak ada teriakan spontan untuk menyetop atau menghentikan pemukulan itu, justru kalau perlu ikut berpartisipasi menyiksa. Main hakim sendiri hampir berlaku umum di mana saja: copet di pasar, jambret di jalan, maling di kampung. Kemungkinan besar akan dipukuli sampai mati apabila tertangkap massa.

Baca Juga :  Proses Pembelajaran Tatap Muka Harus Dipastikan Baik dan Adil

Kejadian semacam itu dikenal sebagai Lynching, yaitu menghukum orang beramai-ramai tanpa pengadilan. Menghukum dalam hal ini adalah memukul, mengeroyok, mengintimidasi, dan membunuh untuk kemudian dijadikan tontonan publik. Kata lynching berasal dari zaman Revolusi Amerika, ketika itu dikenal istilah Lynch Law, yaitu melakukan hukuman tanpa pengadilan. Orang Amerika yang mempelopori hal ini adalah Charles Lynch (1736-1796) yang hidup di Virginia sebagai petani sekaligus patriot yang mengepalai pengadilan. Ia memenjarakan orang-orang kulit hitam selama perang revolusioner Amerika, terkadang mengurung mereka hingga satu tahun. Meskipun tidak memiliki dasar hukum untuk menahan orang-orang ini, namun ia merasa mempunyai hak menyiksa dan memenjarakan orang dengan alasan kebutuhan masa perang. Selanjutnya, Lynch membujuk teman-temannya di Kongres Konfederasi untuk mengeluarkan undang-undang yang membebaskan ia dan rekan-rekannya dari perbuatan menyimpang itu. Lynch khawatir bahwa ia mungkin menghadapi balasan hukum dari orang-orang yang ia pernah penjarakan, ketika perang usai. Konfederasi akhirnya kalah dalam Perang Saudara di Amerika itu, dan tindakan Kongres ini menimbulkan kontroversi, karena telah menyetujui hukum Lynch, yang berarti membolehkan orang mempunyai otoritas ekstrayudisial.

Gambar 1 – Eksekusi tentara kulit hitam di Virginia, 20 Juni 1864 (sumber: Timothy H. O’Sullivan).

Dalam zaman modern, lynching mempunyai anatomi: yaitu adanya target, ada sekelompok orang yang berencana melakukan penyerangan, dan kemudian ada seorang pemicu yang memulai atau mencari gara-gara. Setelah proses itu dimulai maka kemudian massa yang tidak begitu kritis dan paham apa yang terjadi, disertai dengan fanatisme, akan ikut-ikut menyerang. Dalam kasus Ade Armando pada 11 April itu, lynching dimulai pukul 15:38. Beberapa orang massa terlihat mengawasi dan saling berbisik di antara mereka. Pemicunya adalah seorang ibu guru TK, yang tiba-tiba memaki-maki Ade. Kemudian para perencana itu mulai meringsek dan memukuli Ade sampai mengalami perdarahan di kepala bagian luar dan dalam serta luka serius di sekujur tubuh. Tidak cukup sampai di sana saja, Ade kemudian ditelanjangi. Para pelakunya saat ini sudah dicokok satu-persatu oleh Polisi.

Baca Juga :  Tausiah: Takut Miskin, Salah Satu Strategi Setan untuk Menjebak Manusia

Lynching sekarang ini adalah suatu peristiwa kriminal yang dilatari oleh paham politik. Kita mengetahui bahwa sejak 10 tahun belakangan ini Indonesia demikian terbelah dalam hal berpolitik. Bahasa politik jalanan memperkenalkan istilah Cebong dan Kampret. Dan secara statistik itu porsinya hampir sama besar yaitu sekitar 52% berbanding 48%. Angka ini didapat dari angka kemenangan Pemilu terakhir. Lucunya, para peserta Pemilu sudah saling berangkulan, dan yang kalah kemudian mendukung Pemerintahan yang terbentuk – Prabowo dan Sandiaga Uno telah diangkat menjadi Menteri-menterinya Jokowi, namun massanya di bawah tetap saja bermusuhan. Memang angka-angka prosentase itu tidak mutlak, ada yang ekstreem dan moderat, ada yang dieharder dan toleran. Namun untuk Pemilu Indonesia seterusnya, stigma Cebong-Kampret nantinya akan menjadi semacam ‘ideologi’ para pemilih, seperti pendukung Demokrat dan Republik di Amerika, angkanya juga mirip-mirip: 51 – 49.

Sedihnya, walau Pemilu sudah lama usai, tetapi semangat perang itu terus ada di masyarakat, baik secara fisik maupun dalam media sosial. Saya masih melihat banyak grup-grup WA yang mencerminkan semangat itu. Orang-orang yang tidak sepaham dalam grup akan ditendang ke luar atau mundur karena merasa tidak cocok. Menurut Emmanuel Levinas, mengumpulkan orang yang sama atau sepaham akan membuat manusia merasa nyaman dalam rumahnya (home). Sementara orang-orang yang di luar home, adalah orang yang berbeda, liyan, yang asing. Yang asing itu membahayakan karenanya harus dihancurkan.

Orang yang melakukan lynching biasanya adalah orang yang tidak memperlakukan yang berbeda dalam pendirian sebagai sesama manusia, dan menganggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Ade Armando, yang datang untuk mendukung dan mendokumentasikan para pendemo, justru diidentifikasi sebagai musuh, karena selama ini ia telah berpihak ke kubu ‘sana’ dengan konten-konten videonya di CokroTV. Karenanya ia harus disingkirkan untuk selanjutnya dimatikan, dimulai dengan memukuli dan menelanjanginya. Perbedaan paham bukannya diselesaikan dengan adu argumentasi, tetapi disolusikan melalui kekerasan. Mari kita kutuk perlakuan lynching terhadap Ade Armando dan pelakunya harus diadili berdasarkan hukum yang berlaku di Republik ini.***

Baca Juga :  Catat, Ini Daftar Orang yang Tak Bisa Divaksin

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kompetisi Penampilan Vokal di Arab Saudi Terpenting di Dunia, Ini 5 Alasannya

Sen Apr 18 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | RIYADH – Sebuah kompetisi unik bertaraf global tengah diadakan di Arab Saudi hari ini, yang mencari suara-suara indah tanpa iringan alat musik dalam membaca Al-Qur’an (kitab suci umat Muslim) dan mengumandangkan azan, setelah otoritas hiburan di Arab Saudi meluncurkan kompetisi ini dengan nama Scent of Speech Lima […]