SKETSA | Melukis

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

BANYAK teman saya yang bertanya kok tiba-tiba bisa melukis. Saya menjawab dengan bermacam-macam cara sekenanya: iseng, gara-gara pendemi ada di rumah terus akhirnya melukis, dari dulu sudah melukis tetapi medianya hanya kertas, belum kanvas. Tetapi benar bahwa dari dulu saya suka menggambar. Hanya tidak diniatkan saja. Saya pernah membuat serial komik bagaimana orang bekerja menarik kabel telkom dalam gorong-gorong di persimpangan Monas. Komik itu saya gambar pada buku Memo yang diberikan kantor setiap tahun. Biasanya buku memo hanya diisi sebagian kecil saja, sisanya kosong. Sementara buku memo saya penuh dengan gambar. Saya juga mendapat jatah buku blok plano kotak-kotak, maksudnya untuk membuat catatan-catatan yang terkait detail teknis suatu peralatan, perkabelan atau denah/layout ruangan mesin. Tetapi blok plano kotak-kotak itu justru saya gambari lukisan abstrak warna-warni dengan stabilo dan spidol pembagian kantor. Saya juga pandai membuat lukisan kubis gaya Picasso yang wajahnya platat-pletot itu. Hal itu dilakukan kalau sedang terjebak dalam rapat yang bertele-tele dan tidak ada juntrungannya.

Pernah saya mengikuti kursus gambar yang diadakan Salihara, guru yang pertama adalah Sasya Tranggono. Selanjutnya, Emte (Mohammad Taufiq) mendapat giliran juga untuk mengajar. Keduanya memberi pelajaran tentang melukis dengan cat air. Dari Sasya saya belajar sabar untuk menunggu cat layer pertama kering baru ditimpa cat air warna lain pada layer berikutnya. Dari Emte saya diajarkan melukis wajah dengan mengambil model perempuan-perempuan dari browsing internet. Saya pernah lama belajar membuat sketsa anatomi pada Teguh Ostenrik. Yang saya skets adalah tubuh-tubuh telanjang – laki-laki atau perempuan. Dari sana saya memahami soal volume, bayangan, otot, urat, kulit, proporsi dan pengaruh gravitasi pada anggota tubuh. Dengan itu saya kemudian dapat mengevaluasi kesalahan lukisan nude dari karya Basoeki Abdullah karena seringkali payudara wanita-wanitanya selalu tegak berdiri, tidak mengikuti gaya gravitasi. Ditambah dengan adanya kesalahan proporsi pada anatominya, namun tidak semuanya. Hanya pada sebagian lukisan Basoeki saja.

Baca Juga :  Presiden Joko Widodo Siang ini Memulai Kunjungan Dua Hari di Bandung, Ini Agendanya

Membuat skets dari tubuh yang sedang berpose itu susah, karena seorang model telanjang hanya sanggup terdiam dalam satu posisi yang tetap selama 15 menit saja. Berikutnya harus ganti posisi karena capek. Untuk mengganti ongkos capek, model dibayar urunan dengan beberapa pelajar yang lain, biasanya ada 4 sampai 5 orang yang ikut menggambar. Umumnya posisi berbaring yang paling favorit karena model bisa bertahan lebih lama untuk tidak bergerak. Malah kadang-kadang sampai tertidur lelap. Itulah sebabnya, mengapa pelukis nude Inggris terkenal, Lucian Freud, lukisannya banyak menggambarkan wanita dalam posisi tertidur. Bagi pelajar yang lain, hasil skets itu disempurnakan lagi di rumah dan selanjutnya dapat diteruskan dengan memindahkannya ke kanvas. Tetapi saya tidak begitu, skets-skets itu saya gulung dan simpan, tidak ditindaklanjuti.

Syahdan saya pernah memberi nasihat kepada Goenawan Mohamad, demi alasan komersial dan profesionalitas sebagai pelukis, agar ia tidak membuat skets di kertas lagi tetapi mulai melukis di kanvas ukuran besar. Ia melakukan itu, hasilnya luar biasa. Sehingga menjelang ulang tahun saya yang ke 57, saya minta istri mengajarkan saya cara melukis di kanvas. Kebetulan istri saya itu lulusan S1, S2, S3 seni rupa, dan memiliki sebuah studio lukis dekat rumah kami tinggal. Di studionya itu ia mempunyai banyak stok persediaan kanvas, cat dan kuas, sehingga saya tinggal pakai saja. Pelajaran pertama yang diberikan istri saya adalah, kalau kita melukis dengan cat minyak tidak akan pernah salah. Maksudnya, kalau salah tinggal ditimpa saja dengan cat baru di atasnya sampai lukisan itu menjadi betul atau sesuai dengan yang kita inginkan. Saya mencobanya, dan hasilnya cukup baik. Tetapi saya ingin lukisan saya lebih bagus, dan mirip dengan beberapa gambar yang saya sukai. Istri mengajarkan agar mencetak gambar yang saya ingin tiru itu pada kertas dan membuat skala atau grid ukuran tertentu di atas kertas tersebut dengan memakai pensil. Dan grid-grid itu dipindahkan ke kanvas dengan jumlah yang sama besar melalui skala yang sudah kita tentukan sendiri sesuai ukuran kanvas.

Baca Juga :  Bambang Eka,"Kalau Hubungan Industrial Pancasila Dijalankan, Benar-benar akan Adil".

Cara itu cukup efektif dan hasilnya memuaskan. Selanjutnya saya tidak mau hanya sekedar meniru gambar, tetapi “menciptakan” suatu kejadian rekaan yang saya inginkan. Untuk tujuan itu, istri saya mengajarkan cara membuat design lukisan melalui photoshop di komputer. Figur-figur bisa dibrowsing dari internet dan yang cocok dicomot untuk disusun menjadi satu frame kejadiaan rekaan yang saya inginkan dan pikirkan. Sebenarnya cara itu sama saja dengan apa yang dilakukan pelukis Sudjojono. Ia memanggil anak-anaknya, istri dan juga tetangganya untuk berpose dan diskets ketika ia ingin melukis adegan tertentu, misalnya adegan pertempuran/perjuangan, yang melibatkan banyak figur dalam satu frame gambar untuk dipindahkan ke kanvas. Bedanya dengan zaman sekarang adalah pose-pose itu tidak lagi memakai bantuan anak tetangga, cukup mengambilnya dari internet. Hasil dari utak-atik photoshop itu kemudian diprint dan dipindahkan ke kanvas melalui cara grid/skala.

Gambar 1 – Sketsa Sudjojono dengan memakai grid.

Namun setelah saya melakukan cara itu pada beberapa lukisan, saya kemudian tidak puas karena beberapa sebab. Pertama – membuat grid di atas kanvas itu melelahkan dan memakan waktu. Kedua – grid itu susah dihapus, walau ditimpa oleh cat berkali-kali kadang-kadang masih keluar juga bekas garis-garisnya. Kemudian istri saya mengajarkan dengan “menembak” hasil reka photoshop itu ke kanvas melalui proyektor. Saya tinggal mengikutinya saja outline dari figur-figur itu di kanvas langsung dengan cat minyak. Setelah saya melakukannya beberapa kali, saya cukup senang karena tidak perlu lagi membuat grid yang membosankan itu. Tetapi kemudian muncul lagi rasa tak puas karena beberapa penyebab. Pertama – tidak semua hasil tembakan proyektor itu cocok dengan ukuran kanvas. Kedua – seringkali gambar yang muncul di “layar” kanvas banyak yang kabur sehingga susah untuk diikuti.

Baca Juga :  Mural 'Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit' juga Dihapus

Akhirnya saya meninggalkan proyektor dan langsung menyeket ke kanvas dengan cat terhadap pemandangan di depan saya atau dari hasil foto. Dan hasilnya tidak jelek. Dalam menyeket saya menggunakan cat burnt umber atau burnt sienna, dan kalau sketsnya salah akan mudah dihapus dengan tissue basah, karena kanvas saya beri dasar cat akrilik sebagai “alas” dari lukisan. Cara itulah yang saya lakukan sampai sekarang. Hasilnya cukup bagus, dapat dilihat pada karya lukis saya yang berjudul “Ibu Dirawat Lagi” (gambar 2).

Gambar 2 – Syakieb Sungkar, “Ibu Dirawat Lagi”, 2022.

Untuk menutup kisah yang aneh ini, saya ingin bercerita tentang bagaimana membuat wajah yang mirip. Ternyata, menurut istri saya, itu tidak ada ilmunya, karena melukis wajah seseorang dengan mirip, adalah sebuah karunia, suatu bakat. Ciri-ciri orang yang berbakat melukis adalah ia dapat membuat wajah dari tokoh-tokohnya dalam lukisannya secara presisi. Walau ia membuatnya dengan gaya spontan, dibuat dengan cepat, tetap saja karakter dari wajah itu tertangkap. Dalam kasus yang ‘ngaco’, saya melukis di atas papan tripleks licin yang ukurannya kecil (20 X 30 cm2), tetap saja garis dan guratan pada muka, dapat mewakili (gambar 3).

Gambar 3 – Syakieb Sungkar, “Goenawan Mohamad”, 2022.

Kalau begitu, setelah dapat melukis, apa yang kita bisa ambil? Jawabnya – saya merasa berbahagia dengan hobi yang baru ini. Karena, sebagai kolektor dan pengamat seni rupa, saya sekarang dapat menilai suatu karya seni secara lebih proporsional. Dahulu saya lebih menitikberatkan pada kebaruan, ide, inspirasi dari suatu karya. Namun sekarang saya dapat melihat lebih dalam lagi teknik apa yang dipergunakan oleh seorang seniman dalam membuat suatu karya. Dengan itu kita juga bisa memberikan suatu judgement baik-buruknya suatu karya.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dakwah Melalui Digital Pahalanya Tidak Terbatas

Jum Sep 2 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menyampaikan urgensi digitalisasi konten-konten dakwah Islam wasathiyah. Hal ini disampaikannya dalam acara Halaqah Youtuber dan Influencer, menuju Kongres Mujahid Digital dan Konsolidasi Nasional Komisi Infokom MUI, yang mengusung tema “Transformasi Digital Islam Wasathiyah untuk Peradaban Global”, […]