SKETSA | Netflix

Silahkan bagikan

Oleh Syakieb Sungkar

DEMIKIAN cepat cara orang menonton film di rumah. Tahun 70an, kita harus punya proyektor kalau ingin menonton film, yang membutuhkan ruangan besar, ruang rapat, yang pada prinsipnya berfungsi sebagai bioskop. Tahun 80an proyektor besar itu sudah diganti dengan Video Player dengan format VHS atau Betamax, sehingga orang lebih betah di rumah dengan menonton video. Tahun 90an, ditemukan laser disk, di mana prinsip recording dengan pita kemudian ditinggalkan karena sering kusut. Sementara pemutaran melalui media laser optik akan menghasilkan gambar yang lebih jelas. Problem pada laser disk adalah ukurannya besar, sehingga tahun 2000an market berganti dengan VCD, kemudian DVD, terakhir adalah Blue Ray yang ukurannya kecil.

Tetapi kecenderungan orang kemudian berubah lagi, yaitu dengan menonton tayangan video online yang terus ada 24 jam, seperti HBO, Cinemax, FOX, Paramount dan Celestial Movie. Tayangan seperti ini dianggap lebih praktis, tidak perlu ke toko untuk mencari DVD sewaan atau membeli yang bajakan. Selain lebih murah, masyarakat semakin mager (males gerak), cukup memainkan remote control bisa pindah-pidah channel. Tetapi modus video online sekarang sudah berganti lagi dengan video on demand, karena video online itu membosankan, filmnya itu-itu saja, sering berulang. Berbeda dengan video online yang tayangan film-filmnya disuapin atau sudah ditentukan oleh provider, maka video on demand membuat penonton lebih bebas memilih film dalam library yang tersedia pada penyelenggara jasa. Modus video on demand pun ada banyak pilihan provider, seperti Netflix, Prime Video, Apple TV, Disney dan HBO GO.

Problem dari video on demand adalah, mereka tidak mempunyai perwakilan bisnis di Indonesia. Tidak seperti provider video online yang ada badan usahanya di Indonesia, seperti First Media, Telkom Vision, dan MNC TV. Karena mereka pada awalnya adalah provider internet yang sudah punya jaringan di Indonesia. Sementara dengan video on demand tidak perlu punya jaringan internet secara fisik, karena mereka hanya menumpang pada jaringan internet yang sudah ada. Di mana ada internet, layangan mereka dapat ditayangkan. Istilahnya Over The Top (OTT). Dan pelanggannya akan membayar langsung ke provider di luar negeri melalui kartu kredit. Sehingga Indonesia sebagai negara, tidak mendapat apa-apa dari layanan video on demand. Dengan prinsip OTT, mereka hidup seperti benalu: tidak membangun jaringan dan tidak membayar pajak. Karenanya, Sri Mulyani mulai sadar sejak 2 tahun terakhir, untuk para provider itu mendeclare berapa penghasilan dari subscribernya di Indonesia. Karena Menteri yang pintar itu ingin mengenakan pajak pada provider tersebut. Kalau membandel, maka layanan akan ditutup, IP nya akan diblok, tidak bisa lagi tayang di Indonesia. Nah lo !

Baca Juga :  Pasangan NU Pasti Sabilulungan, Sosok Pemimpin Berpengalaman dan Berkemampuan untuk Masa Depan
Gambar – Logo Netflix (sumber: Dish Network).

Dari semua provider video on demand, nampaknya Netflix yang menjadi pemenang, karena beberapa alasan. Pertama, Netflix sangat memperhatikan lokalitas dalam konten. Artinya ia bersedia membeli tayangan-tayangan dari production house lokal serta mau membeli film nasional yang sedang hits. Kedua, Netflix berani memproduksi film sendiri, tidak bergantung pada Hollywood. Dan produksi Netflix itu sangat baik mutunya, seperti serial “The Crown”, kisah lika-liku kehidupan Ratu Inggris sejak kecil sampai zaman Lady Diana menjadi menantunya. Dan masih banyak film-film serial lain seperti Money Heist, Lupin, Dracula, dan Mind Hunter. Kemunculan Netflix, membuat penonton Indonesia meninggalkan First Media dan provider video on line sejenis yang tidak memberi penonton pilihan atas film yang dimauinya.

Netflix didirikan oleh Reed Hastings dan Marc Randolph di Scotts Valley, California pada 29 Agustus 1997. Netflix pada awalnya menjual dan menyewa DVD melalui pos atau kiriman paket. Setelah satu tahun beroperasi, Netflix tidak lagi menjual video tetapi fokus pada bisnis penyewaan DVD. Pada tahun 2007, Netflix memperkenalkan media streaming dan video on demand. Perusahaan diperluas ke Kanada pada 2010, diikuti oleh Amerika Latin dan Karibia. Netflix memasuki industri produksi konten pada tahun 2013, memulai debut seri pertamanya House of Cards. Pada Januari 2016, ia diperluas ke 130 negara tambahan dan kemudian beroperasi di 190 negara. Netflix menawarkan perpustakaan film dan serial televisi melalui kesepakatan distribusi serta produksinya sendiri, yang dikenal sebagai Netflix Originals.

Per tanggal 31 Maret 2022, Netflix memiliki lebih dari 221,6 juta pelanggan di seluruh dunia, termasuk 74,6 juta di Amerika Serikat dan Kanada, 74,0 juta di Eropa, Timur Tengah dan Afrika, 39,9 juta di Amerika Latin dan 32,7 juta di Asia-Pasifik. Netflix berada di peringkat 115 di Fortune 500 dan 219 di Forbes Global 2000. Ia menjadi perusahaan hiburan terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar pada Februari 2022. Pada tahun 2021, Netflix menduduki peringkat sebagai merek paling tepercaya kedelapan secara global oleh Morning Consult. Selama tahun 2010, Netflix adalah saham berkinerja terbaik di indeks pasar saham S&P 500, dengan return 3,693%.

Baca Juga :  Jasa Raharja Siapkan Sistem Pelayanan Digital Hadapi Natal 2021 & Tahun Baru 2022

Tetapi Netflix sekarang terancam kebangkrutan. Kenapa? Itu gara-gara Amerika ingin memblokade Rusia yang sedang perang dengan Ukraina. Mula-mula Amerika memblokade dolarnya agar Rusia tidak bisa bertransaksi di dunia global, ternyata gagal. Rubel Rusia jadi moncer semenjak perang Ukraina berlangsung, sementara dolar mengalami inflasi parah. Amerika juga memblokade kartu kreditnya, sehingga orang Rusia yang di luar negeri, termasuk di Bali menjual kolor, setelah kartu kredit mereka tidak bisa untuk bayar hotel. Berikutnya, Amerika memblok Netflix di Rusia. Sehingga Netflix kehilangan 70 juta pengguna di Rusia, hal itu membuat keuangan provider itu mengalami perdarahan. Dan sekarang mulai masuk UGD. Strategi Netflix untuk menambal kehilangan pemasukan karena berhentinya pelanggan Rusia adalah mencari pelanggan baru dengan tarif promo. Apakah itu akan berhasil? Mari kita perhatikan tayangan Netflix ke depan.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Keluarga Muslim Illinois Mendapat Penghargaan Sebagai Tetangga Luar Biasa

Jum Mei 27 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | ILLINOIS – Sebagai pengakuan atas upaya luar biasa, kota Morton Grove, Illinois, menghormati keluarga Dr. Sabeel Ahmed dengan “Penghargaan Tetangga Terbaik” dalam sebuah upacara khusus pada hari Senin, 23 Mei 2022. “Sabeel, saya tidak terkejut bahwa saya akan melihat Anda di sini untuk sebuah penghargaan sebenarnya ketika […]