SKETSA | Mandalika

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

PAGELARAN Mandalika sudah usai, dan berakhir dengan Miguel Oliveira menjadi juara. Ada yang bilang Mandalika dibuat untuk menyaingi proyek Formula E Anies Baswedan, yang sudah 3 tahun tidak selesai-selesai. Padahal tidak demikian. Mandalika itu dulunya proyek mangkrak dari zaman Suharto. Tepatnya dimulai tahun 1989 oleh Menteri Pariwisata Joop Ave yang sudah almarhum. Joop Ave ingin membuat Mandalika sebagai Bali yang baru. Proyek itu berlokasi di Lombok Tengah dengan luas area 1.175 ha. Namun proyek itu mempunyai masalah pendanaan dan dinyatakan bangkrut tahun 1998. Di zaman SBY proyek itu dilanjutkan, namun terkendala dengan pembebasan lahan. Mandalika baru digarap dengan serius pada tahun 2015, di zaman pemerintahan Jokowi. Di tahun 2018 sirkuit Mandalika mulai dibangun dan memang sejak awal didesign agar dapat dipergunakan untuk berlangsungnya MotoGP. Ini adalah pagelaran MotoGP yang kedua kalinya di Indonesia. Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah MotoGP pada tahun 1997, di sirkuit Sentul, Bogor. Walau Valentino Rossi sudah pensiun tahun lalu, sehingga tak dapat berlaga di Mandalika, namun tak urung ajang MotoGP riuh sekali di Indonesia. Penyebabnya, di antaranya adalah sirkuit ini menjadi konsumsi politik yang ramai. Ada sebagian kecil orang Indonesia yang tidak ingin MotoGP berhasil, sehingga selalu nyinyir.

Baca juga

SKETSA | Phubbing
SKETSA | Robot Trading
SKETSA | Arab
SKETSA | Binary Option
SKETSA | Neanderthal
SKETSA | W.S.C
SKETSA | RK
SKETSA | Krismon
SKETSA | SBM – ITB
SKETSA | Schopenhauer
SKETSA | Baceprot
SKETSA | Adorno
SKETSA | Tank vs Hoax
SKETSA | Komik
SKETSA | The Batman

Gambar 1 – Sirkuit Mandalika ketika tengah dibangun.

Pemberitaan tentang progress MotoGP selalu sexy untuk menjadi santapan gosip. Dari mulai eksposure Jokowi mencobakan sirkuit tersebut dengan aksinya mengendarai motor, sampai pengetesan kelayakan sirkuit yang dilakukan oleh Federasi Olahraga Motor Internasional (FIM), dan komentar-komentar media dari Dorna Sports, selaku promotor pertandingan. Memang sirkuit tidak menggunakan komposisi batu yang direkomendasikan konsultan, sehingga batu yang dipakai tidak menempel dengan benar di aspal. Akibatnya batu-batu kerikil dan pasir banyak terlepas dari aspal, trek menjadi kotor, serta kerikil terlempar ke arah pebalap. Hal lain adalah lapisan aspal yang cepat mengelupas atau menipis dalam proses pengetesan. Grip di lintasan dinilai kurang tetapi bisa diatasi dengan memakai lintasan secara reguler. Namun hal paling urgen yang ditindaklanjuti adalah pengaspalan ulang. Ketika pertandingan berlangsung, aspal di tikungan 16 dan 17 terkelupas, kerikil lepas sehingga ada lubang. Belum lagi trek rentan terkelupas saat cuaca panas. Dikabarkan jumlah matahari di Lombok Tengah agak berbeda dengan provinsi lain, gosipnya di sana matahari ada empat buah sehingga wajar cuaca panas sekali. Karenanya sebelum pertandingan, hujan harus diturunkan, agar suhu trek mendingin dan kondisi aspal membaik.

Baca Juga :  390 Orang Penyelenggara Pilkada di Kec. Cileunyi Jalani Rapid dan Swab Test, 1 Reaktif
Gambar 2 – Lintasan sirkuit Mandalika.

Untuk urusan yang satu ini, panitia menggunakan pawang hujan. Hal unik dari pawang hujan di Mandalika adalah pawangnya perempuan, hal unik kedua adalah si pawang dapat menurunkan hujan – bukan sekedar menyetop seperti yang biasanya dilakukan pawang pada pertandingan sepakbola atau konser band. Sedangkan unik yang ketiga adalah si pawang perempuan ini menari-nari sambil memukul-mukul mangkuk logam mengelilingi lintasan, lebih mirip atraksi panggung ketimbang pawang biasa yang menyeramkan. Nama panggilan pawang itu Mbak Rara, ia mengklaim telah menggunakan gelombang Teta yang muncul dari getaran bunyi panci (ia mengistilahkan Sinimbol) yang merambat ke alam lain, lintas dimensi. Menurutnya, bunyi Sinimbol itu ekivalen dengan bunyi adzan atau lonceng gereja, untuk menyampaikan pesan ke langit. Selain Sinimbol, Rara membakar kayu dan asapnya terbang untuk memecah awan. Dikombinasikan dengan teriak, maka langit Mandalika yang tadinya telah dibuat hujan oleh Rara, sekarang dibuat panas kembali sehingga pertandingan MotoGP dapat dimulai. Penonton bertepuk tangan atas aksi Rara itu. Fantastik!

Gambar 3 – Mbak Rara, pawang hujan Mandalika.

Sudah pasti berita ini menimbulkan viral di medsos. Yang fanatik langsung mengecap musyrik, haram, dan sebagainya. Sementara yang mendukung mengatakan perbuatan Rara itu eksotis, mistis, magis dan merupakan hal yang biasa dalam masyarakat tradisional Indonesia. Sebetulnya bukan masyarakat tradisional saja sih, masyarakat modern juga masih menganut kepercayaan terhadap pawang hujan. Ketika menjadi Ketua Panitia Turnamen Golf, akuntan saya yang orang bule itu mempertanyakan uang Rp 2,5 juta,- untuk biaya pawang hujan. Saya bilang ini merupakan risk management, anggap saja asuransi untuk keberhasilan turnamen. Kalau pertandingan golf tidak jadi berlangsung gara-gara hujan, kita tinggal salahkan pawang hujan karena tidak bekerja dengan baik. Tetapi, jika kamu menolak keluar biaya pawang, maka kalau acara gagal karena hujan, kamu saya laporkan sebagai penyebabnya, karena tidak mau keluar uang Rp 2,5 juta,- Akuntan tersebut akhirnya manggut-manggut.

Baca Juga :  Mobil Terjun ke Jurang Sedalam 50 Meter di Tasikmalaya, Hasanudin dan Istri Selamat

Dukungan terhadap Rara belakangan malah bertambah banyak. Ada seorang intelektual mengatakan bahwa apa yang dilakukan Rara itu suatu kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan. Ilmu Pawang itu sebenarnya Sains juga, hanya belum dieksplorasi lebih jauh saja penalarannya. Memang dalam filsafat ilmu, demarkasi antara sains dan non-sains sekarang sudah digugat. Alasannya, demarkasi itu selalu bisa batal kemudian, sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Dulu misalnya, Karl Popper mengajukan prinsip falsifikasi sebagai demarkasi. Namun dengan kriteria ini, horoskop juga dapat dianggap sains karena bisa difalsifikasi. Lalu muncul Thomas Kuhn dan para gengnya, termasuk Feyerabend, dengan slogan anything goes. Kalau menurut anda pawang itu berguna dan anda percaya, ya itu juga “Sains”.

Selanjutnya, pemikiran yang menarik datang dari Larry Laudan. Berdasarkan perdebatan-perdebatan tersebut, ia menghapuskan batas antara sains dan bukan-sains. Tidak ada guna, katanya. Yang perlu adalah membedakan antara reliable dan unreliable knowledge. Pengetahuan yang bisa diandalkan (karena berguna) atau tidak dapat diandalkan. Dengan kategori Laudan, maka teknik-tenik pengobatan tradisional yang terbukti efektif, misalnya akupuntur, kerokan, gurah dan lain-lain itu, akan masuk dalam kategori sains., demikian pula Feng Sui. Pawang hujan, sejauh itu reliable, boleh dong menjadi Sains. Tetapi yang jauh lebih penting bagi saya, terlepas dari soal klenik atau sains, diam-diam Mbak Rara ini sudah menjadi ikon pemasaran Mandalika, yang membuat gelar MotoGP di Indonesia tambah populer.***

  • Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id

 

Baca Juga :  Satgas: Daerah Level 2 dan 3 Bisa Sekolah Tatap Muka

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kemenperin: TIIWG G20 Jadi Momen Kerja Sama Penerapan Industri 4.0

Kam Mar 24 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Presidensi G20 Indonesia 2022 menjadi momen penting dan membanggakan bagi pelaku industri karena isu industri akan dibahas lebih mendalam, khususnya pada Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG). Melalui forum tersebut, diharapkan dapat tercapai langkah-langkah konkret mengenai implementasi kerja sama antara para anggota G20 maupun […]